
| Senin, 11 November 2002 | Ragam |
Pengintai yang Canggih dan BerbahayaSECARA umum, Predator adalah sistem pesawat tanpa awak untuk keperluan pengintaian. Hasil citra atau data pengintaian dari radar apertur sintetik, kamera video dan ''mata'' infra merah dapat dikirimkan dalam waktu bersamaan (real time) baik ke pasukan di garis depan maupun ke panglima operasi atau ke seluruh dunia melalui hubungan komunikasi satelit. Pelaksana produksi Predator pertama kalinya adalah General Atomics Aeronautical Systems yang pada Januari 1994 mendapat kontrak untuk melaksanakan program pembuatan Predator Medium Altitude Endurance. Sistem Predator untuk pertama kalinya terbang pada 1994 dan mulai diproduksi pada Agustus 1997. Saat ini Predator diproduksi untuk Angkatan Udara AS (USAF) dan dioperasionalkan dalam Skuadron Pengintai ke-11 dan ke-15. Sebanyak 60 dari 85 Predator telah dikirim untuk USAF dalam program kontrak produksi itu. Angkatan Udara Italia juga akan membeli enam Predator dari General Atomics, sementara perusahaan Meteor Italia bertindak sebagai subkontraktor yang bertanggung jawab merakit lima dari enam pesawat itu. General Atomics adalah kontraktor utama sedangkan subkontraktor utamanya meliputi Versatron/Wescam untuk pekerjaan Skyball Gimbal elektro-optik, Northrop Grumman untuk radar apertur sintetik, Communication untuk jaringan komunikasi satelit wideband dan Boeing untuk sistem perencanaan misi dan workstation intelijen. Pada Februari 2001, rudal Hellfire-C berhasil ditembakkan dari pesawat Predator dalam penerbangan uji coba di pangkalan AU Nellis, Nevada. 14 Rudal Pada Mei 1998, General Atomics memperoleh kontrak untuk program Block 1 Upgrade untuk menambah kemampuan sistem Predator. Upgrade ini meliputi pengembangan sistem yang memungkinkan pencakupan secara terus menerus atas wilayah-wilayah yang diamati tanpa harus kehilangan waktu di stasiun, mengamankan relai suara kontrol air traffic, tuning satelit Ku-band dan implementasi Sistem Pendukung Misi AU (Air Force Mission Support System/ AFMSS). Program upgrade ini juga mencakup mesin turbo yang lebih bertenaga. Predator yang sudah di-upgrade ini, dikenal dengan sebutan RQ-1B, telah beroperasi di Balkan sejak April 2001. Predator B mampu beroperasi pada ketinggian 45.000 kaki (13.500 meter) dengan beban maksimum 750 pon (400 kg). Predator B telah diuji terbang dengan rudal anti-tank Hellfire II dan dapat membawa 14 rudal. Uji coba terbang juga pernah dilakukan dengan membawa General Atomics Lynx SAR (radar apertur sintetik). Lynx juga memiliki fitur-fitur seperti teknologi indikator sasaran bergerak di darat. Angkatan Udara AS juga telah memesan dua versi Predator B dengan mesin jet turbofan. Komponen Sistem Konfigurasi sistem Predator pada dasarnya meliputi empat pesawat, satu sistem kontrol daratan dan satu terminal distribusi data Trojan Spirit II. Panjang pesawat Predator adalah 27 kaki (8,2 meter) dengan rentang sayap sepanjang 49 kaki (14 meter). Pesawat ini mampu terbang pada ketinggian 25.000 kaki (7.600 meter) dengan jangkauan 400 mil laut tanpa terdengar oleh musuh. Pesawat ini mampu bertahan terbang sampai lebih dari 40 jam dan kecepatan jelajahnya lebih dari 70 knots. Predator diperlengkapi dengan link relai radio UHF dan VHF, link data C-band line-of-sight yang memiliki jangkauan 150 mil laut serta link data satelit UHF dan Ku-band. Kapasitas beban pengintaian dan mata-mata ini adalah 204 kg, berupa kamera-kamera infra merah dan elektro-optik serta radar apertur sintetik. Sebanyak dua unit televisi DLTV berwarna diperlengkapi dengan kemampuan zoom dan Spotter 955 mm. FLIR resolusi tingfi memiliki enam medan pandang, mulai dari 19 sampai 560 mm. Raytheen telah menyerahkan tiga Multi-Spectral Targeting Systems (MTS) ke USAF untuk berintegrasi dengan Predator. MTS ini memiliki penyeleksi citraan antara infra merah dan TV siang hari. Stasiun Kontrol Bumi (GCS) dibangun ditempatkan pada trailer atau van berisi konsol-konsol operator beban dan pilot, tiga Konsole Perencanaan Misi Eksploatasi Data buatan Boeing dan dua workstation radar apertur sintetik, satelit dan terminal data. Sistem Kontrol ini dapat mengirimkan gambar atau data melalui hubungan darat dengan pengguna operasional atau ke sistem distribusi data Trojan Spirit. Sistem distribusi data Trojan Spirit II diperlengkapi dengan antena piringan 5,5 m untuk Ku-band Ground Data Terminal dam antena 2,4 m untuk penyebaran data. Operasi Menurut keterangan AU AS, Predator itu adalah ''aset milik Angkatan Udara Gabungan untuk misi mata-mata dan pengintaian''. Karena Predator tidak berawak, maka pesawat ini cocok untuk dikerahkan ke wilayah-wilayah yang berisiko, daerah angkasa yang tidak aman, lingkungan samudera terbuka, dan lingkungan yang terkontaminasi biologis atau kimia. Selain itu, seperti terjadi pada serangan Oktober 2001 di Afghanistan, Predator sekarang ini dapat melakukan misi ''cari dan hancurkan'' tanpa ada risiko jatuhnya korban personel militer AS. Sistem Predator dirancang untuk menyediakan intelijen konstan, mata-mata dan pengintaian untuk kepentingan kekuatan-kekuatan taktis dan strategis AS. Identifikasi teknis Predator sudah terlihat dari namanya: Predator Medium Altitude Endurance (MAE) Unmanned Aerial Vehicle (UAV), atau kendaraan udara tak berawak yang mampu bertahan di ketinggian sedang. Setiap satu sistem Predator memiliki empat kendaraan udara dengan sensor dan penghubung data, satu GCS dan satu sistem Spirit II SATCOM system. Pesawat itu sendiri adalah sebuah monoplane bersayap tengah yang ramping untuk tempat peralatan dan bahan bakar, sebuah sayap dengan aspek rasio tinggi, dan sayap ekor berbentuk V terbalik. Pesawat ini bermesin Rotax silinder empat, dengan bahan bakar gas ber-oktan 100. Salah satu kerumitan operasional adalah, seluruh komponen pendukungnya (stasiun kontrol di darat) harus berada di satu lokasi. Badan pesawat dapat dibongkar menjadi enam komponen utama dan dipak ke dalam satu kontainer. Sistem komunikasi satelit terdiri atas piringan satelit beserta peralatan pendukungnya. Sistem satelit ini teristimewa penting karena dengan instrumen inilah Predator dapat berkomunikasi dengan GCS-nya. Keuntungannya, sistem ini dapat dikerahkan dengan mudah ke seluruh dunia. Peralatan sensor meliputi sebuah elektro-optik/ infra merah (EO/IR) Versatron Skyball Model 18 dengan lensa zoom dan lensa spotter, sebuah radar aperture sintetik Westinghouse 783R234. Stasiun kontrol bumi terdiri atas satu posisi pilot dan satu posisi operator peralatan yang bisa saling tukar tempat, satu posisi Data Exploitation, Mission Planning and Communications (DEMPC) dan satu posisi untuk workstation radar. Stasiun kontrol ini biasanya ditempatkan di sebuah van besar. Kelemahan sistem ini sulit beroperasi dalam cuaca buruk dan tidak mampu menghadapi serangan senjata antipesawat. Saat operasi di Bosnia, satu Predator rontok oleh rudal antipesawat Serbia. Namun betapa pun, dengan segala kecanggihan itu, Predator mampu menyusup ke mana saja untuk memburu dan menembakkan rudal Hellfire, tanpa harus berisiko kehilangan pilot. Itulah sebabnya, ''ulah'' Predator memangsa tersangka teroris Al Qaedah mengundang debat panjang karena itu berarti menunjukkan bahwa AS sanggup memburu ''teroris'' di manapun berada di muka bumi ini. Boleh jadi, Predator kini menjadi senjata utama AS untuk memburu para tersangka ''teroris'' di mana pun mereka berada, termasuk mungkin pula di Indonesia.(gn-52) Data TeknisFungsi utama : Mata-mata dan pengintaian dari udara, serta akusisi sasaran
Kekuatan Mesin : Rotax 914 empat silinder berkekuatan 101 PK
Panjang : 8,22 meter
Tinggi : 2,1 meter
Berat : 512 kilogram kosong, maksimum berat saat terbang 1,020 kilogram
Rentang sayap : 14.8 meter
Kecepatan : 84 mph (70 knots), sampai 135 mph
Jangkauan : Sampai 400 mil laut (454 mil)
Ketinggian terbang : Sampai 25.000 feet (7.620 meter)
Kapasitas Bahan Bakar : 100 galon
Beban Peralatan Pendukung : 204 kilogram
Harga : 40 juta dolar (Rp 36 miliar) |