logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 14 November 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Tak Lolos, Puluhan Pelamar CPNS Protes

  • Anggap Panitia Tak Mengacu Syarat

BALAI KOTA-Setelah proses seleksi administrasi atau seleksi awal oleh panitia penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemerintah Kota selesai, setiap hari puluhan pelamar protes.

Kebanyakan mereka tak lolos seleksi awal. Mereka menganggap panitia tidak mengacu ke syarat penerimaan. Ini banyak terjadi pada pelamar dari guru wiyata bakti luar kota.

Rabu (13/11) ada seorang pelamar merasa dirugikan. Dia dinyatakan tak masuk seleksi karena ijazahnya tak disertai legalisasi dari dinas pendidikan yang membawahkan sekolahnya.

Dialah Achmad Mu'ali. Lelaki lulusan SMU Futhuhiyah, Mranggen, Demak, itu dinyatakan tidak masuk seleksi karena tidak menyertakan ijazah yang dilegalisasi Dinas Pendidikan Demak.

''Padahal, ada legalisasi dari sekolah dan Dinas Pendidikan. Kenapa saya tidak lolos?'' kata dia sambil menunjukkan bukti legalisasi dari dinas tertanggal 24 Oktober 2002 dan sekolah tertanggal 23 Oktober 2002.

Warga Kalicari, Palebon, itu meminta penjelasan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di lantai V Gedung Moh Ikhsan. ''Ini jelas tidak adil. Sudah dilegalisasi tetap tidak lolos seleksi awal.''

Ada lagi dua pelamar kakak-adik, satu alamat, sama-sama mendapatkan surat pemberitahuan. Anehnya nomor kedua surat itu sama. Ketika dibuka ternyata hanya pemberitahuan bagi si adik.

Wiyata Bakti

Beberapa guru wiyata bakti menyampaikan kekesalan ke panitia. Sebab, tidak lolos seleksi awal karena umur mereka dinyatakan melebihi persyaratan. Padahal, kata mereka, hal itu tetap sesuai dengan persyaratan.

Tri, guru wiyata bakti sebuah SLTP di Gubug, sudah mengabdi sembilan tahun. Dia dinyatakan tidak lolos tes karena berusia di atas 35 tahun. Padahal, sesuai dengan persyaratan batasan usia guru wiyata bakti 40 tahun bagi yang sudah mengabdi minimal lima tahun. ''Saya kan sudah mengabdi sembilan tahun, kenapa tidak lolos?''

Hal yang sama dialami Sri Legani. Guru SMK Tunas Bangsa, Tawangsari, Sukoharjo, itu sudah 11 tahun mengabdi sebagai guru wiyata bakti.

Dia hingga kemarin siang belum menerima surat pemberitahuan dari panitia berhak ikut tes atau tidak. Ketika mengecek ke KPDE, ternyata namanya tidak ada. Jadi dia termasuk tidak masuk seleksi.

Dia hanya bisa menduga-duga tidak lolos dalam seleski awal karena umur. Padahal meski berusia 39 tahun, dia sudah mengabdi 11 tahun.

''Kesempatan tinggal sekali lagi, itu kalau tahun depan ada tes.''

Kemarin juga masih banyak pelamar masuk seleksi atau lolos seleksi awal, namun masih terjadi kesalahan dalam administrasi yang dilakukan panitia.

Misalnya seharusnya lulusan D3 namun tertulis sarjana. Ada pula sarjana bahasa Inggris ditulis bahasa Indonesia, dan sebagainya.

Kepala BKD yang juga Ketua Panitia CPNS Pemerintah Kota Bambang Susanto mengaku bingung atas berbagai protes yang dilakukan pelamar. ''Bingung saya. Itu di luar kemampuan manusia, sebab begitu banyak surat lamaran masuk,'' kata dia, kemudian pergi mengurusi persiapan tes dan materi tes yang baru saja sampai di Balai Kota. (G7-13g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA