logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 11 November 2002 Sala  
Line

''Kalau Tak Boleh Ngamen, Beri Kami Pekerjaan....''

KOMUNITAS orang jalanan banyak ragamnya. Ada pengemis, gelandangan, dan orang telantar. Tapi sekarang bertambah lagi dengan pekerja seks komersial dan pengamen.

Pemerintah secara terpadu sering melakukan razia. Namun keberadaan komunitas orang jalanan ini bagai daun luruh yang jatuh dari pohonnya. Setiap kali disapu bersih, selalu saja ada yang menyusul jatuh sehingga berkesan musykil dapat dibersihkan.

Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Wonogiri Drs AY Kariman, baru-baru ini mengatakan, persoalan orang jalanan menjadi masalah sosial yang kompleks. Secara yuridis, orang telantar diamanatkan menjadi tanggungan negara. Ironisnya, pemerintah tak cukup punya dana untuk menangani mereka.

Membuang

Diduga karena keminiman anggaran ini, ada kabupaten yang menempuh jalan pintas dalam membersihkan mereka dengan ''membuang'' golongan itu ke wilayah perbatasan. Kalau ini betul terjadi, Wonogiri menjadi daerah persimpangan sasaran pembuangan yang strategis. Bisa jadi dari Kabupaten Sukoharjo, Klaten dan Karanganyar (Jateng), Pacitan dan Ponorogo (Jatim), maupun dari Gunungkidul (DI Yogyakarta).

''Bukan maksud kami menuduhnya demikian. Kami tetap bersikap positive thingking. Tapi kenyataan yang terjadi, setiap kali dilakukan razia, selalu saja muncul wajah-wajah baru,'' kata Kariman.

Dengan segala keterbatasan dana yang dimiliki, tim Wonogiri berusaha menyalurkan hasil razia sesuai dengan prosedur yuridis dan kemanusiaan. Ada yang dikirim ke rumah sakit jiwa (RSJ) untuk mendapatkan pengobatan dan ada yang dipulangkan manakala masih dapat dilacak identitas keluarganya.

Persoalan yang tak kalah rumit adalah penanganan WTS yang beroperasi secara liar dan kemunculan pengamen.

Dikatakan liar karena Wonogiri tak pernah punya tempat prostitusi legal. Walau demikian, keberadaan WTS tetap saja ada. Dari hasil razia tim yang dikoordinasikan oleh Kasi Penertiban dan Penyidikan Kantor Satpol PP, misalnya, ditemukan pelacur yang berkeliaran di jalan dan sebagian lain melakukan transaksi di losmen-losmen.

Pernah dilakukan razia pengamen. Ternyata banyak pendatang yang suka meminta paksa kepada para penumpang bus dan angkutan umum.

Melihat ulah mereka, tim berusaha menyadarkan dan menyarankan untuk tidak mengamen di Wonogiri.

Tapi apa argumentasi mereka? ''Kalau tak boleh ngamen, tolong beri kami pekerjaan agar tetap dapat makan untuk hidup,'' ucap salah seorang pengamen mewakili rekan-rekannya. (Bambang Pur-14c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA