logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 November 2002 Sala  
Line

Ansor Larang Anggota Razia Tempat Maksiat

BOYOLALI - Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jateng, Drs Mufid Rahmat minta kepada anggotanya termasuk Banser di semua kabupaten/kota untuk tidak melakukan sweeping atau razia di tempat-tempat maksiat seperti tempat hiburan tanpa koordinasi dengan kepolisian.

''Ansor dan Banser mempercayakan penanganan masalah tersebut kepada aparat yang berwenang. Namun jika dibutuhkan kami siap memberantas jenis penyakit yang sulit dihilangkan itu,''kata Mufid Rahmat, kemarin.

PW Gerakan Pemuda Ansor, dia menambahkan, akan menindak tegas anggotanya jika secara nyata-nyata bekerja sama atau main mata dengan pengelola kemaksiatan termasuk perjudian. Untuk menghindari fitnah atau interpretasi yang bermacam-macam anggota Ansor, Banser dan oknum pimpinan cabang hendaknya tidak menjalin hubungan yang dekat dengan pengelola hiburan atau cukongnya.

Dia mengatakan, Ramadan tahun ini hendaknya dijadikan mementum perbaikan terhadap pencitraan negatif sebagai akibat tragedi Bali. Disadari atau tidak, tragedi Bali menyeret Islam dan pemeluknya kepada opini yang negatif dan minor. Dengan penangkapan sejumlah tokoh Islam seperti Abu Bakar Ba`syir dan Habib Riziq yang disertai pengepungan dan penggeledahan beberapa pondok pesantren akan memberikan konklusi Islam itu identitik dengan kekerasan, Islam itu identik dengan teror.

''Konklusi ini sangat berbahaya tidak saja bagi nonmuslim tetapi juga kaum muslim,'' katanya.

Bicara Normatif

Pada Ramadan ini, kata Mufid, ada ribuan mubaliq atau penceramah yang mengisi bakda (usai-Red) salat isya atau kuliah tujuh menit (kultum) pada waktu subuh. Karena itu diharapkan jangan hanya bicara yang normatif tetapi juga menyampaikan persoalan aktual dan mengkajinya secara konseptual.

Serukan bahwa Islam itu antikekerasan, muslim bukan teroris dan pondok pesantren bukan sarang teroris. Selain itu kepada mereka yang kurang paham tentang Islam jangan mengambil konsklusi secara persial dan dangkal dan jangan melihat adanya oknum atau tokoh yang terlibat. ''Jangan main generalisasi karena Islam mengajarkan pluralisme dan demokrasi,'' tandasnya.

Kepada para mubaliq, Ketua PW Gerakan Ansor Jateng minta hendaknya bisa mengerem kemungkinan tindakan anarkis. Dalam kapasitasnya sebagai corong Islam, hendaknya tidak hanya menjadi contoh lisan tetapi juga menjadi teladan dalam perbuatan.(shj-14)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA