logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 11 November 2002 Olahraga  
Line

Rivalitas PSIS dan Persijap

Rebutan Pemain Menjadi Ganjalan Utama

''KAMI berharap, pemain Persijap Yunior ditampung di tim senior. Jika pemain yang telah dibina lari ke tim lain, kita rugi,'' kata Manajer Persijap Yr H Setiyono SE MM. Manajer yang mengantarkan Persijap Yr dua kali juara nasional dan memboyong Piala Suratin 1998 dan 2002 itu mengaku kecewa, karena salah seorang bintang Persijap Yr 2000/2001 Erick Setiawan (libero), akhirnya batal memperkuat tim senior yang dilatih Riono Asnan. Pemain jebolan Diklat Ragunan Jakarta itu diambil Persib dan terakhir dibeli Persebaya dengan harga mahal. Padahal, sewaktu di Persijap, permintaan kontrak dan gajinya kecil.

Belum hilang ingatan soal hengkangnya Erick, kejadian serupa terulang pada tim senior yang dipersiapkan untuk kompetisi Divisi I 2003. Dwi Adi Yuono (libero/stopper) yang membela Persijap Yunior dua tahun, akhirnya mengikuti jejak Erick.

Pemain yang digadang-gadang manajemen dan pelatih Persijap Yr dapat memperkuat tim Persijap senior, akhirnya pulang kandang ke pangkuan PSIS. Padahal, pemain yang menjadi the real captain Persijap Yr itu, sejak awal sangat ingin dan betah di Jepara.

Janjinya pun sudah dia buktikan. Rampung perhelatan kompetisi Piala Suratin, bersama beberapa kawannya dia bergabung ke tim yang dilatih Benny Hartono. Penampilan pemain asal Semarang itu pun memenuhi standar. Karena itu, Benny pun merekomendasikan untuk direkrut.

Persoalan muncul ketika negosiasi oleh manajemen senior tidak mulus. Entah sekadar harga kontrak dan gaji yang kurang cocok, ataukah ada ''malpraktik'' dalam mendekati pemain muda. Yang terucap dari penuturan pemain muda itu, dia sangat kaget dengan model pendekatan di tim senior.

Tim pelatih pun sudah ikut urun rembuk dengan memberikan jalan tengan yang menguntungkan pemain dan manajemen. Para pemain muda yang hebat sewaktu di yunior butuh pengalaman tanding dan ujian di tim senior. Minimal mereka menunggu hingga satu kompetisi selesai, untuk menunjukkan kualitas dan harga jual pada kompetisi berikutnya. Jika benar-benar terbukti bagus, tim mana pun akan berebut memakainya.

Keraguan manajemen langsung membayar dengan harga tinggi-di atas pemain senior yang berpengalaman-juga wajar. Ibarat membentuk pasukan, yang sudah dihadapkan pada perang di depan mata, butuh pasukan yang sudah kaya pengalaman tempur.

Walau begitu, patut juga diingat, dalam ''laskar'' toh terkadang ada juga bintang muda yang mempunyai potensi dan bakat besar. Hal itu membutuhkan kejelian. Memburu pemain muda berbakat, ibarat menanam modal. Tugas pelatih dan manajemen menumbuhkannya menjadi besar.

Berbicara soal hubungan pemain dengan pelatih dan manajemen tidak cukup sekadar ''hitam-putih'' kertas kontrak. Ada sisi-sisi manusiawi yang terkadang bagi pemain itu lebih penting. Pemain boleh mengaku profesional. Namun, mereka tetap akan lebih senang jika menjumpai para pengurus yang dapat berperan sebagai orang tua.

Rivalitas Lama

Hengkangnya Dwi Adi Yuono ke PSIS, mengingatkan rivalitas dua tim pesisir utara tersebut, sejak tiga tahun terakhir. Sebelum itu, ada pemain-pemain didikan Puslat PSIS yang bergabung di Persijap, antara lain Dwi Setiawan (Wawan) dan Firman Sukmono. Setelah mendapat pengalaman bertarung di kompetisi Divisi I, mereka pulang kandang dan masuk tim PSIS. Tidak ada nuansa rebutan pemain dalam proses kepindahan itu.

Persaingan di tim senior mulai tampak ketika Laskar Kalinyamat berhasil masuk Divisi Utama pada tahun 1999/2000. Sebaliknya, pada waktu bersamaan, PSIS yang baru meraih Juara KLI V, terkena degradasi ke Divisi I.

Pembentukan tim Persijap Divisi Utama musim tahun 2000/2001 dan tim PSIS Divisi I tahun yang sama pun langsung diwarnai saling serobot pemain. Melihat tim yang tersungkur, banyak pemain PSIS mencoba peruntungan ke Persijap. Tercatat ada kapten tim Bonggo Pribadi, Untung Sudrajat, dan Restu Kartiko. Selain itu, gelandang asal Brasil, Arilson de Oliviera yang menggandeng kawannya, Gabriel.

Para pemain yang sempat berlatih dan bermain dalam pertandingan tidak resmi di bawah kostum Persijap itu akhirnya hengkang ke PSIS lagi. Bahkan, Oliviera dan Gabriel yang sudah menandatangani kontrak pun akhirnya memilih batal. Mungkin faktor pengalaman mengelola tim menjadi salah satu penyebabnya. Namun, setelah berjalan tiga tahun, apakah belum ada pengalaman yang terserap? Bukankah PSS Sleman (yang dulu sekelas Persijap) dapat menapak prestasi lebih bagus? Soal dana juga bukan alasan. Toh musim kompetisi lalu, masih ada sisa dana, dari total anggaran yang Rp 1,5 miliar. Sebagian dana ditopang APBD II Jepara dan bantuan Pemprov Jateng.

Ada satu hal lagi yang patut diperhitungkan. Peta tim senior dan yunior berbeda jauh. (Sukardi-77e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA