logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 11 November 2002 Tajuk Rencana  
Line

Irak dan Resolusi DK PBB

- Di luar dugaan sama sekali resolusi tentang Irak di DK PBB berjalan sangat mulus, Jumat lalu. Lima belas negara anggota tetap dan tidak tetap semua setuju. Termasuk tiga negara besar anggota tetap, Prancis dan Cina, yang sejak awal bersuara menentang keras serangan AS terhadap Baghdad. Bahkan juga Suriah, satu-satunya negara Arab yang tahun ini menjadi anggota tidak tetap DK. Suriah malah menasihati Irak agar menaati resolusi itu dengan dalih dalam resolusi tidak disebut-sebut izin bagi AS untuk melakukan tindakan militer secara sepihak. Beberapa negara tetangga Irak, seperti Iran, Yordania, dan Mesir juga memberi nasihat serupa. Baghdad sebaiknya bekerja sama dengan tim inspeksi persenjataan DK PBB untuk menghindari perang.

- Bagaimana sikap Irak? Hingga Sabtu masih teka-teki akan menerima atau membangkang. Para pemimpin Baghdad menilai, resolusi itu sebagai tidak adil. Meskipun keputusan DK PBB itu dipandang sangat buruk dan tak adil, ada isyarat Saddam Hussein akan menerima. Pemimpin Irak itu dikabarkan sedang mempelajari dengan cermat semua perincian Resolusi Nomor 1441 itu. Hal tersebut dipandang sangat penting sebelum mengambil keputusan tepat dalam beberapa hari mendatang. Setidak-tidaknya agar tidak memberi kesempatan kepada Presiden Bush untuk melancarkan serangan sepihak. Para pemimpin negara tersebut mempunyai waktu satu minggu untuk menentukan sikap. Saddam diduga tak akan mengumumkan sikap sampai jam-jam akhir batas waktu untuk meledek AS.

- Resolusi yang diambil lewat debat sangat panjang dan proses sangat alot itu memaksa Irak menghancurkan senjata-senjata pemusnah massal yang telah dimiliki. Juga agar menghentikan usaha-usahanya untuk membuat senjata nuklir. Baghdad dipaksa untuk bekerja sama dan mengizinkan tim inspeksi persenjataan PBB dengan hak-hak untuk mengadakan penelitian tanpa batas. Tidak hanya ke tempat-tempat yang dicurigai saja, tetapi sampai ke Istana Presiden Saddam Hussein sekalipun. Berdasarkan catatan AS, dari foto-foto satelit ditemukan bukti bahwa Baghdad memiliki senjata-senjata biologi dan kimia yang tiap saat dapat digunakan di luar wilayah Irak bila perang pecah. Disebutkan pula, negara itu bakal mampu menguasai senjata nuklir dalam waktu kurang dari satu tahun.

- Negara-negara Arab seperti Iran, Arab Saudi, Mesir, Yordania, Suriah, dan negara-negara Teluk lain jelas sekali mendukung resolusi itu. Kepentingan utama mereka adalah mencegah perang. Karena itu mereka mendorong Baghdad menerima dan mematuhi semua isi resolusi tersebut. Bencana dan akibat buruk Perang Teluk 1991 masih membayang. Bukan hanya Kuwait dan Irak yang waktu itu hancur dan rakyatnya sangat menderita, melainkan juga negara-negara tetangga dan seluruh dunia Arab umumnya. Untuk memulihkan Kuwait yang hancur dibutuhkan waktu panjang. Kendati dana untuk itu bukan masalah, dampak negatifnya terus terasakan hingga sekarang. Bila perang pecah lagi, bakal lebih dahsyat dan akibatnya lebih mengerikan. Itulah yang sangat dikawatirkan.

- Sikap Baghdad memang bisa menjadi teka-teki. Pengalaman tim senjata PBB setelah perang yang lalu merupakan pelajaran sangat penting. Saddam Hussein memang membiarkan tim tersebut masuk dan bekerja. Namun ada-ada saja hambatan yang dihadapi oleh anggota tim. Hambatan di lapangan, di penginapan bahkan pada saat anggota-anggota tim itu baru saja turun di bandara Baghdad untuk memulai tugas mereka. Banyak objek yang dicurigai sebagai laboratorium senjata biologi dan nuklir akhirnya tak terjamah. Para pemimpin Irak relatif cerdik untuk membangun laboratorium tiruan dan menjebak anggota tim. Begitu banyak bangunan yang terpaksa harus diteliti dan tidak ada gunanya sampai akhirnya pemerintah Saddam Hussein malah mengusir tim tersebut sebelum tugas selesai.

- Sangat mungkin Saddam Hussein juga akan memainkan taktik serupa. Kepentingannya hanya untuk menghindarkan perang dalam jangka waktu sepanjang-panjangnya. Resolusi diterima tetapi pelaksanaan di lapangan masih tanda tanya besar. Butir-butir resolusi itu memang ada yang dirasa sangat menyinggung perasaan para pemimpin Irak. Misalnya tuntutan agar tim dalam penelitian diberi kebebasan tak terbatas dan tanpa syarat, sampai ke istana kepresidenan sekalipun. Hal itu jelas sekali bakal dirasa melecehkan kedaulatan Irak. Namun apa yang bakal terjadi sesudah resolusi diterima masih merupakan tanda tanya besar. Akan tetapi Irak harus hati-hati, tetap memperhatikan kepentingan dunia Arab dan tahu AS tak akan segan melakukan aksi sepihak.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA