
| Jumat, 8 November 2002 | Sala |
Akan Diresmikan PresidenPembangunan Balai Kota DikebutBALAI KOTA- Penyelesaian pembangunan tahap I Balai Kota Surakarta dengan cara dikebut, menurut anggota Komisi D DPRD Drs Agus Priyono, memang harus diprioritaskan. Apalagi pada minggu ketiga Desember nanti, pusat pemerintahan Kota Solo yang dibakar massa pada kerusuhan 20 Oktober 1999 yang kini dipulihkan itu akan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri. ''Kalau akan diresmikan Presiden, memang utamakan penyelesaian proyek sesuai dengan jadwal. Tapi ingat, kontraktor jangan mengabaikan kualitas bangunan. Komisi D akan terus mengawasi perkembangan perampungan pekerjaan fisik yang katanya tinggal 15% itu,'' kata Agus, Kamis (7/11) kemarin. Dia mengharapkan pihak-pihak terkait dengan proyek itu, seperti konsultan pengawas, tetap menjalankan tugas secara maksimal sehingga selain dapat cepat rampung, kualitas bangunan tak perlu diragukan. YMT Kepala DPU Ir Sundjoyo saat mendampingi kunjungan lapangan Komisi D, Senin lalu mengungkapkan, pembangunan kembali Balai Kota tahap I yang meliputi pendapa, kantor Wali Kota (memanfaatkan bekas Gedung DPRD), perkantoran sayap kanan dan kiri, serta beberapa bangunan penghubungnya sudah sekitar 85%. ''Pembangunan tahap I ditargetkan rampung Desember. Diharapkan peresmian Balai Kota dilakukan Presiden Megawati pada minggu ketiga Desember nanti. Makanya, penyelesaiannya dikebut. Setiap hari pekerja lembur hingga malam hari,'' kata dia. Tersedia Dalam pengamatan Agus Priyono, bahan-bahan untuk penyelesaian proyek tahap I Balai Kota sudah tersedia di lokasi pembangunan. Dengan ini penyelesaian pekerjaan yang kurang sekitar 15% itu bisa dituntaskan. ''Soal nilainya yang besar, saya lihat wajar karena bahan-bahannya bagus. Seperti talang dan ornamen dalam terbuat dari tembaga, kayu jati kelas I, dan lantai granit dengan nat kuningan, memang bukan barang murah,'' kata Agus. Fisik bangunan pendapa yang luasnya sekitar 1.000 m2 sangat megah. Dinding sekelilingnya terbuat dari kayu jati kelas satu dengan ukiran-ukiran di berbagai tempat, dipadu dengan kaca. Bangunan bermodel joglo dengan nilai sekitar Rp 9 miliar itu disangga dengan 36 tiang. ''Tiang utamanya empat buah, yang disebut saka guru dengan cor beton 60 cm X 60 cm. Lalu diperkuat saka rawa dan saka penanggep. Semuanya nanti dilapis kayu jati kelas satu, berukir,'' jelas Sundjoyo. Untuk penerangan, sudah disiapkan beberapa unit lampu robyong kuningan. (D11-51c) |