logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 14 November 2002 Sala  
Line

Bertahan dari Tekanan Bank Plecit

SIANG itu lalu lalang orang di tangga Pasar Klewer timur tak dihiraukan kedua nenek-nenek yang duduk di trap tangga itu. Wajah keriput keduanya tampak kosong menekuri tumpukan kain batik di ujung bawah tangga.

Kadangkala mereka menyapa seseorang yang tengah naik ke lantai dua, tapi lebih banyak mereka bergeming seraya menyandarkan tubuh renta itu ke dinding tangga.

Tumpukan kain batik di depan mereka terlihat aneh di situ. Pasalnya, mencari beragam pakaian terutama jenis batik, bukan hal sulit di dalam Pasar Klewer. Ratusan kios menyediakan, bahkan dalam tatanan yang lebih rapi. Dalam situasi demikian apa yang menarik dari mereka?

Kain batik tulis yang mereka jual selain batik cetakan, boleh jadi sebuah daya tarik tersendiri. Bukankah Solo yang dikenal sebagai sentra batik tulis sekian lama telah kehilangan pamor dan pelakunya? Apalagi di lingkungan pasar tekstil itu, orang seperti mereka dapat dihitung dengan jari sebuah tangan.

''Ini Latar Ireng Srikaton. Yang itu Latar Ireng Wiwaha. Cuma Rp 100.000 lo Nak,'' ungkap Mulyodiharjo (75) menawari Suara Merdeka yang mendekati tempat mereka. Nenek satunya lagi, Hadisuparti (70), ikut menimpali dengan cara yang sangat persuatif. ''Oh jenis itu sudah jarang lo. Kalau yang cap-capan paling mahal Rp 20.000.''

Saat dipancing dengan pernyataan, ''Wah inggih, samenika pun mboten wonten ingkang purun mbatik tulis lo Mbah,'' buru-buru keduanya menandaskan, ''Leres niku.''

Keduanya dengan saling meningkahi lalu bercerita panjang mengenai usaha mereka berjualan kain batik secara oprokan di Pasar Klewer. Sudah ada setengah abad mereka menggantungkan hidup dari usaha itu.

''Saya sejak pasar ini belum ada ikut menjajakan kain di pinggir jalan. Karena itu pasar ini disebut Klewer, pathing klewer. Ya, saya ngalami kok,'' tutur Mulyodiharjo.

Dan setengah abad seolah-olah tak membuat mereka berubah. Nasib baik menjadi pemilik kios seolah-olah tak dinikmati keduanya. Seolah-olah keduanya menjadi pelaku yang tersisa dari sekian banyak penjaja pakaian yang pathing klewer di pinggir jalan, jauh sebelum Pasar Klewer semegah sekarang.

Pasrah

Akan tetapi, keduanya tak menyesali ketiadaan perbaikan nasib. Mereka begitu pasrah. Juga selama dua bulan, tak satu pun orang membeli barang dagangannya.

''Sudah biasa Nak, satu bulan ramai dua bulan berikutnya kosong. Sehari hanya mendapat untung Rp 1.000 - Rp 2.000 sudah biasa,'' ujar Hadisuparti sembari menekankan, dirinya yang tinggal di Timuran Solo itu sering tombok untuk ongkos becak pergi pulang.

''Witikna wis tuwa, untung rong ewu, ya dibetah-betahke,'' ujar Mulyodiharjo yang mengeluhkan hal serupa. Dia bahkan harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk ongkos becak. Rumahnya di Ngepungan, Solo cukup jauh ke pasar.

Seringnya tombok itu pula yang membuat keduanya harus memasrahkan diri pada para tukang kredit yang berjumlah puluhan di lingkungan pasar. Mereka yang dijuluki bank plecit mematok bunga sangat tinggi hingga 20% dan harus dibayar setiap hari.

Bahkan, keduanya mengaku meminjam uang tidak hanya pada satu bank plecit. ''Saya pinjam pada dua orang, Mbah Mul itu malah lima orang,'' jelas Hadisuparti dengan nada datar. Yang disebut membalas, ''Ya terpaksa. Kalau ndak pinjam, bagaimana bisa kulakan kain? Apalagi uang itu sering dibutuhkan untuk nempur (membeli beras-Red).'' Dan, walau beban bunga itu dirasakan sangat mencekik, ternyata mereka mengaku bisa bertahan lantaran ''kemurahan'' para pemungut bunga besar itu.(Saroni Asikin-42j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA