logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 8 November 2002 Surat Pembaca  
Line

Normalisasi Sungai Kaligarang

Kami tinggal di Desa Delik Kelurahan Sukorejo, Gunungpati yang letaknya berdekatan dengan Tugu Suharto Semarang. Hampir setiap tahun warga selalu kebanjiran. Apalagi sebelah utara dan timur desa, yaitu di daerah Kelurahan Bendan Duwur, sudah dibuat tanggul di bantaran sungai.

Dikhawatirkan pada saat hujan deras air akan cepat masuk ke rumah-rumah warga kami. Hal ini akan berpengaruh pada kepanikan penduduk yang trauma saat terjadi banjir bandang. Untuk itu kami mewakili warga menyampaikan keluhan kepada Bapak Wali Kota untuk mengatasi masalah tersebut.

Kami mohon normalisasi Sungai Kaligarang mulai dekat Tugu Suharto sampai belakang pasar Sampangan. Alasannya di tepi sungai itu sudah dimanfaatkan oleh penduduk menjadi ladang pisang, ketela dan lainnya.

Apalagi di belakang pasar depan Pom Bensin Sampangan, ada pulau di tengah sungai yang menghambat aliran air. Kami mohon normalisasinya dapat terlaksana dengan segera.

Atau kami warga diberi bantuan dana membuat tanggul untuk mengimbangi tetangga kami yang sudah membuat tanggul lebih dulu. Kalau tidak ada tanggul, air yang mestinya melebar ke utara akan terkonsentrasi ke wilayah kami Desa Delik.

Adanya tugu di tengah sungai tempuk akan berpengaruh lajunya aliran air dan untuk itu dapat dipertimbangkan jalan keluarnya.

Solichin
Delik Rt 3/Rw 6 Sukorejo Gunungpati Semarang

***

IPK Harus 2,75 ?

Melihat pengumuman penerimaan CPNS, saya merasa senang. Akan tetapi setelah membaca dengan seksama ternyata ada syarat IPK 2,75 untuk semua jurusan. Saya teringat iklan lowongan kerja di Suara Merdeka ada persyaratan IPK. Tetapi masih dikategorikan untuk Ilmu Sosial dan Ilmu Eksata (Teknik).

Namun di CPNS diberlakukan sama dengan swasta, padahal PNS notabenenya milik rakyat. Saya sangat kecewa dan mungkin masih banyak teman-teman kami (alumni Fakultas Teknik) yang untuk meraih IPK 2,5 saja harus kerja ekstra keras.

Perlu diketahui Panitia CPNS Kota Tegal, untuk daerah Semarang, Pemalang dan lainnya saja tidak ada syarat IPK, mengapa di Tegal kok tega-teganya ada syarat IPK Negeri dan Swasta. Suatu diskriminasi terhadap PTS.

Kalau CPNS diswastakan mungkin itu hal yang wajar. Atau mungkin panitia tidak mau direpoti dengan banyak pelamar. Kalau memang harus ada syarat IPK, dengan segala kerendahan hati tolong dibedakan antara Ilmu Sosial dan Eksata. Kami ikut tes saja sudah merasa senang.

Teguh Haris Santoso ST
Penusupan Rt 1/Rw 7 Pangkah Tegal

***

Saya Mencari Orang Tua Asuh

Saat ini saya kuliah semester VII di PTS Semarang, tetapi orang tua sudah tidak mampu membiayai sejak semester III. Sekarang hidup saya mandiri total, tidak mendapat sepeser pun uang saku dari orang tua. Uang kuliah, transpor, makan dan kebutuhan lainnya saya tanggung sendiri.

Saya penuhi semua kebutuhan dengan bekerja sebagai guru les. Namun saya takut karena bekerja sebagai guru les itu bagai telur di ujung tanduk. Apalagi kuliah saya menjelang skripsi. Saya ingin mencari orang tua angkat/bapak/ibu yang sanggup membantu saya menyelesaikan kuliah.

Reni
Unika Soegijapranata Semarang

***

Budidaya Walet di Perumahan Warga

Kami warga RW 3 Argajaya Kalinegoro Magelang telah dua kali mengadukan keluhan kepada Bupati dan ketua DPRD. Isi surat mengadukan di kompleks RW kami dijadikan budidaya burung sriti/walet. Namun surat tersebut sampai sekarang tidak ada tanggapan.

Padahal keadaan ini meresahkan warga dan telah pula diadakan angket oleh RW yang hasilnya 74 % warga menolak kegiatan budidaya tersebut. Kami dan warga sadar, pembangunan perumahan pada hakikatnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tinggal keluarga yang nyaman aman dan tenteram.

Tetapi dengan banyaknya budidaya burung sriti/walet di kompleks kami kenyamanan dan keamanan terganggu. Belum nanti bila berdampak mencemari lingkungan dan terkena virus seperti di Purworejo dan daerah lain.

Kami imbau pemilik rumah budidaya burung tersebut agar memfungsikan rumahnya sebagai tempat tinggal. Budidaya burung sriti/walet di perumahan padat adalah perbuatan tidak ramah lingkungan.

Suprapto
Jl Sindoro 33 Kalinegoro Mertoyudan Magelang

***

Permohonan maaf

Mohon maaf atas kesalahan dalam tulisan saya tentang "Petugas Buser" yang meminta SIM dan STNK anak saya. (Suara Merdeka 26 Oktober 2002). Yang benar adalah salah satu anggota Kepolisian yang tidak saya ketahui dari kesatuan mana. Demikian pembetulan saya lakukan.

Sumaryadi AMA
Guru SDN Citarum

***

Surat Buat Pak Mardiyanto

Ironis menyaksikan suasana tempat-tempat hiburan di Kuta Bali sebelum meledaknya bom, kaum laki-laki setengah telajang berjingkrak-jingkrak kayak gitu. Saya tidak dapat membayangkan bila beberapa generasi mendatang kepribadian kita akan seperti itu juga, atau bahkan mungkin sudah.

Meski di sekolah diajarkan harus selektif dalam menerima budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian, seberapa pun besarnya devisa yang kita terima. Kejamkah teroris itu. Bom meledak, para korban tubuhnya hancur atau hangus, mati atau terluka, histeris, ada pertolongan dan selesai sudah.

Sedang para pelaku kemaksiyatan di sekitar kita seperti perjudian, lokalisasi PSK, pornografi, tempat hiburan terancam azab neraka. Sesungguhnya, dalam hal ini lebih kejam yang memberi izin dan membiarkan kemaksiyatan. Agar Jateng mulai, Pak Mardiyanto mari bekerja.

M Fauzi
Jl Sanggrahan Sumowono Kabupaten Semarang

***

Mohon Bantuan Alumni Akaba '17'

Saya gadis 28 tahun, masuk Akaba '17' jurusan Bahasa Inggris, vokasional office management, baru lulus 2002. Mei lalu seharusnya wisuda, namun tidak dapat mengikuti karena saya dinyatakan dokter positif terkena Eendometriosis.

Sebelum penyakit itu diangkat, sementara waktu saya akan mandul/tidak punya anak. Uang berobat tersebut seharusnya untuk biaya wisuda. Saya lebih memikirkan keselamatan diri. Kalau sedang mens rasanya mau pingsan.

Padahal saat ini saya masih menganggur. Saya hanya memiliki transkrip akademik asli (fotokopi terlampir). Padahal bila melamar pekerjaan pasti mereka meminta ijazah asli.

Untuk itu saya mohon Bapak/Ibu alumni Akaba '17' Semarang yang sudah mapan sudi kiranya menyisihkan sedikit rezeki bagi adik kelasmu yang sedang memerlukan biaya untuk mengambil ijazah asli.

Saya anak pertama dari empat bersaudara yang semuanya masih sekolah dan orang tua tinggal ibu usia 57 tahun yang saat ini sakit terserang osteoporosis. Dana yang saya butuhkan Rp 350 ribu. Rekening saya BCA 25202205059. Bila ingin menghubungi secara pribadi bisa melalui redaksi harian ini.

Kurnia
Tinjomoyo Semarang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA