
| Kamis, 14 November 2002 | Berita Utama |
Catatan Studi di United Kingdom (3-Habis)
Stan Ondel-ondel dan "Miss" Indonesia
SEORANG teman dari Bandung suatu kali mengirim e-mail dan meminta masukan soal kurikulum program studi jurnalisme di Inggris. ''Untuk memperkaya bahan karena saya akan workshop penyusunan kurikulum program studi di fakultas kami,'' tulisnya. Permintaan itu menggelitik saya untuk menelisik kembali, apa sih yang sesungguhnya menjadi keunggulan perguruan tinggi di negara-negara yang katanya maju itu, sehingga membuat jutaan warga internasional berlomba-lomba masuk? Karena saya mengambil program studi Political Communication di bawah Department of Journalism Studies, tentu saja komentar saya hanya sebatas pada bidang ilmu sosial ini. Soal fasilitas pendukung dan materi kuliah tentu sudah jelas. Kekuatan finansial menjadikan perguruan tinggi di negara maju kaya resources: ruang komputer yang lengkap, akomodasi yang terjamin, perpustakaan lengkap, akses ke ribuan jurnal (cetak dan elektronik), serta layanan administrasi yang cepat dan efisien. Masalah ini agaknya masih sebatas harapan kita. Tetapi, setidak-tidaknya ada satu hal yang bisa menjadi bahan renungan: kultur akademik yang demokratis. Mahasiswa yang hadir tidak diharapkan sebagai orang-orang yang hanya patut diceramahi, tetapi menjadi bagian dalam proses pembentukan acade-mic discourse. Beberapa minggu setelah menjalani perkuliahan, beberapa dari kami mempertanyakan isi diskusi yang terlalu British, sementara kelas kami lebih internasional; ada rekan dari Latvia, Meksiko, Taiwan, Hong Kong, dan Bahrain. Menghadapi keberatan ini, module leader kuliah kami tidak segan untuk mendiskusikan isu yang lebih internasional. Meskipun tidak terlalu memuaskan, karena dia tidak paham konteks di luar Inggris, setidak-tidaknya kemauan itu menunjukkan keterbukaan akademis yang demokratis dan kebebasan berpikir.
Rekan saya, Sucipto Hadi Purnomo, yang sedang menempuh studi magister di sebuah universitas negeri di Semarang mengatakan, kultur akademik itu sebenarnya sudah berkembang dalam masyarakat akademik Indonesia. Hanya, "Bagaimana mengharapkan ada demokratisasi akademik kalau akses informasi bagi mahasiswa sangat terbatas, sarana dan prasarana serba kurang? Ini menjadi semacam lingkaran setan," kata dia. Kalau kemudian dosen menjadi "diktator" bagi mahasiswanya, tambah dia, itu memang dibutuhkan. Berburu Buku Program studi yang ketat memang melelahkan dan tidak jarang membuat jemu. Namun, untunglah, banyak jalan membunuh kejemuan. Jalan-jalan dan wisata bisa sangat panjang kalau ditulis. Namun, berburu buku murah adalah salah satu cara saya membunuh rasa jemu dan sepi karena meninggalkan keluarga di Tanah Air. Untuk buku-buku kuliah, London adalah lahan perburuan yang mengasyikkan. Di sepanjang Charing Cross, Central London ada banyak toko buku bekas dengan harga miring. Buku-buku paper back kebanyakan berharga 15 poundsterling ke atas, dan bisa diperoleh dengan harga separonya. Buku-buku klasik macam karya Jaques J Rousseau, Theodor Adorno, Sigmund Freud, dan Sartre bisa diperoleh dengan harga di bawah 5 poundsterling. Namun, buku-buku terbitan baru dengan harga miring lebih banyak tersedia di Judd Bookshops, Marchmond Street, kurang lebih 200 meter dari tube station (stasiun kereta bawah tanah) Russels Square, Central London. Toko buku menjadi tempat favorit saya dan sesama Chevening Scholars. Kalau ada buku teks terbitan baru dari penulis bagus, jarang bertahan lebih dari dua hari di rak buku. "Jadi, harus rajin-rajin menengok tiap hari," kata Akhmad Rizal, mahasiswa School of Oriental and Asian Studies (SOAS) London, yang hampir tiap hari mampir ke toko ini. Kami betah berjam-jam memeriksa rak demi rak mencari buku-buku teks terbaru. Kalau sudah ketemu buku, kami lupa diri dengan allowance yang pas-pasan. Selain buku, berkumpul bersama teman Indonesia bisa membuat "gila". Barangkali saking judheg-nya dengan kuliah, pernah kumpulan Indonesia ini "menggelar" repertoar Indonesia di dapur asrama Arief Anshori, mahasiswa UCL, London. Dari dangdut sampai lagu tahun 1970-an, dari Kla sampai Tasya, semua meluncur dari mulut kami sampai pagi! Arena Budaya Tetapi, ada arena resmi untuk menampilkan budaya Indonesia kami. Yang lumayan nyeleneh adalah acara pemilihan Miss University di Sussex University, Brighton, dalam rangka peringatan Women's Day. Tapi, jangan kaget, pesertanya adalah mahasiswa pria yang berdandan perempuan dan berlenggak-lenggok di panggung. Berpakaian kebaya cantik, "miss" dari Indonesia, Rudyanto, tampil meraih penghargaan. Kayaknya, penampilan dari Indonesia memang menarik perhatian juri internasional. Arena budaya yang "normal" juga ada. Kebetulan, University of Sheffield punya dua acara tahunan bagi mahasiswa internasional, yakni International Food Evening Festival dan Cultural Evening. Food Evening Festival adalah ajang festival makanan dari berbagai negara, dan mahasiswa Indonesia menampilkan stan dengan tema Ondel-ondel Betawi plus aneka makanan seperti pisang goreng, sate kambing, dan nasi uduk saat festival November 2001. Selain berkesempatan menampilkan Indonesia di hadapan ribuan pengunjung dari berbagai negara, aktivitas ini adalah selingan tak terlupakan bagi teman-teman karena paling tidak, ada sedikit kesempatan memperkenalkan negeri sendiri. Penghargaan sebagai stan terbaik agaknya masih membuktikan bahwa Indonesia adalah "Hmmmmm, amazing," kata Sanita Jemberga dari Latvia. "Saya suka makanan Indonesia dan minta Maria (teman dari Indonesia) menuliskan resep-resepnya untuk saya," kata dia, beberapa hari sebelum pulang ke negaranya. Masih terbayang dalam ingatan wajah-wajah ekspresif teman-teman dari belahan Barat ketika mendapati hal-hal dan cerita Indonesia's amazing macam itu. Sayang, ketika menginjakkan kaki di Tanah Air, "hantu terorisme" nyaris menenggelamkan kenangan itu. "Kau tahu, Gun, sangat mudah (media) memanipulasi opini publik tentang negeri atau situasi mana pun yang tidak kami kenal," kata Birks, dalam e-mail-nya kepada saya beberapa hari lalu mengomentari peristiwa ledakan bom Bali. Oh, saya harus kembali ke alam sadar bahwa "negeri besar" ini sedang terseret tak berdaya dalam "perang wacana" melawan terorisme.(Goenawan Permadi-52t) | |||||