
| Senin, 28 Oktober 2002 | Sala |
TERASPasar sebagai Sumber PAD Belum OptimalPASAR bukan hanya sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat semata. Namun sekaligus menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) melalui penarikan retribusi. Di sisi lain, Pemkab memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan pasar tersebut. Berikut wawancara Suara Merdeka dengan Kepala Dinas Pengelolaan Kekayaan Daerah (DPKD) Pemkab Sukoharjo, Drs Harry Soetrisno SH MSi. Apa sebenarnya wewenang DPKD terhadap pasar di Sukoharjo ? Sebenarnya tugas kita bukan hanya terkait dengan pasar saja. Namun juga termasuk seluruh aset tanah dan bangunan milik Pemkab serta sarana sosial, olah raga dan barang bergerak. Untuk pasar sendiri bagaimana ? Memang, pasar membutuhkan penanganan yang serius. Bukan hanya karena menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Tetapi juga penyumbang PAD. Berapa sumbangan retribusi pasar terhadap PAD Sukoharjo ? Dari 22 pasar yang dikelola, dari target retribusi tahun 2001 sebesar Rp 1,254 miliar terealisasi Rp 1,317 miliar atau mencapai 105%. Sedangkan tahun 2002 ini ditargetkan Rp 1,317 miliar dan sampai dengan Agustus 2002 sudah masuk Rp 927,074 juta. Kita optimistis dapat melampui target yang ditetapkan. Dari dana atau retribusi yang masuk, berapa rupiah yang kembali untuk menangani pasar ? Di sinilah persoalannya. Kita hanya mendapatkan dana operasional pemeliharaan pasar sebesar Rp 500 juta/ tahun. Anda tahu, apa yang bisa dilakukan dengan dana sekecil itu. Tetapi saya mendengar beberapa pasar akan direhab. Lalu darimana dananya diperoleh ? Kalau melihat dana yang tersedia jelas tidak mungkin cukup. Untuk itu kita berusaha menggandeng investor seperti saat membangun Pasar Kartasura dulu. Hal yang sama akan kita terapkan untuk rencana pembangunan Pasar Bekonang. Namun tentu saja membutuhkan rencana yang matang dan melibatkan semua instansi terkait termasuk DPRD dan pedagang setempat. Kenyataannya setiap selesai dibangun, lingkungan pasar semrawut ? Itu tidak bisa dipungkiri, karena sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi maka otomatis pasar banyak dilirik warga untuk mencari rejeki. Berdasarkan data yang kita peroleh, pertumbuhan jumlah pedagang mencapai 25%/tahun. Bila pertambahan tersebut tidak diantisipasi sejak dini, maka kondisi pasar menjadi semrawut karena tidak mampu memuat jumlah pedagang. (Joko Murdowo-70) |