logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 11 November 2002 Sala  
Line

Ultah Ke-57 Waldjinah

Potong Tumpeng lalu Salat Tarawih

SOLO- Rumah sederhana berukuran sekitar 300 meter persegi di Jalan Parang Cantel, Mangkuyudan, Laweyan, Solo, Sabtu petang tidak seperti awal-awal puasa tahun sebelumnya. Hari itu bukan sekadar acara berbuka puasa bersama lalu salat tarawih, melainkan sebuah hajat dan peristiwa besar hanya lebih disederhanakan dan disesuaikan dengan suasana Ramadan.

Dalam istilah lebih gampang, resepsi ultah Hj Waldjinah, si tuan rumah itu sedang dilangsungkan namun dibungkus dalam nuansa islami dan lebih spesifik lagi berada dalam bingkai Ramadan. Meski tanpa tarub (tenda peneduh) dan kursi-kursi serta kado yang biasa melimpah-ruah, kemeriahan petang itu tetap ada. Bahkan ada pula bonus kedamaian, mengingat peristiwa itu lebih difokuskan pada nuansa agamais dalam suasana Ramadan.

''Ya jika pada waktu-waktu lalu boleh saja dengan bentuk resepsi lain, namun jika suasananya sedang puasa begini ya lebih tepat disesuaikan dengan Ramadan,'' ungkap tokoh yang sedang menjadi pusat perhatian, Hj Waldjinah, sambil mengajak para tamunya menyicipi menu buka puasa.

Ada sekitar 50 orang berkumpul di empat ruang termasuk garasi mobilnya duduk lesehan. Begitu azan Magrib terdengar segera disuguhkan teh panas dan es teh. Tidak lama kemudian menyusul sepaket kolak rujak degan dan resoles yang masih hangat.

Tampak di antara yang bersantap buka puasa petang itu adalah Ketua Hamkri Surakarta Drs Sugiyanto dan beberapa pengurus lain yang dijamu Hadiyanto, suami Hj Waldjinah. Sementara itu di ruang tempat berkumpul para ibu tampak Hj Waldjinah menemani Seiko, Nuning Darmono, Tatik HS, Hj Nanik Rahmini, dan beberapa seniman anggota Paguyuban Seniman Seniwati Surakarta (PS3). Namun lebih banyak yang seniman keroncong.

Tidak ada acara spesifik dalam ultah ke-57 mahabintang keroncong pelantun langgam ''Yen Ing Tawang Ana Lintang'' itu. Yang ada setelah berbuka puasa bersama, diteruskan dengan salat Magrib bagi yang menjalankan, sedangkan yang beragama lain mempersiapkan arisan paguyuban yang pelaksanaannya dibarengkan dengan acara itu.

''Acaranya ya begini saja, tidak ada pengisi lain. Karena suasana Ramadan, malam biar lebih kena dengan kita beribadah,'' ucap Hadiyanto yang juga sibuk mempersilakan tamu-tamu istrinya.

Setelah salat Magrib diteruskan dengan puncak acara ultah, potong tumpeng dan kue tart oleh Ratu Kembang Kacang yang hingga kini belum pernah tergeser. Pada saat itu semua yang hadir memberikan ucapan selamat sambil menyanyikan lagu ''Happy Birthday to You'' secara garingan alias tanpa iringan.

Potongan tumpeng diberikan kepada suaminya dan ditukar dengan kado paling istimewa, ciuman di pipi. Adalah Nyonya Wahab, satu-satunya yang dipercaya paguyuban mewakili memberikan tali asih kepada yang berulang tahun.

Seusai inti acara, dilanjutkan dengan santap malam bersama yang dihidangkan untuk para tamu, seperti biasa bila arisan berlangsung. Setelah itu barulah salah Isyak yang berlanjut dengan salat Tarawih bersama hingga berakhir acara.

Sebelum itu, sorenya Hj Waldjinah diantar suami dan ketiga pengurus paguyuban yaitu Seiko, Nuning Darmono, dan Tatik HS berkunjung ke Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Cabang Kottabarat di Jalan Sam Ratulangi, Gremet, Solo. Kepada 38 penghuni panti, pelantun ''Langgam Walang Kekek'' itu menyerahkan bingkisan berupa mi, dos kudapan dan minuman, nasi, sabun mandi serta membagikan amplop berisi uang kepada warga panti.

''Saya kok lebih marem merayakan ulang tahun dengan cara seperti ini. Rasanya malah ngondok-ondok, trenyuh. Mudah-mudahan bermanfaat,'' tuturnya di depan pengasuh panti, Kalimin, yang disambut ucapan terima kasih dan ungkapan amin.(Won Poerwono-42j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA