
| Senin, 11 November 2002 | Surat Pembaca |
Soal Diabetes Millitus
Menanggapi tulisan Bapak Wienarto Todunan Kledung, Jepara berjudul Diabetes Millitus 28 Oktober, sepengetahuan saya kencing manis tidak mutlak karena keterkaitan genetika/keturunan. Ada beberapa faktor memang, di antaranya genetika/keturunan, awal organ terkait, pola konsumsi serta pola hidup dan psikis. Terjadinya komplikasi pun tidak perlu waktu 5 tahun, tergantung kondisi individu penderita, kontrol dan perawatan. Beberapa tip perawatan kencing manis: olah raga rutin tiap hari sesuai kemampuan, memanajemeni stres dengan baik, bekerja tidak ngaya, usahakan selalu gembira, kurangi makanan/minuman berlemak. Juga ketergantungan insulin serta luka membusuk belum pada tahap gangreng dapat diatasi dengan kefir bening. Cara perawatan tersebut telah dibuktikan dan berhasil.
Drs Imam Muhidin S
***
Buku Pengetahuan
Kami punya beberapa buku masing-masing Peraturan Klasifikasi dan Konstruksi Kapal Laut dari Biro Klarifikasi Indonesia tahun 1978 jilid I s/d V, teori dan Praktek Pengelasan Listrik/Karbit, Welding Training Work Book, Ohio-USA (Bhs Inggris), Metal Propertis, ASME Hand Book - Tahun 1954, Die Gestaltung Von Walzlage Rungen. Publ - NR 00200 DA - Ausgabe Tahun 1970, Audels Welders Guide. Question And Answers (Bhs Inggris) dan Di Bawah Bendera Revolusi Oleh Ir Soekarno Tahun 1965 Jilid I (Lengkap dengan Box). Buku-buku tersebut akan kami jual untuk biaya kuliah anak.
Kumadi M
***
Mendiang atau Almarhum
Waktu jadi murid SR (sekarang SD) 54 tahun lalu, guru saya menerangkan untuk orang yang meninggal dapat menggunakan kata mendiang atau almarhum di depan nama orang yang dimaksud. Kata almarhum maknanya lebih halus/menghargai daripada mendiang. Dalam bahasa Jawa swargi dan jenat. Hati saya merasa terusik bila dalam media cetak membaca ungkapan "mendiang Ir Soekarno" (Proklamator Kemerdekaan/Presiden pertama RI). Menurut saya dalam hal ini lebih tepat bila mempergunakan kata almarhum. Pertanyaan saya, mungkin penulis media cetak itu acuh atau bahkan tidak mengetahui perbedaan makna kedua kata tersebut. Atau bahasa Indonesia telah mengalami degradasi makna, sehingga pemakaian kedua kata itu tidak perlu dipermasalahkan. Apakah pendapat saya benar atau masih berlaku sampai sekarang entahlah. Saya mengharapkan kritik dan pendapat dari pakar bahasa Indonesia. JW Wardojo
***
Muri, Bagaimana Tanggung Jawabmu
Dalam poco-poco spektakuler yang diselenggarakan oleh Pemkab Kendal beberapa waktu lalu menurut saya ada satu kepalsuan yang dilegalkan oleh Museum Rekor Indonesia (Muri), yaitu jumlah peserta yang dilansir sebanyak 100 ribu orang. Pertanyaannya, apa buktinya menentukan angka tersebut. Kalau kurang lebih, berapa kurangnya/lebihnya. Setahu saya, Muri tidak menerjunkan petugasnya untuk menghitung jumlah peserta, tapi hanya bersama penyelenggara dan berbaur dengan massa yang menyemut di jalan Arteri Kaliwungu - Kendal. Jalan Arteri tempat poco-poco, lokasinya di tengah persawahan sehingga peserta yang datang harus diangkut. Waktu itu kendaraan pengangkut tidak lebih dari 1.000 mobil. Kalau satu kendaraan mengangkut 40 peserta, kan baru 40.000 peserta. Kalau satu angkutan pulang-balik, kan baru 80.000. Kalau tiga angkatan, waktunya sudah tidak memungkinkan. Artinya, jika maksimum 80.000 peserta, Muri memanipulasi 20.000 peserta fiktif. Muri harus menjaga kisi-kisi validitasnya. Apalagi hal-hal yang sifatnya sulit dibuktikan untuk kali keduanya. Apa benar masyarakat Kendal sudah 100 ribu yang bisa poco-poco. Kami yang ikut dari persiapan sampai munculnya berita dan ucapan terima kasih di koran, kok ya jadi malah bingung. Muri..., Muri... objektif dong, jangan cuma nuruti pesanan.
Waluyo BS
***
Kuda Lari/Togel
Tahun 1980-an, SDSB dibubarkan Orde Baru, dan mulai saat itu segala jenis perjudian yang notabenenya lotere jarang kita dengar (walau masih ada namun sangat rahasia keberadaannya). Tetapi saat ini ternyata muncul kembali berbagai macam lotere seperti Kuda Lari, Togel dan lainnya. Boleh jadi lotere-lotere ini merupakan judi amatiran karena konsumennya melibatkan kalangan tukang becak, karyawan, PNS dan lainnya. Yang memprihatinkan pelajar SLTP sampai SLTA sudah terlibat. Bahkan murid SD mulai ikut-ikutan dengan dalih iseng. Coba bayangkan seandainya generasi kita kelak kerjaannya hanya malas-malasan menunggu nomor, mau jadi apa negara ini. Hal ini hendaknya menjadi perhatian khusus bagi para pejabat maupun aparat kepolisian. Beliau-beliau harus mulai bertindak cepat, jangan aparat yang konsekuen memberantas perjudian malah dipindahtugaskan ke daerah lain. Atau barangkali ada kebijakan terselubung antara aparat dengan agen-agen perjudian tersebut. Buktikan tidak ada kebijakan tersebut. Bubarkan Kuda Lari, Togel dan semacamnya. Kalau kita mau berpikir secara ilmu ekonomi, misal di suatu daerah setiap malam atau satu putaran, omset yang keluar antara Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Sedang yang kembali ke konsumen tidak lebih dari Rp 10 juta. Kalau dikalikan satu minggu, satu bulan bahkan satu tahun, berapa miliar rupiah uang yang keluar dari daerah tersebut. Ini akan menyebabkan peredaran uang di daerah menjadi berkurang. Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari melambung dan tentunya kita-kita juga yang akan rugi. Coba renungkan.
Deddy Budiman
***
Alumni Unsoed di Tasikmalaya
Saya salah satu alumnus bersama Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya berencana mengadakan pertemuan antaralumni Unsoed yang berasal dari Tasikmalaya. Dalam acara tersebut diharapkan ada hasil yang dapat meningkatkan peran serta alumni baik dalam bentuk program maupun aksi nyata. Kerinduan antaralumnus yang sudah lama hilang akan terobati dalam acara yang akan dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri 2002 M. Informasi: Argasari Jl Bantar 54 Tasikmalaya, Dedi Fitriana Hp 081 660 8639 atau, Yusuf Suparman Jl Gunung Muria 875 Purwokerto Utara Yusuf Suparman |