
| Kamis, 14 November 2002 | Berita Utama |
Warga Selamatkan KA Dwipangga
BANYUMAS - Satu rangkaian Kereta Api (KA) Eksekutif Argo Dwipangga Jurusan Solo-Jakarta, nyaris menabrak tanah longsor yang menimbun rel KA di Desa Krajan Kecamatan Pekuncen, Rabu dini hari kemarin. Berkat keberanian tujuh warga Gunung Barang Kidul menghentikan kereta itu, 400 penumpang di dalam delapan rangkaian gerbong selamat. Ketujuh warga tersebut menghentikan KA dengan melambai-lambaikan obor, ketika sebuah jembatan tertimbun batu dan pepohonan yang longsor. ''Kereta menerjang sebuah kayu besar sebelum berhenti di timur jembatan,'' ujar Taufik dan Rudi, warga setempat. Seluruh penumpang KA tersebut selamat, tanpa cedera apa pun. Dengan menggunakan sorot lampu lokomotif, warga dan petugas KA menyingkirkan tumpukan itu. ''Baru sekitar pukul 05.00 KA dapat berjalan lagi,'' kata Kepala Desa Krajan Slamet Abdul Azis. Kepala PT KAI Daerah Operasi V Purwokerto Jusman Manurung mengatakan waktu kejadian KA Argo Dwipangga dengan 400 penumpang akan melintas jembatan di desa itu . Dia menjelaskan, akibat longsoran itu, rel sepanjang 200 meter tertutup tanah pada km 362+700. Jembatan KA di lokasi longsor tertutup pepohonan dan batu. Akibatnya, 11 perjalanan KA terlambat sekitar 2,5 jam.
Sebelas KA itu adalah, KA Jayabaya Selatan tertahan di Stasiun Legok, KA Gajayana, dan Bima di Karang Gandul. KA Sawunggaling dan Argolawu di Petuguran, KA Senja Utama Yogya, dan Taksaka di Bumiayu, KA Senja Utama Solo di Linggapura, dan 2 KA Barang tertahan di Prupuk dan Purwokerto. Hujan Deras Kepala Desa Krajan menjelaskan, hujan deras mengguyur desanya sejak Selasa sore. Hujan itu membuat bukit Merca di atas Desa Krajan longsor. ''Longsoran sepanjang 2 kilometer mengikuti aliran Kali Guntur. Selain membawa batu dan pepohonan, longsoran menutup sawah, rumah, dan jembatan KA,'' jelasnya. Saksi Rudi Wahono (25) warga Gunung Barang Lor menambahkan, sekitar pukul 23.30 terdengar suara gemuruh seperti pesawat terbang lewat. Dia yang sedang di Musala Al Muslimin (50 meter dari lokasi) terkejut. Karena suara tersebut ternyata lumpur, air, dan batu yang menggelinding dari atas. Sekitar 45 menit kemudian, warga Grumbul Gunung Barang Kidul terbangun karena suara gemuruh itu. Sebuah jembatan KA penuh dengan tumpukan batu dan pohon tumbang. Warga yang hafal waktu KA lewat, segera menyiapkan obor. Ketika KA yang akan lewat datang, warga melambai-lambaikan obor untuk menghentikannya. Meski penumpang KA terselamatkan, warga mengalami kerugian besar. Antara lain, empat rumah rusak berat. Tanaman padi siap panen seluas 15 hektare musnah tertimbun longsoran. Ratusan tanaman keras tumbang, tiga tiang listrik hilang dan lima yang lain roboh. Akibatnya, listrik di dua grumbul itu hingga kini masih padam. Kerugian lain, kolam ikan dan ternak penduduk ikut hanyut. Sebuah jembatan dan jalan sepanjang 30 meter yang menghubungkan Desa Krajan dengan Pekuncen terputus total. (G17-47,60e) | |||||