logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 15 November 2002 Budaya  
Line

Sumar Bagyo

Gareng yang Tidak Kintir

SORE hampir hujan di teras Gedung Ki Nartosabdho, TBRS. Laki-laki itu memainkan anak kunci di tangan. Memandangnya dari jarak dekat seperti ini, dan dia tanpa make-up Gareng, saya agak kesulitan mengingat beberapa dagelan yang pernah dia bawakan di panggung.

''Di sini saya Sumar Bagyo. Bukan Gareng,'' katanya, seolah menebak apa yang saya pikirkan.

Laki-laki itu memang Sumar Bagyo. Orang mengenalnya sebagai Bagyo Gareng, Sumar Gareng, atau apa saja pokoknya ada embel-embel ''Gareng''. Dia memang telah identik dengan nama salah satu tokoh punakawan itu.

''Saya belajar memerankan tokoh Gareng sejak tahun 1981. Tapi benar-benar menjadi Gareng ketika Bapak gerah dan akhirnya Bapak meninggal tahun 1986.''

Bapaknya, Sumarno, lebih dikenal dengan nama Marno Sabdo atau Marno Gareng. Dialah pemeran Gareng generasi kedua kelompok Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa. Generasi sebelumnya adalah Darsa Sabda.

''Konsep lawakan saya itu ndagel mikir, bukan kintir (mengikuti arus). Ndagel jenis kedua itu pelakunya hanya bisa melawak kalau ndoyong (minum-minuman keras) dulu. Saya tidak seperti itu,'' tutur laki-laki kelahiran Semarang, 28 Juni 1965, ini.

Pengenalan Bagyo terhadap panggung benar-benar dimulai sejak dia masih bau kencur. Lahir di lingkungan Ngesti Pandawa, bungsu dari 5 bersaudara ini memang segera mengakrabi dunia pertunjukan (wayang orang).

''Hampir setiap malam saya melihat orang-orang Ngesti main. Si Anu menjadi Janaka, Werkudara, atau Bapak membawakan tokoh Gareng. Semuanya telah lekat.''

* * * *

PENGALAMAN ndagel dia mulai sejak kelas IV SD, ketika diajak bapaknya main penthul tembeb dalam sebuah pementasan ketoprak. Konon, sang bapak memberikan teks yang harus dihafal.

''Tapi ketika di panggung, ternyata banyak improvisasi. Bapak bilang, saya punya bakat. Lalu dia menasihati, kalau ndagel jangan saru dan nggasaki teman sendiri,'' kenang Bagyo , murid kesayangan almarhum Ki Nartosabdo.

Peran Gareng diawali di Ngesti Pandawa. Jika kemudian selalu memerankan tokoh itu, jelas bukan tanpa pertimbangan. Terlebih sebelumnya dia memiliki dua pilihan lain: perawit dan penari.

''Akhirnya saya pilih Gareng. Ndagel itu tidak mengenal usia dan tampang. Terus terang, memang ada pertimbangan ekonomi juga.''

Bagyo benar. Tokoh Gareng terbukti lebih peye (laku). Dengan peran itu, dia bisa ditanggap 10-15 kali setiap bulan. Namun bukan berarti dia selalu menghitung pentas dengan angka-angka. ''Saya sering ditanggap tanpa honor dan itu tidak masalah. Pertemanan bagi saya lebih penting dibandingkan dengan uang.''

Sebagai seniman wayang (orang), dia memang telah memiliki kehidupan yang lebih baik: rumah, mobil, anak-anak, dan istri yang cantik. Meski terkadang dia pakewuh karena sering meninggalkan dinas. ''Bagaimanapun, status saya adalah pegawai negeri,'' ujar staf Subdin Kebudayaan Seksi Kesenian Dinas P dan K Jateng ini.

Pilihan selalu memiliki konsekuensi. Termasuk ketika Bagyo harus sering ke luar kota, meninggalkan dua anaknya, Ajrina (7) dan Atalia (5), juga istri tercinta, Sri Wahyuni.

Punya pengalaman pentas yang benar-benar membuat Anda puas dan sangat bergembira? ''Tidak. Mungkin karena saya selalu menyikapi semua pentas dengan wajar. Dunia panggung (dagelan) itu punya banyak ironi. Kalau tidak kuat, bisa terkena stroke. Saya tidak mau seperti itu,'' turur Bagyo.

Pukul 17.30. Langit TBRS mulai gelap. Dia mengatakan ingin membeli sayur untuk berbuka puasa, karena istrinya pergi ke Surabaya. Saya mengangguk. Laki-laki kurus itu pun beranjak menuju Jimny merah. Dari ruang kemudi, dia melambai. (Ganug Nugroho Adi-75)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA