logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 14 November 2002 Sala  
Line

Kaki Mlanjer, Tangan Keju Tak Apa

KERATON SURAKARTA - Demi rasa bakti anak kepada ayahandanya dan hormat kepada seorang ''raja'', sembilan putri dalem yang rata-rata sudah berumur itu kini sedang berlatih keras untuk bisa membawakan tari Bedaya Suka Mulya. Sebab, tarian yang dicipta dan disusun bersama itu akan dipersembahkan atau dipisungsungkan kepada Sinuhun atau Sri Susuhunan Paku Buwono XII, dalam sebuah resepsi peringatan ultahnya ke-80, 26 November ini.

''Ya beginilah salah satu perwujudan rasa hormat kami kepada seorang 'raja', sekaligus rasa bekti kami kepada seorang ayah. Pisungsung kami ini mungkin lebih berharga dibandingkan yang lain,'' tutur GK Ratu Alit kepada Suara Merdeka, saat berlatih di Bangsal Smarakata, kompleks keraton, Jumat malam.

Malam itu, terhitung memasuki latihan keempat dari sejumlah kesempatan yang dijadwalkan untuk berlatih tari Bedaya Suka Mulya. Hingga malam itu, jadwal latihan ditetapkan setiap Rabu dan Jumat malam, tetapi bisa ditambah Minggu siang untuk mengintensifkan penguasaan tari baru tersebut menjelang pergelaran, 26 November.

Sekalipun sudah ditetapkan jadwal latihan, diakui putri tertua Sinuhun itu, tidak semua penari yang ditunjuk bisa mengikuti. Malam itu hanya ada dirinya, ditambah empat adiknya seperti GRAy Koes Soepiyah, GRAy Sapardiyah, GRAy Koes Raspiyah dan GRAy Koes Isbandiyah.

Sedangkan empat penari lain, ada yang sudah mengawali pada jadwal latihan sebelumnya dan ada yang sama sekali belum bisa bergabung. Keempat veteran penari lain yang malam itu tidak hadir adalah GRAy Koes Moertiyah, GRAy Koes Saparniyah, GRAy Koes Indriyah dan GRAy Koes Soewiyah.

''Di antara adik-adik saya yang belum kelihatan, ada yang sudah pernah berlatih tetapi ada yang sama sekali belum bisa bergabung. Ya maklum, karena tinggalnya jauh. Seperti Gusti Moeng (GRAy Koes Moertiyah-Red) dan Gusti In (GRAy Koes Indriyah-Red) tinggalnya di Jakarta,'' tutur GRAY Koes Soepiyah yang dibenarkan GK Ratu Alit dan para veteran penari lain yang malam itu sedang istirahat berlatih.

Meski harus meluangkan waktu dan menempuh perjalanan jauh serta mungkin izin bekerja, menurut GK Ratu Alit dan GRAy Koes sapardiyah, apa yang sedang dikerjakan itu semata-mata untuk meluhurkan nama ayahandanya. Untuk keperluan itu pula, rasa sakit dan mlanjer di kaki, kram dan keju-kemeng di tangan saat berlatih, tidak menjadi soal, karena merupakan bagian dari pengorbanan untuk misungsung sang ayah yang juga ''raja'' di Keraton Surakarta.

Dalam latihan malam itu, penampilan kelima putri dalem memang menampakkan sisa-sisa kemampuannya sebagai penari keraton yang handal, setidaknya pada 25 tahun silam.

Karena, hampir setiap anak Sinuhun merasa dituntut, minimal menguasai tari-tarian koleksi keraton yang dikategorikan bedayan dan srimpen itu.

''Selain para putra dalem yang diharuskan menguasai tarian jenis putra, kamipun begitu. Faktornya banyak. Misalnya, ibu kami semuanya menguasai tari dan selalu mengajarkan kepada kami di rumah,'' ujar salah seorang putri almarhumah RAy Mandayaningrum itu.

Sembilan veteran penari yang yang akan tampil pada resepsi ultah Sinuhun nanti, adalah lahir dari empat ibu di antara enam garwa ampil Sri Susuhunan Paku Buwono XII. Mereka itu, selain almarhumah RAy Mandayaningrum adalah RAy Rogasmara, RAy Pradapaningrum dan RAy Retnodiningrum, yang semuanya pandai menari. (Won Poerwono-74)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA