
| Kamis, 14 November 2002 | Sala |
PKL Akan Pindah ke Luar Pagar
ALUN-ALUN LOR- Sekitar 40 orang pedagang kaki lima (PKL) yang kini tergusur dari Alun-alun Lor sepakat pindah ke luar pagar. Rencana itu mereka lakukan bila pengerjaan proyek revitalisasi tak selesai hingga Lebaran. ''Bagaimana bisa bertahan hidup bila kami harus meninggalkan kawasan dalam Alun-alun Lor? Karena tidak ada alternatif tempat yang diberikan kepada kami, jalan satu-satunya ya pindah ke luar pagar,'' ujar seorang pedagang, kemarin. Bila ada pedagang nekat berdagang di luar pagar jelas akan membuat PKL di sekeliling alun-alun kian banyak. Saat ini sudah ada 50-an pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Kaki Lima Alun-alun Utara (Papklau). Hal itu tentu menimbulkan kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut. Sejak 1 November Dinas Tata Kota (DTK) Pemerintah Kota Surakarta mengeluarkan surat pemberitahuan ke PKL Alun-alun Lor untuk mengosongkan bagian dalam lapangan dan depan Pagelaran paling lambat 5 November. Pengosongan lahan itu berkait dengan pemagaran sekeliling alun-alun sebagai langkah awal revitalisasi. ''Padahal ini kan ramai-ramainya pasar. Menjelang Lebaran biasanya dagangan kami laku keras. Apakah ini bukan membunuh kami? Dari mana kami bisa hidup bila lahan pekerjaan kami ditutup? Dari mana juga kami bisa berlebaran?'' kata seorang pedagang. Ambil Untung Dia menduga kebijakan itu berkait dengan kepentingan Keraton Surakarta yang akan menggelar acara Maleman Ramadan di Pagelaran Keraton Surakarta 15 November - 15 Desember 2002. Pada acara itu keraton menyewakan lahan dalam tiga kategori, di luar (PKL) seharga Rp 600.000/los, Rp 1,1 juta di tempat biasa, dan Rp 1,6 juta di lokasi strategis. ''Keraton seperti ingin menjual los dengan dalih penataan alun-alun. Kalau kami harus menyewa lahan di situ, mana kami kuat? Bahkan untuk harga paling murah sekalipun, kami tak sanggup,'' kata dia. Jalan paling efektif, kata dia, menempati lahan di luar Alun-alun Lor. ''Toh kami juga belum dapat kepastian apakah kelak masih diperbolehkan di dalam alun-alun bila program itu sudah selesai.'' Secara terpisah Ketua Panitia Maleman Ramadan KP Satriyo Hadinagoro membantah pemagaran itu berkait dengan penyewaan lahan di Pagelaran Keraton Surakarta. ''Perlu diketahui, lahan yang kami sewakan sudah habis dipesan sejak dua minggu lalu. Ngisin-isini bicara masalah kayak gitu. Lagi pula program itu bukan dari keraton, melainkan Pemerintah Kota Surakarta yang didanai APBN. Seharusnya kita senang, kok malah protes. Itu pasti dari luar Solo, bukan warga Solo asli,'' kata menantu PB XII, Raja Keraton Surakarta, itu. Pemagaran Alun-alun Lor yang dimulai sejak Minggu (10/11) lalu, kemarin belum selesai. Pengerjaan dilakukan di tempat sepi PKL untuk menghindari konflik. Namun pekerja dan keraton yakin tidak akan terjadi perlawanan di kalangan pedagang. Selain telah diberi pengertian, sebagian besar mereka menyadari betapa penting penataan kawasan itu. ''Untuk tempat yang masih dihuni PKL kami lembur. Kalau mereka sudah laut (tutup-Red), baru tempat itu kami pagari. Jadi nggak mungkin ada perlawanan,'' kata Mulyono, salah satu karyawan yang siang kemarin memagari dengan bambu. Diperkirakan, pemagaran selesai minggu depan. Setelah itu proyek yang didanai APBN Rp 2,5 miliar itu harus selesai pertengahan Desember 2002. ''Proyek diharapkan selesai pada pertengahan Desember 2002. Kalau masalah PKL boleh masuk kembali ke Alun-alun Lor apa enggak kami nggak tahu. Soalnya DTK hanya mengurusi masalah perencanaan desain dan pelaksanaan proyek,'' kata Masrin Hadi, Ketua DTK Pemerintah Kota Surakarta. (G13-51g) |