
| Selasa, 12 November 2002 | Budaya |
Film "Son of Maryam"Persahabatan Dua GenerasiTAK seperti pada kebanyakan film-film Iran yang menggambarkan kehidupan pribadi, Son of Maryam agaknya berhasil menggabungkan kehidupan personal dan publik. Digarap sutradara film independen Hamed Jabeli, film itu juga elok bercerita tentang harmonisasi dan cinta dalam dua agama yang berbeda. Tema toleransi beragama seperti itu, sebenarnya sangat metaforis ketika diangkat ke dalam sebuah film. Sebab, seperti umumnya film Iran yang berdedar, Son of Maryam menggunakan penuturan sufisme dengan pendekatan neorealisme. Cerita akan senantiasa berbasis perihal anak-anak, perempuan, dan humanisme; seperti terjadi pada film-film besar semacam The White Ballon, Children of Heaven atau Laila. Bisa jadi, kecenderungan itu dipengaruhi oleh dunia generasi film masa lampau Italia dengan cirinya: realisme. Pada Iran, neorealisme lebih banyak menggunakan pemain nonprofesional, dan lebih menonjolkan nuansa kehidupan sehari-hari dengan setting natural, sederhana, dan jauh dari kemewahan studio. Son of Maryam, film yang diputar di ruang teater Thomas Aquinas Unika Soegiyapranata Selasa siang ini, berkisah tentang hal-hal seperti itu. Bertumpu pada kehidupan Rahman, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang ditinggal mati ibunya sejak masih bayi. Di bawah asuhan nenek, kesibukan Rahman hanya sebagai pengantar susu dan bermain dengan Davoud, seorang teman yang buta. Cerita mulai menanjak, ketika Rahman bertemu dengan pastur gereja. Hubungan batin dua generasi itu jalin-menjalin; terlebih pastur tua tersebut mengetahui sejarah ibu Rahman. Karakter film agama, muncul lewat gesture dan dialog-dialog. Simak ketika tokoh Rahman memandang patung Bunda Maria, dan kemudian bertanya, "Apakah ibu saya seperti dia?" Kalimat-kalimat pastur pun menegaskan nuansa pendidikan agama, ketika mengatakan "bahwa setiap ibu adalah seperti Bunda Maria. Penuh cinta, kasih sayang, dan melindungi." Makna Persahabatan Lewat Son of Maryam, Hamed Jabeli selaku sutradara tampaknya memang ingin mengabarkan bahwa persahabatan bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada mereka yang datang dari dua generasi yang berbeda sekali pun. Film yang dibintangi Mohsen Falsafir (Rahman), Rafik der Gabrealiuan (pastur), dan Hadi Nazeemizadek (Davoud) itu, juga berbicara tentang pencarian perhatian dan kasih sayang yang dipadukan dengan kehidupan toleransi beragama. Jabeli juga dengan fasih berhasil menggambarkan toleransi tersebut dalam tradisi intelektual Iran, yang sering diartikan sama dengan tradisi sufisme. Maka, kekuatan film itu bisa jadi terletak pada kemampuannya bertutur tentang nilai kehidupan. Banyak adegan yang sebenarnya sangat sederhana dalam Son of Maryam; tapi kemudian bisa menjadi sangat menyentuh ketika berada di layar. Simak ketika Rahman ingin difoto, kemudian seakan dengan reflek berkata, "Saya ingin, anak saya kelak bisa melihat foto saya kalau saya mati." Reflektif kalimat itu, tentu saja mendedahkan perasaan penonton akan keberadaan Rahman yang tak bisa melihat wajah ibunya. Keharuan-keharuan lugas seperti itu, banyak mewarnai sepanjang satu setengah jam masa tayang film tersebut. Adegan paling menyentuh, terlihat ketika Rahman sedang azan; namun pada saat yang sama, pastur sedang menaiki tangga atap gereja. Menjelang azan selesai, pastur terjatuh bergulung-gulung. (Ganug Nugroho Adi-41) |