logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 11 November 2002 Sala  
Line

Teras

Menanam Jagung Siapa Takut?

MUSIM hujan telah datang sehingga petani sudah dapat mengerjakan sawahnya. Sebelumnya, petani memilih membiarkan lahannya menganggur. Otomatis, tidak ada nilai tambah yang bisa diperoleh. Petani masih sulit meninggalkan budaya tanam padi. Bagaimana upaya Dinas Pertanian Sukoharjo meningkatkan nilai tambah lahan dan penghasilan petani di musim kemarau, berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Kepala Dipertan, Ir Sri Sutarni.

Apa sebenarnya yang melandasi proyek tanaman jagung di Sukoharjo ?

Begini, musim kemarau ternyata membuat sebagian besar lahan di Sukoharjo tidak dapat ditanami. Padi tak bisa ditanam karena kurang air. Kita sudah berkali- kali melakukan sosialisasi kepada petani agar menanam palawija. Namun saya akui hal itu masih sulit.

Apa kendalanya ?

Nampaknya petani sudah terbiasa menanam padi, sehingga sulit dialihkan ke palawija saat kemarau datang. Kemungkinan lain, menanam palawija dianggap kurang menguntungkan.

Lalu, mengapa Dipertan memilih budi daya jagung ?

Ya, menanam jagung siapa takut? Ini kami kebetulan mendapat tawaran dari investor penyedia benih jagung. Mereka mengajak kerja sama dengan petani. Semua kebutuhan benih, pupuk dan obat- obatan disediakan investor. Petani hanya menyediakan lahan saja. Setelah panen, hasil dibeli investor semua dengan harga Rp 1.200/kg dalam bentuk tongkol.

Apa cukup menguntungkan hasil tersebut ?

Musim kering tahun 2002, kita sudah mencoba sistem kemitraan itu di Kecamatan Gatak seluas 50 ha, ternyata hasilnya sangat menggembirakan. Hasil perhitungan panen kemarin, setiap hektare lahan mampu memberi hasil Rp 10 juta lebih.

Bagaimana rencana ke depan ?

Musim kemarau 2003 mendatang, kita sudah menyiapkan lahan 150 ha di Gatak dan Baki untuk budi daya jagung. Sistemnya sama, di mana petani hanya menyediakan lahan, sedangkan semua kebutuhan lainnya disediakan lebih dulu oleh investor. Kita bisa berhitung, dalam jangka waktu 110 hari sudah panen. Hasilnya Rp 10 juta/ha. Bandingkan kalau lahan hanya dibiarkan menganggur sembari menunggu datangnya hujan. (Joko Murdowo-14)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA