
| Senin, 28 Oktober 2002 | Olahraga |
Irene Ingin Keliling Dunia lewat CaturSEKALIPUN masih duduk si kelas VI SD, prestasi Irene Kharisma di cabang olahraga catur patut mendapat acungan jempol. Terbukti, saat mengikuti Turnamen Catur Pelajar yang diadakan oleh Percasi Jateng di Solo, tanpa kesulitan dia meraih nilai penuh 7 atau membabat semua lawannya. Turnamen yang berakhir Sabtu malam lalu itu menggunakan sistem swiss tujuh babak. Total diikuti 55 siswa dari berbagai daerah, termasuk Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Barat. Pecatur cilik wanita asal Palembang itu merupakan anak kedua pasangan Sigih Yehezkiel-Ratna. Pada akhir turnamen, dia bersama kakaknya MP Kaisar Jenius yang bertanding di kelompok SLTP keluar sebagai juara. Kejuaraan catur pelajar itu berlangsung di Wisma Karya. Bersamaan dengan kejuaraan ini, juga digelar Golkar Solo Gadjah Mada Cup II yang diikuti tiga grand master Indonesia, di tempat yang sama. Kejuaraan kelompok senior itu akhirnya dijuarai Master Nasional Tirto yang mewakili Sumatera Selatan. Pindah Gadis kelahiran Palembang 7 April 1992 itu saat ini mengikuti orang tuanya pindah ke Jakarta. Ayahnya bekerja di Deptan. Bersama kakaknya, dia menambah ilmu caturnya di Sekolah Catur Utut Adianto. ''Tidak ada bakat keturunan dari orang tua. Mereka menekuni olahraga catur sejak duduk di SD,'' kata Ny Ratna mengenai kedua anaknya. Ditemui seusai menyelesaikan partai V, anggota The Dream Team II yang dipersiapkan untuk memperkuat tim catur nasional di SEA Games mendatang ini mengaku bercita-cita menjadi ahli sejarah. Dia juga ingin menyaksikan langsung tujuh keajaiban dunia, sekaligus menjadi juara dunia catur. ''Melalui catur aku ingin keliling dunia. Aku ingin melihat Candi Ankor Watt di Kamboja, menara miring Pisa di Italia, air terjun Niagara di Amerika Serikat, dan masih banyak lainnya,'' katanya. Prestasi terakhir di kelompok pelajar tingkat nasional bagi siswi klas VI SDN 03 Pagi Kebayoran Lama Jakarta Selatan ini adalah keluar sebagai juara pada Kejurnas KU 12 tahun Mei 2002, di Palembang. Meskipun usianya masih 10 tahun, dia juga ikut sirkuit KU 14 tahun di Bekasi tahun lalu. Senior Mental serta pengalaman Irene sudah tertempa, karena dia pernah terjun di beberapa kejuaraan lintas negara, seperti ikut turnamen catur ASEAN di Malaysia serta turnamen beregu KU 12 tahun di Singapura. ''Padahal, saat itu dia baru berusia 9 tahun,'' kata Ny Ratna. Irene telah dua kali mengikuti Aniswati Memorial Cup (2001 dan 2002), sehingga telah merasakan bertanding melawan pecatur-pecatur senior wanita. Prestasinya untuk atlet semuda dia tidaklan mengecewakan. Pada Aniswati I meraih peringkat XI untuk catur cepat dan nomor XII untuk catur klasik. Namun pada Aniswati II bulan ini juga, dia meraih juara V untuk catur cepat dan juara II untuk catur klasik. Ny Ratna yang mendampingi dua anaknya di Solo menjelaskan, baik Irene maupun Kaisar tidak terganggu studinya, sekalipun serius dalam menekuni catur. Bahkan, Irene selalu menduduki peringkat teratas. ''Dalam pelajaran di sekolah, dia selalu dapat mengatasi ketertinggalannya,'' jelasnya. Bila sang adik ditunjuk bergabung dengan The Dream Team II, sang kakak masuk dalam The Dream Team I.(Bambang Seto-22t) |