logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 14 November 2002 Berita Utama  
Line

Peralon Itu untuk Saluran Air

LAMONGAN-Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islam Ustaz Zakaria menyatakan, di pesantrennya memang banyak peralon. Tapi, peralon tersebut tak dipergunakan untuk menyimpan senjata dan amunisi sebagaimana penemuan petugas kepolisian atas senjata dan amunisi milik Amrozi di hutan Dadapan Lamongan.

"Peralon itu untuk saluran pembuangan tinja, kencing, dan air, bukan untuk menyimpan senjata api atau amunisi. Jadi, memang banyak peralon di pesantren ini," kata Ustaz Zakaria saat menjawab pertanyaan wartawan di Pondok Al-Islam Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Rabu (13/11).

Penegasan itu disampaikan Ustaz Zakaria setelah polisi dalam penggeledahan di pondoknya Selasa (12/11) menemukan peralon sepanjang sekitar 98 sentimeter. Ukuran peralon tersebut sama persis dengan ukuran peralon yang ditemukan polisi untuk menyimpan senjata api dan amunisi milik Amrozi di hutan Dadapan Lamongan.

"Ya itu, peralon di pesantren itu untuk aliran tinja, kencing, dan air. Bukan untuk kepentingan lainnya," jelasnya. Ustaz Zakaria yang asli Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini baru kembali ke Pondok Al-Islam hari Rabu (13/11) dini hari, tepatnya sekitar pukul 02.00 dari Bali. Alumnus Pondok Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Solo, itu menyatakan mungkin saja peralon yang ditemukan polisi merupakan milik Amrozi atau Ali Imron dan Ali Fawzi yang dibawa ke lingkungan pondok.

"Mungkin saja Amrozi atau adiknya (Ali Imron dan Ali Fawzi) yang membawa ke pondok," tambahnya. Mengenai keberadaan Ali Imron, Ali Fawzi, dan Mubarroq-tiga nama yang dicari polisi dalam kaitan kasus Amrozi- Ustaz Zakaria mengaku tak tahu mereka berada di mana dan sampai sekarang belum ada kontak dengan mereka. Ustaz Zakaria mengakui ketiga orang tersebut adalah staf di Pondok Al-Islam. "Pak Ali Fawzi itu biasanya mengajar Bahasa Arab, karena kemampuan bahasanya sangat bagus," ujar seorang santri.

Mengenai hubungan Amrozi dengan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, Ustaz Zakaria menyatakan, sebagai ulama besar tentu saja Ustaz Abu Bakar Bas'ayir dikenal banyak orang, apalagi si pengenalnya sangat mengagumi visi dan misi Ustaz Abu Bakar Ba'asyir. Tapi, tambahnya, belum tentu Ustaz Abu mengenal Amrozi secara pribadi.

"Makanya, sampai sekarang saya tak pernah percaya bahwa Ustaz Abu terlibat dalam kasus bom Bali. Lha wong berjalan saja sulit kok," katanya. Mungkinkah Ustaz Abu memberikan restu kepada Amrozi untuk mengebom Bali?

"Menurut saya sih tidak. Insya Allah tak ada hubungan Ustaz Abu dalam kaitan kasus Amrozi ini," tandasnya.

Selama 4 hari berada di Bali untuk kepentingan pemeriksaan sebagai saksi dalam kaitan kasus Amrozi, Ustaz Zakaria menyatakan, tak pernah bertemu secara face to face dengan Amrozi. Kali pertama pergi ke Bali, semangatnya untuk bertemu Amrozi guna klarifikasi mengenai disebut-sebutnya nama pondoknya dalam kasus bom Bali sangat tinggi. Tapi, setelah tahu Amrozi mengakui semua perbuatannya dan dia tahu bukti-bukti konkret atas keterlibatan Amrozi, maka semangatnya untuk bertemu Amrozi jadi kendur.

"Tak ada gunanya, karena Amrozi telah mengakui semua perbuatannya. Selain itu, beberapa barang bukti telah ditemukan petugas, seperti jok mobil L300 yang dipergunakan untuk mengangkut bom, penjual bahan kimia di Surabaya (Tendean) yang telah dijadikan tersangka, dan pengakuan Amrozi secara lisan," ujarnya.

Ditanya mengenai motif Amrozi mengebom Bali? Ustaz Zakaria menyatakan, dia cuma geram terhadap kebijakan Pemerintah Amerika Serikat terhadap rakyat Dunia Islam. Karena itu, Amrozi mengaku menyesal setelah tahu yang banyak menjadi korban dari aksinya itu adalah warga Australia dan Indonesia. "Jadi, motifnya cuma geram saja pada Amerika Serikat," katanya.

Melalui petugas reserse Polda Bali yang menyidik kasus Amrozi, Ustaz Zakaria sempat mengirim pesan apa yang ingin disampaikan Amrozi kepada keluarganya di Tenggulun, Solokuro, Lamongan. "Amrozi menyatakan ingin dijenguk istrinya (Choiriyana Khususi-yati). Selain itu, dia meminta maaf kepada keluarganya di Tenggulun. Itu saja," katanya.

Terkait dengan penemuan peralon di lingkungan pondok, kemarin Kaditserse Polda Jatim Kombes Pol Ade Rahardja sempat mengunjungi Pondok Al-Islam.

Dengan mengenakan kemeja putih dan celana hitam, mantan Kaditserse Polda Jateng ini blusukan ke bagian belakang sisi barat Pondok Al-Islam.

"Kami ingin mengecek peralon itu kemarin ditemukan di mana dan sekarang masih dalam pemeriksaan petugas," katanya singkat. Mengenai isu penangkapan 3 santri Pondok Al-Islam dan Ali Fawzi yang kemarin berembus keras di kalangan wartawan, Kaditserse cuma menyatakan, "Belum, belum tahu. Kita cuma ngecek peralon kok." Selama berada di lingkungan Pondok Al-Islam, ke mana pun Kaditserse dan anggota rombongannya bergerak, mereka selalu dikuntit wartawan.

"Wah kalau gini nggak bisa bekerja," katanya. Bagaimana komentar keluarga Amrozi? Melalui saudaranya, HM Khozin, diperoleh keterangan bahwa sampai sekarang belum ada rencana keluarga Amrozi di Tenggulun untuk menjenguk yang bersangkutan di Bali.

"Keluarga belum ada rencana menjenguk ke Bali, kita lihat kondisinya mendatang," katanya. Dia menambahkan, persoalan Amrozi dan Pondok Al-Islam telah diserahkan kepada Tim Pembela Muslim (TPM) Jatim. Khozin mengaku telah menandatangani surat kuasa yang menegaskan dia menyerahkan persoalan yang dihadapinya kepada TPM.

Pengacara TPM telah dua kali datang ke rumahnya, yakni pada tanggal 8 November dan 11 November 2002. "Pondok juga butuh TPM, tapi tolong dipilah-pilah antara kasus Amrozi dan institusi Pondok Al-Islam," tuturnya.

Kepada pengacara TPM, Khozin telah menyampaikan informasi dan berkas surat penangkapan Amrozi, surat tanda terima barang-barang Amrozi dan pondok yang disita petugas sebagai barang bukti.

"Prinsipnya, atas nama keluarga, kasus ini telah kami serahkan kepada TPM," tegasnya. Mengenai perasaannya setelah adiknya dijadikan kasus bom Bali, Khozin mengatakan, pada awalnya dia tak percaya adiknya terlibat kasus besar tersebut. Karena itu, dia sangat terkejut ketika adiknya mengakui semua perbuatannya. Katanya, dari hari ke hari perkembangan kasus ini menunjukkan bahwa Amrozi benar-benar terlibat. "Ya itulah kenyataannya." (ro-60t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA