
| Selasa, 12 November 2002 | Berita Utama |
Amrozi Empat Kali Rapat di Solo
JAKARTA-Ada perkembangan baru pada kasus bom Bali. Menurut Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar, tersangka Amrozi pernah menggelar empat kali pertemuan di Solo awal September 2002 lalu. Dalam pertemuan itu dibahas tentang rencana pengeboman di Legian, Kuta. Informasi itu dilansir Kapolri dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR di Gedung Nusantara DPR/MPR Senayan, Jakarta, Senin. "Pertemuan-pertemuan ini akan kami tindaklanjuti, di mana saja," kata Kapolri seraya mengungkapkan keterangan itu didapat dari pengakuan Amrozi. Pertemuan di Solo itu, lanjut dia, kemudian diteruskan hingga ke Bali. Dijelaskan, untuk sementara, sudah ada sembilan nama yang diduga ikut pertemuan tersebut. Namun, pada pertemuan di Solo hanya diikuti 4-5 orang. Yang menarik, lanjut Kapolri, ada nama-nama baru yang disebut Amrozi terlibat dalam kasus peledakan di Bali, antara lain Tengku Idris, Imam Samudra, dan Patil. "Jadi, banyak nama yang muncul," ujarnya seraya menandaskan, kasus penyidikan bom Bali sudah mencapai tahap akhir.
Penyidik memang bekerja sangat keras hingga kasus itu terungkap dalam waktu kurang dari sebulan. Menurut dia, hasil itu bukan berdasarkan analisis dari luar negeri, tetapi murni dari olah tempat kejadian. "Kami juga didukung hasil pemeriksaan di Filipina, Malaysia, dan Singapura, bahkan Thailand." Kapolri menjelaskan, para pelaku pengeboman mempunyai sebuah konsep, yakni konsep Nusantara. Intinya, mereka ingin menghubungkan Thailand Selatan, Semenanjung Melayu, Pulau Jawa, dan Filipina. "Jaringan ini akan bergerak terus," kata Kapolri tanpa memerinci lebih jauh tentang konsep Nusantara itu. Makin Terkuak Keterkaitan antara Amrozi dengan Abu Bakar Ba'asyir boleh jadi akan makin terkuak. Dalam pengakuannya kepada tim penyidik, Amrozi mengaku beberapa kali menjemput Ba'asyir di Pondok Pesantren (Ponpes) di Ngruki, Sukoharjo, untuk berceramah di Ponpes Al-Islam di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. Pengakuan ini disampaikan Ketua Tim Investigasi Bom Bali Irjen Made Mangku Pastika dalam jumpa pers di Markas Polda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Senin. "Amrozi mengaku beberapa kali menjemput Ba'asyir di ponpesnya di Ngruki untuk datang memberikan ceramah di Ponpes Al-Islam di Lamongan," kata Pastika menjawab pertanyaan soal hubungan Ba'asyir dan Amrozi. Dia terakhir kali mengundang Ba'asyir enam bulan lalu. Namun, Pastika tidak menyimpulkan hubungan seperti apa yang terjalin antara Amrozi dan Ba'asyir. Pastika hanya mengatakan, hubungan keduanya adalah hubungan guru dan murid, "Itulah kira-kira hubungan antara keduanya yang kami dapat sejauh ini." Sebelumnya Ba'asyir berulang-ulang menyatakan tidak mengenal Amrozi secara pribadi. Tetapi pengakuan terbaru Amrozi bisa menimbulkan penafsiran baru. Mungkinkah Ba'asyir tidak mengenal orang yang beberapa kali mengundang dan menjemputnya untuk berceramah? Pastika juga menjelaskan masih menyelidiki keterlibatan saudara-saudara Amrozi dalam kasus peledakan bom Bali, yakni Ali Imron, Gufron, dan Ali Fauzi. "Keterlibatan mereka masih kami selidiki dan dalam pencarian," jelasnya. Soal penasihat hukum yang akan mendampingi Amrozi, Pastika menyatakan masih belum ditentukan. Sebab, Polda Bali sudah menunjuk pengacara buat Amrozi, yakni Made Suryawan. Tetapi keluarga Amrozi juga menunjuk pengacara sendiri, dan pengacara yang dimaksud belum tiba di Bali. Pada bagian lain, menurut Pastika, Amrozi alias Imron (40) belum pernah menyatakan penyesalan atas perbuatannya yang telah merenggut lebih dari 180 nyawa itu. "Bahkan semalam, dia mengaku kurang bahagia atau kurang puas dengan hasil pekerjaan yang telah dilakukannya, sehubungan dengan tidak banyak warga negara Amerika Serikat (AS) yang menjadi korban," tuturnya. Dari hasil pemeriksaan petugas, Amrozi mengaku sasaran utama aksi pengeboman di Legian Kuta adalah warga negara AS. Namun, setelah mengikuti media massa, yang memberitakan sebagian besar korbannya warga negara Australia, dia mengaku kurang puas. Namun, dia tidak juga menyatakan penyesalannya. Kepada petugas yang memeriksa, aktivis Pondok Pesantren Al-Islam di Lamongan, Jawa Timur itu menyatakan sangat benci dan dendam kepada AS. Alasannya karena AS negara yang menindas Islam. Sebagai bukti AS tidak hanya memusuhi Islam, tetapi juga telah menyerang negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim, seperti Irak dan Afghanistan. "Ini yang membuat saya dari dulu benci Amerika Serikat," tandas Amrozi seperti yang ditirukan Irjen Pastika. Dari perasaan benci itulah, Amrozi dan beberapa temannya kemudian melakukan aksi peledakan bom di depan Kafe Sari Club, Legian Kuta, yang adalah kafenya orang-orang asing. Tetapi di luar sasaran utama Amrozi, ternyata aksi itu lebih banyak menelan korban asal Australia, baik yang tewas maupun luka-luka. Mengenai hasil penggeledahan di Pondok Pesantren Al-Islam dan di rumah Ustaz Zakaria, mantan Kapolda Irian Jaya itu mengungkapkan banyak ditemukan barang-barang dan dokumen tentang perjuangan Islam garis keras. Karena itu, kuat dugaan Ustaz Zakaria selaku pemimpin Pompes Al-Islam, sekurang-kurangnya mengetahui tentang kegiatan kelompok garis keras selama ini. Namun untuk kasus bom Bali, "bapak buah" dari tersangka Amrozi di ponpes itu masih berstatus sebagai saksi. "Zakaria kami periksa sebagai saksi dalam kasus bom Bali, bukan sebagai salah seorang tersangka pelaku," ujarnya, menambahkan. Setelah dua jam mengobok-obok hutan Dadapan, Lamongan, Jawa Timur, tim investigasi bom Bali juga menemukan berbagai jenis senjata. Barang-barang temuan itu kini diamankan di Mapolres Lamongan. Penemuan ini merupakan tindak lanjut dari ditemukannya sejumlah amunisi, Senin, di areal hutan Dadapan. Saat itu polisi menemukan sejumlah puluru yang disimpan dalam pipa pralon. Sama seperti penemuan sebelumnya, kali ini sejumlah senjata dan peluru juga ditemukan dalam pipa pralon ukuran 1 meter dengan diameter 30 cm. Kali ini di dalam 6 pralon yang ada, selain peluru polisi juga menemukan berbagai jenis senjata api, seperti M 16, AK 47, dan FN. Tidak hanya itu, polisi juga menemukan paspor atas nama Amrozi yang masa berlakunya habis tahun 2002 ini. Saat ini benda-benda itu diamankan di Mapolres Lamongan, Jl Kombes Duriyat. Belum ada keterangan resmi dari pejabat terkait mengenai penemuan atau hasil operasi di hutan Dadapan tersebut. Penangkapan Tafsir Nyanyian Amrozi, tersangka kasus peledakan bom Bali yang menewaskan 180 jiwa lebih itu, benar-benar ampuh. Setelah menyebut nama Tafsir dan Kamar terlibat dalam aksinya, tim penyidik Polda Jatim, Polda Bali, dan Polres Lamongan langsung memburu orang-orang tersebut . Dua di antara nama yang disebut Amrozi, kemarin ditangkap petugas di rumah masing-masing di Desa Tenggulun. Mereka adalah Tafsir, saudara seayah dengan Amrozi dan Kamar (bukan Qomaruddin), pensiunan mandor Perhutani Dadapan, Lamongan. Tafsir ditangkap petugas pada hari Minggu (10/11) malam, sekitar pukul 21.00. Saat digelandang petugas dari rumahnya di Desa Tenggulun, saudara Amrozi lain ibu ini tak melakukan perlawanan. Pria berumur sekitar 39 tahun itu dibawa petugas dengan menggunakan sepeda motor dan di belakangnya ada beberapa petugas yang memakai kendaraan yang sama, mengawasi. Kabarnya, Tafsir kini telah diperiksa di Polda Jatim atau Polda Bali. Tujuannya, keterangannya akan dicocokkan dengan keterangan yang disampaikan Amrozi sebelumnya. Berdasarkan keterangan