
| Selasa, 12 November 2002 | Jawa Tengah - Muria |
Puluhan Ribu Petasan di Jepara Disita
JEPARA - Untuk mengurangi distribusi petasan ke pasaran, Polres Jepara secara serentak melakukan razia. Sebelum puasa, polisi menyisir ke berbagai desa yang diketahui sebagai produsen petasan. ''Pada bulan puasa ini kami terus memberantas petasan. Dengan harapan, tidak ada lagi korban akibat petasan,'' ujar Kasatserse Iptu Sugiyanto, belum lama ini. Razia dilakukan bersamaan dengan operasi penyakit masyarakat. Misalnya, pemberantasan minuman beralkohol, perjudian, narkoba, dan pelanggaran susila. Razia yang dipimpin Kaur Bin Ops Satserse Polres Iptu Mahendra, di Desa Sengonbugel, Kecamatan Mayong, dan Desa Bakalan, Kalinyamatan. Polisi menyita puluhan ribu petasan dan menahan empat orang tersangka pembuat atau pemilik petasan. Polisi menyita 8.500 petasan dari rumah Sugeng (Sengonbugel), 12.000 petasan dan 10 kg obat dari rumah Kliwon (Sengonbugel), 15.000 petasan dan 25 kg obat dari rumah Tukul (Bakalan), 6.500 petasan, 5 kg obat, dan lima bendel sumbu dar rumah Suhali (Bakalan). Akhir Oktober lalu dalam razia petasan, polisi dibantu aparat Polsek Pecangaan di Desa Bakalan menyita petasan satu mobil Kijang pikap. Polisi langsung memusnahkan petasan itu. Dalam penggerebekan petasan di rumah Kholil (45), Desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan, polisi menyita petasan kecil 20 dos, petasan sreng panjang dua dos, dua dos petasan besar, tiga dos obat petasan (sekitar 10 kg), tiga dos sumbu petasan, 10 dos kertas petasan, serta satu set alat pembuat petasan. Polisi juga menyita petasan dari rumah Suroso, Sengonbugel. Tidak mau ketinggalan dengan polisi, petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Jepara juga ikut melakukan razia petasan di tempat umum dan pasar. Akhir pekan lalu, melakukan razia di Pasar Kota Jepara. Hasilnya, menyita 125 petasan tangan, 90 petasan sreng, 570 petasan korek dan 800 petasan lombok. Jalan Terus Sudah banyak nyawa terenggut dan harta benda rusak akibat ledakan petasan, namun peredaran petasan tampaknya sulit dihentikan. Polisi boleh saja terus-menerus menggerebek dan menyita. Namun produksi petasan pun jalan terus. Mungkin iming-iming keuntungan besar lebih menyita perhatian produsen petasan ketimbang bahaya yang ditimbulkan. Contohnya, 19 Oktober 2002 Kemirah (35) warga RT 4 RW 1 Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan, meninggal dunia dengan tubuh luka bakar di rumahnya dan Karti (65) terluka akibat ledakan petasan. Selain itu ada lima rumah rusak. Di desa itu tiga tahun lalu terjadi ledakan petasan yang merenggut nyawa seorang ibu beserta anaknya dan seorang warga lain. Ledakan lebih dahsyat terjadi 3 November 2001 di RT 1 RW 3 Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri. Rumah Ny Maryatun (55) rata dengan tanah. Bangunan di sekitarnya radius 100 m rusak. Akibat ledakan itu, pemilik rumah kehilangan ibu, Ny Wakijah (90), dan dua anak, Bambang Winarto (20) dan Indianingsih (17). (kar-78g) |