
| Senin, 11 November 2002 | Sala |
Kawasan Semanggi Makin Parah
SEMANGGI- Perkembangan situasi dan persoalan nonteknis kawasan Semanggi yang juga meliputi eks Resosialisasi Silir, di Kecamatan Pasarkliwon, dikhawatirkan makin parah. Itu terjadi jika rencana penataan kawasan tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Solo bagian selatan tak segera dilakukan. ''Jika revisi grand design tak kunjung rampung dan tidak segera dilaksanakan, kondisi dan persoalannya bisa makin parah. Akan banyak warga masyarakat coba-coba, misalnya memanfaatkan lahan kosong untuk kepentingan pribadi,'' kata anggota Komisi D DPRD Surakarta, Drs Agus Priyono, kemarin. Sangat mungkin pula pelacuran di Silir kembali berkegiatan karena penutupan eks resosialisasi itu tiga tahun lalu tak ditindaklanjuti perencanaan matang. Setelah lokalisasi itu ditutup, Pemerintah Kota tak segera menindaklanjuti dengan rencana pengalihan fungsi lahan. ''Kalau dulu warga Silir keberatan kan semestinya segera dicarikan jalan keluar. Kalau persoalan itu dibiarkan berlarut-larut bisa berkembang,'' kata dia. Wakil rakyat dari FPDI-P itu menyatakan revisi grand design kawasan Semanggi dan penerapannya harus dilaksanakan pada tahun 2003. Dengan demikian, ada kepastian arah dan kebijakan pemanfaatan kawasan sekitar 25 ha yang akan ditata itu. Namun masyarakat hendaknya tak lagi seenaknya memanfaatkan lahan di kawasan Semanggi itu. Pernah Dianggarkan Sebenarnya grand design penataan kawasan Semanggi sudah ada serta disetujui Komisi D dan E DPRD periode 1997-1999. Grand design yang diteken 1999 itu dibuat setelah Silir ditutup. Namun entah mengapa rencana penataan kawasan yang dianggarkan sekitar Rp 1 miliar pada APBD tahun 2000 itu tak segera dilaksanakan. Sampai sekarang grand design itu berkesan hanya sebagai dokumentasi. Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bapeda Ir Yob Sri Nugroho mengemukakan grand design saat ini dalam proses review. Sebab, saat penyusunan menggunakan sistem top-down. Padahal, pada era sekarang lebih menggunakan pola bottom-up (Suara Merdeka, 9/11). Agus Priyono sependapat grand design direvisi. Namun dia tak setuju revisi dilakukan karena semata-mata pola penyusunan yang top-down. ''Kita tak usah munafik. Untuk rencana atau kegiatan tertentu, tidak semua model bottom-up bisa diterapkan. Namun masih perlu menggunakan pola top-down.'' Saat ini, kata dia, jika program tertentu hanya mengandalkan pola botton-up justru tak terlaksana. ''Dalam rencana penataan kawasan Semanggi, misalnya, kalau pemerintah tak memberikan arahan kawasan itu sebagai pusat ekonomi Solo bagian Selatan, apa pembangunan daerah kelak bisa terarah ke sana?'' ujar Agus.(D11-51g) Penataan Kawasan Semanggi- Luas lahan sekitar 25 ha - Rencananya untuk pusat pertumbuhan ekonomi - Sejak penutupan eks-Resos tiga tahun lalu tidak ditindaklanjuti - Kini, eks-Resos Silir dikhawatirkan semakin parah - Warga bisa memanfaatkan lahan kosong untuk pribadi - Kegiatan prostitusi di Silir kembali marak Grand Design - Sudah disetujui Komisi D dan E DPRD, periode 1997-1999. - Pernah dianggarkan sekitar Rp 1 miliar pada APBD tahun 2000 - Terkesan seperti dokumentasi saja - Saat ini sedang revisi dengan pola bottom-up |