Amrozi, Tafsir inilah yang mengantarkannya ke Bali sebelum tragedi peledakan pada 12 Oktober 2002. Posisi sebagai sopir inilah yang mendorong petugas penyidik membawanya untuk dimintai keterangan. Tafsir ditangkap masih sebagai saksi. Namun, tak menutup kemungkinan dia menjadi tersangka jika ada saksi lain atau keterangan Amrozi yang memberatkan posisinya. "Pak Tafsir juga ditangkap kok, Mas," ujar seorang santri Ponpes Al-Islam kepada Suara Merdeka, Senin. Proses penangkapan terhadap Tafsir tak menimbulkan gejolak di kalangan warga Desa Tenggulun. Karena waktu penangkapan berlangsung malam hari, sehingga banyak warga yang sudah tidur atau berdiam diri di rumahnya sambil menonton televisi. Baru setelah Tafsir dibawa petugas, beberapa tetangganya keluar dari rumahnya untuk menanyakan peristiwa yang terjadi. "Warga Desa Tenggulun kini resah dan sangat tertekan, karena ada warganya yang dikabarkan terlibat kasus peledakan bom di Bali. Makanya, kalau ada orang asing datang ke sini dan menanyakan soal tersebut, rasanya kami sudah bosan menjawabnya," tutur beberapa warga kepada Suara Merdeka, kemarin. Penangkapan Kamar Bagaimana jalannya penangkapan Kamar? Mantan mandor Perhutani Dadapan, Lamongan kelahiran tahun 1945 ini ditangkap sekitar pukul 10.00 di rumahnya. Saat itu dia baru pulang dari tegalan miliknya dan kemudian istirahat di kamar tidur. Sebelum Kamar ditangkap, ada beberapa petugas reserse dari Polres Lamongan, Polda Bali, dan Polda Jatim berseliweran di jalan-jalan desa tersebut. Mereka menggunakan sepeda motor. Di antara petugas reserse itu, ada yang memakai celana pendek, bersepatu hitam tanpa kaus kaki, dan kalau didengar dari logat bicaranya berasal dari Bali. Saat ditangkap dan dibawa petugas dengan sepeda motor jenis Honda GL Max, Kamar baru bangun tidur. Dia saat tidur memakai celana hitam tanpa kemeja atau kaus, sehingga ketika dibawa polisi, sambil jalan Kamar mengenakan dan membetulkan kancing kemejanya yang berwarna hijau lumut. Mantan mandor Perhutani itu hanya mengenakan sandal karet, yang bagian bawahnya berwarna cokelat dan atasannya berwarna biru tua. Kamar juga memakai arloji merek Citizen berwarna putih. Lelaki yang rambutnya sudah memutih dan beristri dua itu tampak pasrah ketika dibawa petugas. Sambil dibonceng petugas reserse yang rambutnya dikucir, dia selanjutnya dibawa ke kantor Polsek Solokuro yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Di sana sudah menunggu Kades Tenggulun Drs Maskhun. Selanjutnya setelah berbicara dengan Kades Maskhun sekitar 30 menit, Kamar dibonceng sepeda motor yang dikemudikan Kades Maskhun ke tempat lain. Enam polisi yang berada di Polsek Solokuro langsung bubar naik 2 mobil, berjalan searah jalan yang dilalui Kamar dan Kades Maskhun. Dua unit mobil yang dipakai petugas, yakni Toyota Kijang warna hitam H-4711-R dan Isuzu Panther warna hijau L-2525-R. Ditemui Suara Merdeka di rumahnya, salah seorang anak Kamar, Supatriyah menyatakan, dia sangat terkejut bapaknya dikait-kaitkan dengan kasus yang menimpa Amrozi. Sebab, selama ini aktivitas bapaknya sejak pensiun dari Perhutani sekitar 4 bulan lalu tak ada yang aneh. "Setiap hari pekerjaan bapak, ya menggarap tegalan, memelihara kambing, dan kelinci," kata anak keenam Kamar dari istri pertamanya yang bernama Kastonah. Kalaupun bapaknya berhubungan dengan Amrozi, biasanya terkait dengan urusan servis sepeda motor. "Ya setiap hari itu di ladang dan tak pernah ke mana-mana," ujarnya. Supatriyah tampak galau setelah bapaknya dibawa petugas kepolisian. "Tadi itu bapak baru dari tegalan, kemudian tidur di kamar. Eh kok langsung dibawa polisi," katanya. Kelihatannya penangkapan Kamar tanpa dilengkapi surat penangkapan. "Keluarga saya itu sekarang resah dan ada yang sakit akibat masalah ini. Kami