
| Senin, 28 Oktober 2002 | Tajuk Rencana |
Sumpah Pemuda di Tengah-tengah Isu Bom- Hari ini, Senin 28 Oktober 2002, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan tentang tekad bersatu, dalam ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia. Ikrar itu dikumandangkan oleh pemuda-pemudi di Wisma Indonesia, Jalan Kramat 106 Jakarta, 74 tahun silam. Ketika itu para pemuda, penerus bangsa, berikrar untuk bersatu, terbebas dari kolonialisme Belanda, termasuk terbebas dari upaya pemecahbelahan lewat politik devide et impera. Ketika itu, muncul kesadaran bahwa bangsa ini harus bersatu dan membebaskan diri dari penjajahan. Meskipun secara formal negara Republik Indonesia belum lahir, namun kesadaran tentang persatuan dan kesatuan sudah ada, bahkan meledak-ledak di setiap dada putra Pertiwi.
- Masih relevankah peringatan Hari Sumpah Pemuda? Pertanyaan ini mungkin terasa naif atau bahkan bodoh, namun mungkin juga menyiratkan rasa frustrasi. Mengapa frustrasi? Sebab, pertanyaan itu dapat muncul dari kefrustrasian melihat keadaan Republik ini yang makin amburadul, makin jauh dari cita-cita Sumpah Pemuda. Ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, terasa hanya berada di awang-awang sana, menjadi retorika yang tidak membumi di aras kenyataan. Sumpah Pemuda menjadi semacam ''dunia lain'', yang tidak harus bersentuhan dengan realitas yang dihadapi bangsa ini sekarang. Sumpah Pemuda ya Sumpah Pemuda, sedangkan keadaan riil ya keadaan riil yang penuh ancaman disintegrasi dan konflik multidimensional.
- Dalam konteks itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda justru menjadi relevan. Setidak-tidaknya, peringatan itu akan mengingatkan bahwa bangsa ini dulu pernah berikrar untuk bersatu, tidak terpecah belah. Itu penting ketika peringatan dilakukan di tengah-tengah ancaman disintegrasi dan ketercabikan bangsa ini oleh berbagai kepentingan pribadi atau kelompok (vested interest). Kepentingan-kepentingan itu dapat berlatar belakang politik, ekonomi, sosial, ideologi, dan keagamaan. Motif-motif kepentingan itu, pada dasarnya akan bermuara pada faktor kekuasaan. Perebutan kekuasaan, itulah kata yang mungkin paling tepat untuk menyebutnya. Kekuasaan yang dapat mendorong orang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. - Peringatan Hari Sumpah Pemuda justru penting, ketika Republik ini diterpa berbagai isu bom. Bom sudah meledak di Legian Bali, di Manado, dan sebelumnya di tempat-tempat lain. Tidak berhenti di situ, ancaman bom pun kemudian merebak ke mana-mana; di mal-mal, di hotel-hotel, di gedung-gedung pemerintah, dan di tempat-tempat umum yang lain. Republik ini mungkin sudah menjadi ''Republik Bom'', setelah sebelumnya diberi julukan ''Republik Tersangka'', ''Republik Koruptor'', atau ''Republik Seolah-olah'' karena segala sesuatu hanya berlangsung secara seolah-olah, tidak sungguh-sungguh. Berita tentang bom sudah menjadi berita sehari-hari, yang mungkin saja suatu saat nanti tidak lagi mengagetkan masyarakat karena sudah terbiasa.
- Sebaiknya kita tidak melihat isu bom itu hanya sebagai isu bom belaka. Kita perlu melihat agenda yang tersembunyi di baliknya. Agenda itu, tentu tidak jauh-jauh dari upaya untuk mengacau ketenangan masyarakat, ketenteraman bangsa, serta memecah-belah persatuan dan kesatuan. Pelakunya pastilah tidak menginginkan bangsa ini tenteram, hidup rukun, bersatu dalam Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia. Pelakunya pastilah orang-orang yang menginginkan bangsa ini terpecah belah, kemudian mereka akan mengambil peluang, ''mengail di air keruh'', memanfaatkan kekacauan untuk mencapai kepentingan tertentu. Itulah sebabnya, peringatan Hari Sumpah Pemuda perlu dilakukan, agar kita ''kembali ke khittah''.
- Peringatan itu seyogianya menyadarkan kita semua untuk tidak mudah diadu domba seperti ketika kita diadu domba oleh kolonial dengan politik devide et impera. Politik adu domba itu dapat berwajah sosial, politik, ekonomi, dan (ini yang paling berbahaya) berwajah agama. Adu domba itu dapat muncul dari kekuatan luar negeri, tapi dapat pula muncul dari dalam negeri. Kalau bangsa ini tidak waspada, bukan mustahil akan makin tercabik-cabik, terpecah belah, dan makin jauh dari cita-cita Sumpah Pemuda. Cita-cita bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kita memang perlu melakukan perenungan yang serius mengenai semua ini. |