logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 14 November 2002 Berita Utama  
Line

Imam dan Idris Dalang Bom Bali

TAK DIBORGOL: Untuk pertama kali selama ditahan di Mapolda Bali, kemarin Amrozi, tersangka kasus peledakan bom Bali, diizinkan dipotret oleh para wartawan. Dia diambil gambarnya seusai diinterogasi Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar. Dalam kesempatan itu borgol di tangan Amrozi dilepas. (Foto: Suara Merdeka/rtr-15)

DENPASAR - Imam Samudra dan Idris disebut-sebut sebagai 'dalang' sekaligus penyandang dana dari aksi peledakan bom di Legian Bali, 12 Oktober lalu. Imam Samudra alias Khudama dan Idris, terungkap pula sebagai orang yang memimpin pertemuan dan perencanaan aksi peledakan yang untuk kali pertama dilakukan awal September lalu di sebuah warung di daerah Pagelan Solo, yang dihadiri tersangka Amrozi dan temannya Martin.

Demikian diungkapkan salah seorang tersangka pelaku pengeboman di Legian, Amrozi, saat melakukan dialog dengan Kapolri Jenderal Pol Drs Da'i Bachtiar, di markas Polda Bali di Denpasar, Rabu petang.

Menurut Kapolri, Amrozi mengaku bahwa setelah pertemuan pertama di daerah Pagelan, pertemuan berikutnya dilakukan di Pasar Klewer Solo, dilanjutkan salat bersama di Masjid Agung Solo.

Dari petemuan kedua yang juga dihadiri Imam Samudra, Idris, Martin dan Amrozi itu, disepakati mengenai sasaran pengeboman, yakni di daerah Legian Kuta, Bali. Komunikasi berikutnya antarmereka dilakukan melalui SMS (penyampaian pesan tertulis melalui handphone).

Selanjutnya, beberapa hari kemudian, Idris me-ngirim uang kepada Amrozi di Lamongan, Jatim, sebesar Rp 50 juta untuk pendanaan rencana peledakan tersebut.

Uang yang diserahkan tidak hanya dalam pecahan rupiah, tetapi juga dalam bentuk dolar AS, dolar Singapura dan ringgit Malaysia.

Kapolri menyebutkan, uang yang dari Idris itulah oleh Amrozi kemudian dipakai membeli bahan-bahan kimia untuk 'ramuan' membuat bom. Bahan dibeli dari toko Tidar Kimia di Surabaya, milik Silverter Tendean.

Bahan peledak yang dibeli dari toko tersebut, kemudian oleh Amrozi diangkut menggunakan mobil L-300 miliknya dari Lamongan ke Bali.

Setelah itu, kata Da'i Bachtiar, mereka melakukan pertemuan sejak 6 Oktober lalu secara berturut-turut di sejumlah tempat di Bali. Di Pulau Dewata itu, selain dengan Imam Samudra dan Idris, Amrozi juga mengaku bertemu dengan dua 'pemain' baru, yang keduanya mengaku bernama Umar.

Saat di Bali pula, Amrozi mengaku mendapat perintah membeli sepeda motor untuk kepentingan aksi peledakan tersebut. Ia juga mengaku pekerjaan berikutnya adalah merakit bom dengan sejumlah temannya.

Sesudah itu, Amrozi mengaku tidak tahu apa-apa lagi, karena harus kembali ke Lamongan, dan baru mengetahui bom telah meledak pada 12 Oktober 2002, keesokan harinya.

"Saya baru tahu bom telah meledak di Bali pada tanggal 13 Oktober 2002, setelah mendengarkan siaran radio di rumah," ujar Amrozi seperti yang ditirukan Kapolri.

Ditanya tentang kesan tersangka sesudah mendengar bom telah meledak dengan korban yang sangat banyak, Kapolri mengatakan, Amrozi mengaku bersyukur karena misinya telah kesampaian.

Amrozi juga sempat mempertanyakan kenapa wajahnya bisa muncul dalam sketsa, sedang ia sendiri mengaku tidak ikut pada saat-saat peledakan bom?.

Atas pertanyaan itu, Kapolri menjawab, "Sketsa wajah anda dibuat dan diketahui saat anda membeli sepeda motor di Bali."

"Wah pinter juga polisi," sahut Amrozi, seperti yang ditirukan Da'i Bachtiar sambil tersenyum.

Kapolri mengungkapkan, hingga kini pihaknya baru berhasil menangkap tersangka Amrozi dalam kasus bom Bali, sehingga sejumlah nama yang disebut-sebut itu masih dalam upaya pelacakan dan pemburuan petugas.

Untuk pengusutan lebih lanjut, Amrozi yang ditangkap petugas di rumahnya di Solokuro, Desa Tenggulun, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kini ditahan pihak tim investigasi kasus peledakan bom Bali di Denpasar.

Pada saat bertemu Kapolri, Amrozi yang saat itu terlihat santai juga meminta kepada keluarganya untuk kembali ke rumah. Menurut dia, keluarganya tak perlu sembunyi, karena yang dicari polisi hanyalah dirinya bersama adiknya, Ali Imron.

Amrozi juga mengaku dalam persiapan peledakan bom Bali, dia menyebut beberapa orang. Antara lain Abu Fatih, dan Kudama. Namun, seberapa jauh keterlibatan mereka, belum jelas.

Polisi sudah mencium tempat persembunyian Ali Imron. Bahkan, ada kabar, polisi akan segera menciduk adik kandung Amrozi itu.

Di Solo

Menindaklanjuti penyidikan terhadap pengakuan Amrozi yang mengatakan empat kali melakukan rapat di Solo, sebelum dia dan kelompoknya melakukan aksi pengeboman di Bali, aparat kepolisian kemarin melakukan penyisiran terhadap sejumlah lokasi yang dicurigai sebagai tempat pertemuan itu.

Namun hasilnya masih nihil. Dalam penyidikan itu, polisi secara tak sengaja justru menemukan kasus kejahatan lain, berupa penipuan dengan modus pesan barang di internet dengan pembayaran lewat kartu kredit orang lain.

Tempat yang kemarin diperiksa itu antara lain warung internet (warnet) La Rose di Pabelan dan Hotel Beteng Jaya di bilangan Pasar Kliwon. "Kami belum menemukan jejak keterkaitan dengan tersangka Amrozi. Tapi kami justru menemukan kasus kejahatan lain," kata Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Hasyim Irianto SH.

Apakah tempat yang disisir itu termasuk Pondok Al Mukmin? Kapolwil enggan menjawab. Dia hanya mengatakan, pencarian itu bukan hanya dilakukan Polwil, melainkan juga tim dari Mabes Polri.

"Kami belum tahu apakah tim itu juga memeriksa Pondok Al Mukmin, sebab penyidikan ini dilakukan secara terpisah. Sejauh ini yang kami periksa baru warnet," jelasnya.

Menurut dia, penyidikan yang dilakukan di warnet itu justru menemukan kasus pidana lain, berupa aksi penipuan lewat internet. Penipuan itu berupa pemesanan barang lewat internet, sedangkan pembayarannya menggunakan kartu kredit orang lain.

Sebagaimana diberitakan, dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR Senin lalu, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar menyatakan, Amrozi mengaku pernah menggelar empat kali pertemuan di Solo pada awal September lalu. Dalam pertemuan yang dihadiri antara 4-5 orang itu, dibahas tentang rencana pengeboman di Legian, Bali. (san,G11,D6,ant-29,31t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA