
| Kamis, 14 November 2002 | Sala |
LHA ... IKIIya Kalau Dikubur....PRO-kontra pendapat soal pengavelingan tanah kuburan untuk pamijen Wali Kota Surakarta Slamet Suryanto menarik perhatian Ketua DPRD Bambang Mudiarto. Namun ketika berkali-kali ditanya wartawan apa komentarnya tentang pamijen Wali Kota di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bonoloyo, Kadipiro, itu Bambang enggan menjawab. ''Mbok ditanya terus, saya tak mau komentar soal itu,'' kata dia, berulang-ulang. Kenapa? ''La iya, orang mau mencari tempat untuk mati saja kok dikomentari. Ya, biarkan saja.'' Terlepas dari sorotan banyak pihak mengenai berita pamijen Wali Kota, lelaki kelahiran Solo, 12 Desember 1950, itu berpendapat seseorang tak perlu membuat pamijen untuk kuburan sendiri. Sebagai makhluk Tuhan, manusia tak bisa menentukan kapan mati, di mana, sedang apa, dan dikubur di mana. ''Iya, kalau saat mati nanti dikubur di pamijen yang sudah disiapkan. Kalau tidak, bagaimana? Lalu bagaimana jika mati akibat pesawat terbang yang ditumpangi jatuh, kemudian jasadnya tidak ditemukan? Kan akhirnya pamijen itu tak bisa digunakan untuk mengubur diri sendiri,'' kata dia. Kalau tidak perlu, bagaimana sebaiknya tindakan pemerintah atas pamijen-pamijen di Solo, termasuk kaveling makam Wali Kota? Lagi-lagi Bambang tak bersedia menanggapi panjang lebar. ''Soal pamijen, Ibu Wali Kota (Ny Endang Slamet Suryanto-Red) kan sudah memberikan alasan begini-begitu. Demikian juga Sekda Qomaruddin. Saya kira sudah cukup banyak yang berkomentar. Jadi saya tak perlu menambahi.'' Atau jangan-jangan suami Ny Sri Rahayu itu punya pamijen, sehingga enggan komentar? ''Wah, buat apa saya cari pamijen. Tak perlu ada kaveling kuburan untuk mengubur Ketua DPRD nanti. Lagi pula iya kalau saya mati nanti lalu dikubur? Kalau saya besok moksa seperti Brawijaya, kan tidak ada yang tahu di mana jasad saya? Jadi kenapa mesti ribut membuat pamijen,'' ujar bapak tiga anak itu.(Setyo Wiyono-51g) |