logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 11 November 2002 Olahraga  
Line

TPI Fighting Championship

Pelarian bagi Aliran Full Body Contact

MENYAKSIKAN para atlet berbagai aliran bela diri tampil di TPI Fighting Championship (TPI FC) yang digelar setiap Sabtu malam, rasanya itu jelas sebuah jawaban bagi para remaja dan pemuda yang ingin menyalurkan bakat ke puncak prestasi (olahraga serbabisa).

Acara ini adalah pertemuan dari segala aliran bela diri. Tentu saja yang menarik di sini adalah semangat dari para peserta untuk menjadi yang ''ter''. Itu lumrah-lumrah saja, sebab setiap atlet selama mereka memahami falsafah olahraga pasti ingin menjadi yang ''ter'' - terbaik, terbesar, terkenal, dan ''ter'' lain.

Dari sekian kali ''pentas'' yang dilakukan di studio TPI itu, yang banyak ambil bagian adalah para karateka atau mantan karateka dari aliran full body contact. Itu fenomena baru bagi aliran-aliran tersebut.

Mengapa mereka banyak yang terjun di arena yang semestinya masih menjadi ''lokasi terlarang'' bagi mereka yang masih aktif di karate? Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab kalangan pembina karate di Tanah Air. Sebut saja kei shin kan, kyokushinkai, dan beberapa yang atletnya sudah turun di arena profesional itu.

Bendera Perguruan

Apakah hal itu menyalahi aturan? Jelas. Tetapi sebagai induk organisasi karate, tentu tidak mampu melarang atlet yang bertanding atas nama pribadi pada kegiatan itu.

Secara organisasi keolahragaan di Tanah Air, KONI sudah menyatakan sikapnya untuk tak mengakui keberadaan jenis olahraga tersebut. Pengaruhnya, induk-induk organisasi olahraga bela diri di Tanah Air pun tidak memberi peluang kepada atletnya untuk ambil bagian di sana. Artinya, di sana semua atlet tidak bakal turun dengan bendera perguruan.

Diakui atau tidak, legal atau ilegal, ruang itu kini sudah mendapat pengakuan masyarakat. Sebagai ring profesional semestinya di sinilah peran Badan Pembina dan Pengawas Olahraga Profesional Indonesia (Bappori) sangat diharapkan. Bagaimanapun, keberadaan kejuaraan tersebut terasa semakin eksis di masyarakat.

Pertanyaan yang kemudian muncul di benak kita, tentu saja mengapa mereka tertarik tampil dalam pertandingan ''gaya bebas'' tersebut? Itulah yang perlu ditelaah oleh para pembina olahraga karate khususnya. Sekadar sebagai background informasi, di dunia karate Indonesia pun sekarang sudah ada dua kubu yang sangat sulit untuk disatukan. Kebangkitan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) yang sangat menekankan kemurnian karate, tentu saja sebagai cerminan munculnya gejolak di kalangan pembina karate di Tanah Air.

Padahal selama ini kita tahu, karate umum yang berkembang dan dipentaskan di berbagai event nasional, khususnya yang bernaung di bawah bendera Forki, adalah karate yang bernapaskan World Karate-do Federation (WKF). Sementara itu FKTI berafiliasi ke International Traditional Karate-do Federation (ITKF).

Turnamen

Ibarat dua sisi mata uang, mereka itu sama tapi berbeda. Mereka sama-sama aliran karate yang diakui di tingkat dunia, tetapi sulit rasanya menggabungkan keduanya.

Kembali pada persoalan banyaknya karateka aliran full body contact yang tampil di TPI FC tampaknya tak lepas dari program kerja organisasi-organisasi karate, misalnya dalam hal event karate. Hampir sebagai besar perguruan hanya mengadakan kejuaraan tingkat nasional sekali dalam setahun, kemudian tingkat daerah juga setahun sekali. Kalaupun ada event, itu mungkin lebih bersifat turnamen (terbatas).

Kekurangan event karate itulah yang menjadi salah satu penyebab, mengapa banyak atlet yang ''lari'' ke ring TPI FC tadi. Itu bukan kesalahan pengurus perguruan, melainkan kesalahan semuanya terutama mereka yang mengaku sebagai pembina karate.

Di Jawa Tengah misalnya, setidaknya sudah ada sasana yang pernah menyertakan atletnya dalam ''kontes serbabisa'' itu. Sasana Gelora Massa Semarang yang dibina Setyo Adi, sudah beberapa kali atletnya tampil di TPI FC. Sebut saja Lukman, Deny Trubus, Robert. Mereka atlet-atlet potensial di arena karate.

Adakah proses itu merupakan ''pengebirian'' terhadap karate itu? Persoalannya bukan dikebiri atau pengebirian, melainkan fenomena itu jelas merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh para pembina olahraga, terutama dari cabang bela diri. Itu artinya, para pembina harus mencari ''panggung'' yang lebih banyak untuk menampung keinginan para atlet untuk tampil di atas pentas. (Drs Hananto Prasetyo SH, karateka Dan IV yang tinggal di Purwokerto-22j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA