
| Senin, 11 November 2002 | Internasional |
ProfilHu Jintao, Generasi Keempat yang Tunggu GiliranBEIJING - Selama 10 tahun, Hu Jintao yang menunggu dengan cemas untuk menjadi pemimpin Cina berikutnya, mengasah keterampilan politik sambil terus membiarkan dunia internasional menebak pribadi dan pandangan politiknya. Ketua Partai Komunis sekaligus Presiden Cina, Jiang Zemin (76), diduga akan meletakkan jabatan pada kongres partai saat ini, meski ada selentingan yang menyebutkan dia berencana melanjutkan jabatannya. Hu (59) mungkin harus menunggu beberapa lama lagi. Apa pun yang terjadi, dia tetap pemimpin boneka dari ''generasi keempat'' kepemimpinan Cina setelah Mao Zedong, Deng Xiaoping, dan Jiang. ''Hu dalam berbagai hal jauh lebih mampu daripada Jiang,'' kata Cheng Li, profesor ilmu pemerintahan di Kolese Hamilton, New York. ''Ada perbedaan nyata di antara mereka.'' Para pengkritik mengatakan Hu tidak punya kharisma dan keahlian kepemimpinan untuk memimpin negara berpenduduk terbesar (satu miliar lebih) di dunia itu, dengan perekonomian tumbuh tercepat di Asia. Bagi pengamat luar negeri, dia benar-benar tidak mudah dimengerti. Dengan rambut hitamnya yang klimis, kemeja sombre dan senyum ramah, dia diam-diam bergabung dalam Komisi Kerja Politbiro beranggotakan tujuh orang. Namun dalam beberapa hal, sikap tidak jelas Hu merupakan kekuatannya. Dia hormat dan loyal terhadap garis politik Cina dan spektrum regional, serta membuktikan ketangkasan membangun konsensus di antara mereka (sebuah keahlian penting dalam kepemimpinan kolektif), kata para analis. Tahun lalu, dia mengembangkan pendirian internasionalnya dengan melakukan perjalanan ke Eropa dan AS, serta dua pertemuan dengan Presiden AS George W Bush. Dan dia melakukan semua itu tanpa merendahkan martabat Jiang. ''Dia harus berhati-hati secara politik, karena dia tahu terlalu banyak. Dalam sejarah Partai Republik Cina (PRC), banyak pewaris yang ditunjuk jatuh secara tiba-tiba,'' kata Li. Bangun Pendukung Promosi cepat Hu ke dalam Komisi Kerja, yakni badan pengambil keputusan puncak partai, pada 1992 dapat menjadi piala beracun. Dalam usia 49 saat menjadi anggota, dia sejauh ini anggota termuda di komisi tersebut. Insinyur hidrolik terlatih, Hu mengasah taring politiknya di Guizhou yang sangat miskin dan kemudian di Tibet, tempat dia memperoleh penghargaan karena mengambil tindakan keras terhadap para demonstran prokemerdekaan pada 1988-1989. ''Bertahun-tahun kerja di daerah pelosok dan miskin yang dihuni oleh etnis minoritas, membentuk watak Hu dan membangun barisan pendukung yang setia terhadap kebijakannya mengenai reformasi dan keterbukaan,'' tulis biografi resmi di web site People's Daily, koran Partai Komunis Cina. Pemimpin partai di Tibet saat ini, Guo Jinlong, menggambarkan dirinya sebagai seorang lelaki dari rakyat, seorang pengubah ekonomi tapi seorang yang kukuh secara politik. ''Dia orang yang tenang di hadapan khalayak umum dan sangat dihormati,'' kata Guo. ''Tentu saja, dalam membela sikap dasar kami terhadap separatisme Tibet, dia menjadi sangat tegas.'' Tapi menurut selentingan yang menyebar luas, Hu hampir tidak pernah berada di Tibet, karena dia tidak bisa tinggal di ketinggian (Tibet berada di kaki Himalaya) dan terlalu sibuk melakukan manuver politik untuk meraih kedudukan di kepemimpinan puncak Beijing. Ketika berada di ibu kota Cina itu, dia segera bekerja di sekretariat partai. Di sekretariat itulah dia membantu Jiang menjalankan aparat partai. Tetap Teka Teki Pada 1993, dia mengambil alih Sekolah Partai Sentral. Semasa di bawah pengawasannya, sekolah itu mulai memelajari cara-cara mengubah partai sesuai garis partai-partai sosialis di berbagai belahan dunia lain. Kedudukannya sebagai pengganti Jiang dikukuhkan, ketika dia menjadi wakil presiden pada 1998 dan wakil ketua Komisi Militer Sentral pada 1999. Berbagai pos yang diisinya telah meninggalkan jaringan partai yang membentang, baik di jajaran provinsi maupun militer, walaupun tidak mendominasi salah satu di antaranya, kata analis. Sekutu terdekatnya berasal dari orang-orang semasa dia di Universitas Tsinghua dan di Liga Pemuda Komunis, yang pernah dia pimpin. Tapi bahkan bagi rekan-rekannya, dia tetap menjadi teka teki. Para pejabat Cina dan analis mengatakan, mereka tidak banyak tahu mengenai hal-hal pribadi Hu, kecuali bahwa dia suka berdansa, tenis meja, dan konon dia punya memori fotografis. Sebagian orang menyebutnya sebagai politikus garis keras, yang mengarah pada perannya di Tibet dan pidatonya yang mendukung demonstran anti-AS setelah pengeboman NATO pada Kedubes Cina di Belgrado pada 1999. Sebagian lainnya mengatakan, dia hanya mematuhi perintah dan melihat perannya di sekolah partai tersebut sebagai suatu langkah awal dari reformasi politik yang lebih bernuansa petualangan. Hu sendiri menolak penggambaran dirinya sebagai seorang misterius. ''Penggambaran itu tidak adil bagi saya,'' kata dia dalam sebuah wawancara tanpa persiapan, di Malaysia belum lama ini. Tapi dia akan tetap seperti itu.(rtr-ben-30) |