logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 November 2002 Surat Pembaca  
Line

P4D Desa Tembarak dan Purworejo

Pembangunan Prasarana Pendukung Pengembangan Desa (P4D) di Temanggung bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui pembangunan sarana fisik di desa . Karenanya semua pihak yang terlibat seharusnya melaksanakan secara transparan dan bertanggung jawab.

Namun sayangnya di Desa Tembarak dan Desa Purworejo, proyek tersebut justru dinodai dengan adanya rekayasa dan main mata oleh pihak-pihak yang merasa punya kewenangan demi memperoleh keuntungan pribadi.

Misalnya pelaksanaan pelelangan unit pekerjaan jembatan, dengan merekayasa sedemikian rupa sehingga sebagian suplier yang tidak dikehendaki harus minggir dan sengaja tidak diundang.

Hal ini memprihatinkan, karena seharusnya ada kelebihan biaya jembatan (selisih antara harga yang ditetapkan sebagai pemenang lelang dengan harga wajar) yang nilainya jutaan rupiah, justru masuk kantong pribadi sebagai keuntungan dari kerdipan mata.

Akhirnya saya berkesimpulan, lelang pekerjaan jembatan P4D di dua desa tersebut ternyata tidak mencari suplier dengan harga termurah, tetapi diatur demi kepentingan tertentu.

M Rezha
Desa Pandes Rt 4/Rw 4 Cepiring Kendal

***

Citra Baik Islam

Sekarang ada organisasi berbendera Islam yang konon katanya berjuang untuk kepentingan umat Islam. Tetapi sayang tindakan dan perilakunya sangat bertentangan dengan Islam.

Tindakannya suka kekerasan, memaksakan kehendak bahkan mengkafirkan sesama Islam lainnya yang berbeda dengan aliran dan mazhab golongannya. Mereka merasa hanya Islam golongannya saja yang paling benar. Padahal Islam itu artinya selamat atau damai.

Melihat fenomena ada golongan Islam yang suka kekerasan, ada kecurigaan jangan-jangan orang tidak ber-Tuhan atau Snouck Horgronje yang datang lagi ke Indonesia belajar Islam lalu mendirikan organisasi Islam untuk menghancurkan citra Islam itu sendiri.

Kalau memang begini keadaannya, maka tindakan Walisongo dalam menghukum salah satu Wali yang ajarannya nyebal/nyempal perlu dilaksanakan lagi. Artinya golongan rasional Islam harus menyadarkan golongan irasional Islam agar kembali ke jalan yang diri- dhoi Allah dan menjauhi cara-cara kekerasan dalam berdakwah.

Islam dalam berperang melarang menggunakan cara-cara pengecut (teroris) dan menghalalkan segala cara. Kalau golongan irasional Islam tidak bisa disadarkan kembali, ya ditindak sesuai hukum berlaku.

Kepada MUI saya imbau agar organisasi yang berbendera Islam, orang-orangnya diteliti latar belakangnya. Memang orang yang mau beragama Islam tidak perlu diteliti, tetapi kalau orang tersebut mendirikan organisasi yang berbendera Islam, nah ini perlu diteliti untuk menjaga citra baik Islam.

Rahmad Saleh
Kidung Ombo Rt 1/Rw 8 Kaliwungu Kudus

***

Telkom Tak Profesional

Setiap bulan, pada saat-saat seperti ini, saya selalu menekan nomor 109. Tanpa prosedur rumit, saya segera memperoleh informasi berapa beban rekening yang harus saya bayar. Prosedur yang gampang dan supercepat dengan informasi jelas dan detail. Sungguh, nomor 109 adalah "mesin pintar" yang menyenangkan.

Jumat, 1 November 2002, sore hari, angin kencang melanda Semarang. Kawasan kampung saya pun tak luput dari terpaan angin. Pohon pisang bertumbangan. Dan, dahan pohon di samping rumah tetangga patah menimpa kabel telepon. Sambungan telepon saya dan tetangga terputus.

Kami segera menghubungi nomor 117, sambungan pengaduan Telkom. Sungguh mengecewakan; tak ada yang mengangkat. Berkali-kali menekan, berhari-hari menekan. Jangankan mendapat jawaban, sekadar diangkat pun tidak. Kami ragu, jangan-jangan keliru menekan nomor. Atau, Telkom tak lagi membuka nomor pengaduan!?

Kini, Sabtu, 10 November 2002, pohon patah itu telah ditebang. Sebab, tetangga khawatir pohon sewaktu-waktu tumbang dan membahayakan. Namun, kabel telepon yang terputus tetap terputus.

Nah, Telkom, sekadar mengadu pun kami tak bisa. Ke mana profesionalitas Anda!? Siapkah Anda jika saya menggugat karena banyak kerugian imaterial harus saya tanggung?

Gunawan Budi Susanto (024-8442609)
Jalan Genuksari Atas IV/ 3 Rt 8/ Rw 9 Tegalsari, Semarang

***

Bantaran Sungai di Kota Solo

Merebaknya bangunan liar di bantaran sungai di kawasan Kota Solo, sungguh mencemaskan. Idealnya pemanfaatan bantaran sungai untuk jalur hijau dan relung ekologi. Tetapi sajian fakta saat ini jauh menyimpang. Gejala penjarahan lahan di bantaran sungai untuk hunian liar begitu merajalela.

Kecerobohan ilegal ini mengakibatkan penyempitan daerah aliran sungai. Sisi negatif lain berupa pembuangan limbah sehari-hari dari para penghuninya ke sungai yang tentunya akan mempercepat sedimentasi.

Dampak lainnya, air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah lewat tanaman di sekitar daerah aliran sungai, tidak bisa ditangkap lagi lantaran habitat pepohonan tergusur perumahan.

Secara logika pada gilirannya menjadi biangnya banjir. Ironisnya dalam rentang sekian waktu, sampai bantaran sungai di Solo menjadi pemukiman padat, Pemkot Surakarta tampaknya hanya masa bodoh. Publik pun tak peduli.

Hanya Ir Ismu Wardoyo MM MSc dkk (FPKK)-lah yang punya keprihatinan dan berusaha memperbaiki malapetaka ini. Kepada Bapak Ismu Wardoyo dkk, saya doakan perjuangan Bapak bisa meraih sukses.

Wury Listyani
Banyuagung Rt 5/Rw 2 Surakarta 57136

***

Mengajak Kerja sama

Dalam situasi ekonomi yang serba sulit ini, saya yang berstatus pensiunan ingin membuka usaha produktif dan positif yakni membuat barang kerajinan dan furniture dari bahan limbah kayu.

Hasilnya akan saya pasarkan ke kota besar yang sedikit banyak sudah saya pahami sistem dan jaringannya. Tujuan usaha ini untuk membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran yang jumlahnya terus meningkat.

Untuk itu saya ingin bekerja sama dengan tenaga-tenaga muda yang masih menganggur, berketerampilan di bidang pengolahan kayu khususnya furniture dan barang-barang kerajinan termasuk keterampilan bubut kayu yang bernilai seni kriya, memiliki etos kerja tinggi dan jujur. Lebih ideal lagi jika mereka memiliki dan menyukai usaha pembibitan tanaman.

Saat ini saya telah menyiapkan peralatan kerja, bahan baku, tempat kerja (workshop) yang relatif memadai di sebuah kota kecamatan di Jateng bagian selatan yang kondisinya terbelakang.

Motto kerja yang ingin saya terapkan terkait dengan nuansa kehidupan di desa. Kalau ingin panen, bertanamlah lebih dulu secara profesional dengan segala risikonya. Jangan bermimpi memperoleh sesuatu kemanfaatan secara instan (cepat dan gampang).

Ratiman Sutardjo
Desa Bulusari Rt 6/Rw 2 Gandrungmangu, Cilacap


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA