logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 14 November 2002 Berita Utama  
Line

Pertamina Minta Harga BBM 15% di Atas MOPS

JAKARTA- Pertamina belum mendapat keuntungan bila penetapan harga jual BBM masih menggunakan pola perhitungan saat ini, yakni Mid Oil Platt Singapore (MOPS) plus lima persen. Karena itu, Dirut Pertamina Baihaki Hakim mengajukan usul agar pada 2003 perhitungan harga BBM diubah menjadi MOPS plus 15%.

Hal tersebut diungkapkan Baihaki sebelum mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Jakarta, Rabu (13/11).

''Dengan harga baru MOPS ditambah 15%, otomatis harus ada peninjauan kembali terhadap harga batas atas dan batas bawah dari yang ditetapkan pemerintah tahun ini, misalnya untuk premium Rp 1.750 per liter (atas) dan bawah Rp 1.450 per liter,'' jelas Baihaki.

Dia mengatakan, dengan perubahan tersebut diharapkan pada 2003 Pertamina akan mendapatkan margin dari pengusahaan BBM sebesar lima persen.

Selain perubahan perhitungan harga BBM, mereka mengusulkan agar harga minyak tanah untuk masyarakat dan industri kecil yang saat ini ditetapkan Rp 600 per liter ditinjau kembali. Alasannya, dengan kebijakan harga seperti itu disparitas harga minyak tanah dengan BBM jenis lain makin lebar. Dan jika ini diteruskan akan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan.

Timbulkan Dilema

Menteri Energi pun mengakui, kebijakan harga minyak tanah untuk rumah tangga selama ini menimbulkan dilema. Di satu sisi harga minyak tanah sensitif terhadap ekonomi rakyat. Namun di sisi lain subsidi menimbulkan kesenjangan harga dengan BBM lainnya.

''Akibat harga minyak tanah yang terlalu rendah, permintaannya selalu naik karena ternyata BBM ini dipakai nelayan dan industri yang semula tidak menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar,'' kata Purnomo.

Meskipun tahu mesin industri dan motor tempel nelayan tak cocok dengan minyak tanah dan berdampak pada berkurangnya umur mesin, mereka menggunakan kesempatan itu untuk memperoleh keuntungan jangka pendek dengan mengubah bahan bakarnya menjadi minyak tanah.

''Akibatnya, banyak mesin yang rusak karena tidak cocok berbahan bakar minyak tanah,'' ujarnya.

Karena itu, dia sependapat, perubahan kebijakan harga BBM mutlak dilakukan. Apalagi subsidi pada 2003 berkurang sangat drastis, yaitu sekitar 52 persen dari Rp 32 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 14,5 triliun tahun ini.

Menurut Purnomo, berkurangnya subsidi itu dipengaruhi oleh asumsi harga minyak mentah yang dipatok 22 dolar per barel, nilai tukar Rp 9.000 per dolar AS, dan volume penjualan BBM 60,5 juta kiloliter. (A20-31t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA