
| Senin, 11 November 2002 | Ragam |
Predator, si Pemangsa TerorisPELEDAKAN mobil yang ditumpangi enam tokoh Al Qaedah di Yaman, 3 November lalu, dengan tembakan rudal Hellfire dari pesawat pengintai tanpa awak Predator, memercikkan kembali ingatan dunia atas aktivitas maut ''pemangsa'' ini semenjak instrumen ''pemburu dan penghancur'' AS yang berbahaya itu dioperasikan Dinas Intelijen AS (CIA) untuk program kontraintelijen. Peristiwa di Yaman itu menandai pertama kalinya Predator bersenjata digunakan untuk menyerang di luar wilayah ''teater perang'' seperti Afghanistan. CIA juga pernah menggunakan Predator dalam upaya untuk membunuh pemimpin faksi Afganistan Gulbuddin Hekmatyar awal Mei lalu. Pada Februari lalu, Predator juga telah memangsa orang-orang Al Qaedah di Afghanistan. Hal serupa dilakukan CIA pada Januari tahun lalu. Sejarah Operasional Patut dicatat, Predator bukan sekadar pesawat, melainkan adalah sebuah sistem. Sistem operasional Predator dalam kapasitas penuh terdiri atas empat pesawat (dengan sensor), satu stasiun kontrol bumi (Ground Control Stasiun/ GCS), satu Predator Primary Satellite Link (PPSL), dan 55 personel untuk operasi 24 jam nonstop. Dikembangkan pertama kali sebagai program Demonstrasi Teknologi Konsep Lanjut, Predator telah dioperasikan dalam berbagai latihan, demonstrasi, dan pengerahan operasional. Tiga sistem ini dibeli sebagai bagian dari program tersebut, sehingga total seluruhnya adalah 12 pesawat, tiga GCS dan tiga Trojan Spirit IIs. Meskipun program Predator ini pada awalnya dilakukan Angkatan Darat, Pentagon kemudian menunjuk AU sebagai pengelola utama dan kini dioperasikan CIA. Pada Oktober 2001, Predator dikerahkan ke Afghanistan untuk memperoleh data intelijen dan meningkatkan kemampuan serang guna mendukung Operasi Enduring Freedom. Predator pernah diterjunkan dalam serangan udara Kosovo 1999. Predator tersebut mengumpulkan data intelijen, mencari sasaran dan memonitor pengungsi Kosovo-Albania melalui kamera video. Pesawat ini ikut membantu para perencana mengevaluasi kerugian pertempuran dan memetakan medan pertempuran. Selama April dan Mei 1995, Predator ikut berpartisipasi dalam Roving Sands 1995, yakni latihan pertahanan udara tahunan di AS barat daya. Keberhasilan Predator selama latihan ini menjadi alasan utama sehingga Predator dikerahkan dalam operasi di Eropa pada 1995. Predator generasi berikutnya, Global Hawk, dikenal pula dengan nama UAV (Unmanned Aerial Vehicle) ini telah diterjunkan di Bosnia sejak 1995. Operasi pertama di Eropa, dengan nama sandi Nomad Vigil, didukung oleh Joint Task Force Provide Promise (JTF PP) dengan markas di Gjader, Albania. Penugasan diberikan langsung oleh markas JIF PP melalui Pusat Intelijen Operasi Gabungan Wilayah Selatan (SR JOIC) di Naples, Italia. Koordinasi untuk masalah penerbangan dilakukan di Pusat Operasi Udara Gabungan NATO di Vicenza, Italia. Operasi Predator ini berlangsung dari Juli sampai November 1995. Namun, bukan berarti Predator kebal terhadap serangan. Dua pesawat hilang selama operasi ini. Pesawat Predator ditarik dari medan pertempuran setelah meriam antiudara Serbia menembak jatuh satu pesawat. Satu pesawat lagi hancur akibat malfungsi yang kemungkinan karena kebakaran di stasiun kontrol. Operasi itu dilanjutkan dengan operasi kedua. dengan nama sandi Nomad Endeavor, didukung oleh Operasi Gabungan dengan markas Predator di Taszar, Hungaria. Operasi ini dimulai sejak Maret 1996, di bawah kendali langsung Komando Eropa AS melalui Sel Intelijen Nasional AS di Vicenza, Italia. Di masa depan, Predator akan diperlengkapi dengan Sistem Sasaran Multispektrum (MTS) dengan kemampuan rudal AGM-114 Hellfire, serta mengintegrasikan elektro-optik, infra merah, designator laser dan laser illuminator ke dalam satu paket sensor. Kru paling minim untuk Predator adalah satu pilot dan dua operator sensor. Mereka mengendalikan pesawat dari dalam GCS melalui link data C-Band (untuk penerbangan di dalam rentang garis pandang), atau link data satelit Ku-Band untuk penerbangan di luar garis pandang. Menilik sejarah aktivitas Predator hingga korban terakhirnya di Yaman, agaknya AS tidak akan berhenti untuk menggunakan Predator memburu ''buronannya'' meskipun berada di luar wilayah perang. Ini pula yang bakal memicu kecaman sengit bagi AS bila terus menggunakan sistem ini karena batas-batas wilayah negara dengan gampang disusupi oleh si ''pemangsa''.(gn-52) |