
| Kamis, 14 November 2002 | Sala |
Hujan Pertama di Boyolali Menelan Korban JiwaKEMATIAN Karmin (49), penduduk Dukuh Gagan, dan Supardi (70), penduduk Dukuh Glingang Desa Kendel Kecamatan Kemusu, Boyolali awal November lalu begitu mengenaskan. Mereka, saat bersama warga desa lain berteduh di pohon dekat makam, tanpa diduga tertimpa cungkup dan terjeblos ke dalam lubang. Akibat lukanya yang cukup parah, kedua warga itu akhirnya meninggal. Musibah yang menimpa Karmin dan Supardi yang tinggal di kawasan Waduk Kedungombo itu, merupakan bukti keganasan hujan disertai angin kencang yang merupakan kejadian kali pertama pada akhir musim kemarau. Hujan deras disertai angin kencang itu memang tidak mengenal kompromi. Meski sudah berteduh di tempat yang dinilai aman, musibah akhirnya datang juga. Kedua korban itu bersama warga desa lain sebelumnya melakukan bersih kubur. Sudah menjadi tradisi menjelang Ramadan, warga Desa Kendel dan desa lain di kawasan Kedungombo ziarah kubur. Saat berangkat dari rumah, udara cerah dan cuaca benar-benar bersahabat. ''Karena itu saya memutuskan berangkat ke kuburan,'' kata seorang warga. Biasa Terjadi Menjelang sore cuaca menunjukkan gejala yang tidak menyenangkan. Kemudian warga memutuskan pulang. Sesampai di perjalanan hujan deras disertai angin kencang. Kemudian mereka memutuskan berteduh di sekitar makam. Tetapi nasib berbicara lain. Karmin dan Supardi menjadi korban keganasan hujan dan angin. Kabag Sosial Drs Lastiyadi mengatakan, hujan pertama setelah musim kemarau memang harus diwaspadai. Berdasarkan data dan pengalaman tahun sebelumnya, sedikitnya ada tujuh kecamatan yang dikategorikan rawan bencana tanah longsor. Antara lain Kemusu, Selo, Cepogo, Ampel, Juwangi, dan Karanggede dan Wonosegoro. Pada daerah yang rawan tanah lonsor itu angin bertiup kencang. Menurut Camat Kemusu Agus Suparmanto SH, desa-desa di wilayahnya memang rentan bencana alam. Sebab, sebagian besar daerah terbuka dan kondisi tanah gembur. Hujan deras yang disertai angin kencang sangat berbahaya untuk daerah terbuka. Salah seorang warga Boyolali, Suratno, mengatakan, sepanjang yang diketahui sejak bertahun-tahun hujan kali pertama setelah musim kemarau biasanya menimbulkan bencana. Setidaknya, rumah roboh dan genting beterbangan. Kejadian itu juga terjadi di kawasan kota. Dia ingat betul kejadian tahun 2001. Papan reklame, tiang listrik dan pepohonan di Kecamatan Boyolali tumbang. ''Saya sendiri tak tahu kenapa hujan pertama pasti mendatangkan musibah,'' tandasnya. Apa yang dikemukakan Suratno tampaknya benar. Hujan pertama setelah musim kemarau mengakibatkan tujuh rumah di Desa Bawu, Kecamatan Kemusu, dan sepuluh rumah di Desa Bade Kecamatan Klego, roboh. (Suti Harjoyo-14k) |