kalau didatangi orang luar dan menanyakan masalah Amrozi rasanya deg-degan dan keluar keringat dingin," ucapnya. Supartiyah juga mempertanyakan kenapa bapaknya dibawa, apa kaitan posisi bapaknya dengan kasus yang menimpa Amrozi. "Bapak saya itu salah apa to, Mas," keluhnya. Berdasar kartu keluarga (KK) yang dimiliki keluarga Kamar, nama asli lelaki kelahiran tahun 1945 ini adalah Kamar, bukan Qomaruddin atau Qamaruddin. Data itu sesuai dengan KK No. 24/22/2003/249/87 yang ditandatangani Camat Paciran saat itu, Tarmudji BA. Pada tahun itu, Desa Tenggulun masuk wilayah Kecamatan Paciran, bukan Kecamatan Solokuro seperti sekarang. Setelah menciduk Kamar, sebanyak empat petugas menuju rumah ibu Amrozi, Hj Tariyem. Tujuannya, untuk menggeledah kamar dan mengambil pakaian Amrozi untuk dikirim ke Bali. Sebab, Amrozi meminta petugas mengambil pakaiannya di rumahnya di Lamongan untuk ganti. Saat akan menggeledah rumah Hj Tariyem, petugas tak bisa masuk. Karena pintu depan dan belakang rumah berbahan kayu jati itu dikunci. Kendati diantar Kades Maskhun dan mengucapkan salam beberapa kali, kelihatannya si empunya rumah tak membukakan pintu rumahnya. Yang terdengar dari dalam rumah hanya suara orang bernapas. Dan itu besar kemungkinan adalah Haji Nur Hasyim, ayah Amrozi yang menderita penyakit stroke sejak 3 tahun lalu, sehingga tak bisa ke mana-mana. Setelah menunggu sekitar 30 menit dan pintu tetap tak dibuka, petugas kembali ke Mapolsek Solokuro. Petugas tak mendobrak paksa pintu rumah Amrozi, karena tak ada perintah demikian dari atasannya. "Sekarang ini tergantung perintahnya bagaimana?," ujar seorang petugas kepada rekannya. Sebelumnya, pada hari Minggu (10/11) malam, petugas juga sudah mendatangi rumah orang tua Amrozi. Tujuannya untuk menggeledah kamarnya. Tetapi saat itu tak diizinkan pemilik rumah, mengingat hari sudah malam. Petugas dijanjikan untuk menggeledah pada hari Senin pagi. "Kami ke sini sesuai dengan janji, ya gimana kalau nggak ditepati," gerutu seorang petugas. Pasang Pengumuman Bagaimana kondisi Ponpes Al-Islam setelah ditinggal pemimpinnya, Ustaz Zakaria, ke Bali? "Wah, sekarang kegiatannya agak berkurang, Mas," kata beberapa santri kepada Suara Merdeka yang datang di ponpes itu sekitar pukul 12.00. Di masjid ponpes terdengar puluhan santri sedang mengaji, sedang kantor yang biasanya terbuka dan menjadi tempat berkumpul santri serta pengasuh ponpes, kemarin tampak tertutup dan lengang. "Bisa nggak ketemu Ustaz Syuhada dan Ustaz Asadullah," tanya Suara Merdeka. Seorang santri kemudian berjalan ke timur untuk memanggil Ustaz Syuhada. Tetapi setelah ditunggu sekitar 30 menit, Ustaz Syuhada tak keluar juga. Adapun Ustaz Asadullah, kata beberapa santri, sedang keluar ponpes. "Biasanya Ustadz Syuhada kalau dipanggil tak keluar berarti tak bersedia ditemui atau sedang istirahat," jelas beberapa santri yang mengaku dari Madiun, Balikpapan, Pekalongan, dan Solo. Di beberapa tembok bangunan ponpes ada tempelan pengumuman. Isinya antara lain, "Kami sedang belajar, wartawan harap pengertian", "Jam belajar, tak menerima wartawan". Pengumuman semacam itu pada hari Jumat (8/11) belum ada. Tampaknya pengumuman ini keluar seiring dengan makin panasnya persoalan Amrozi yang dikait-kaitkan dengan Ponpes Al-Islam. Apalagi selama 5 hari terakhir sejak Kamis (7/11) lalu, Ustaz Zakaria, pemimpin Ponpes Al-Islam dipanggil polisi dan kini sedang didengar kesaksiannya oleh tim penyidik di Polda Bali. "Yang pasti teman-teman tertekan mentalnya. Setiap malam masih banyak orang yang memata-matainya ponpes," ujar beberapa santri. Karena itu, para santri menerapkan sistem penjagaan selama 24 jam penuh. "Semoga saja cobaan ini segera berakhir dan proses belajar di sini normal kembali." (ant,ro,dtk-64k) | |||||