
| Senin, 28 Oktober 2002 | Olahraga |
Mental Karateka Harus DibenahiJAKARTA-Mentalitas bertanding karateka Indonesia harus segera dibenahi untuk meraih prestasi dalam setiap kejuaraan internasional. Kegagalan di Busan harus menjadi pelajaran berharga bagi setiap insan cabang olahraga ini di seluruh Indonesia. Secara teknis Arief Taufan dan kawan-kawan dinilai bagus. ''Mereka tampil bagus di babak awal. Itu juga sesuai dengan target FORKI. Sayangnya mereka gagal di babak akhir. Mungkin penyebabnya mentalitas bertanding yang labil,'' jelas Ketua Umum Kyokushinkai Karate-do Indonesia (KKI) Oesman Sapta Odang di Jakarta, baru-baru ini. Karateka muda Indonesia, ujarnya, harus terus dipacu untuk ikut berbagai turnamen internasional. Mereka juga harus terus diberi penyadaran bahwa menjadi atlet nasional bukanlah beban. Menjadi atlet nasional justru prestise. ''Mereka jangan sampai terkena beban mental. Beban mental menjadikan teknik yang dimiliki karateka tidak keluar saat bertanding. Mereka juga mestinya harus fight dari menit awal hingga akhir,'' papar Bendahara Umum PB FORKI. Strategi Khusus PB FORKI mengirimkan lima karatekanya ke Busan. Muhammad Hasan Basri meraih medali emas. Bambang Mauliddin mendapatkan perunggu. Karateka lainnya, yakni Jeanny Zeannet Lolong, Sonny Simangasing, dan Arief Taufan tidak berprestasi maksimal. ''FORKI juga harus punya strategi khusus. Misalnya, harus mengetahui jumlah kontestan di kejuaraan internasional. Di Busan, kecolongan pada nomor kata beregu. Nomor itu ternyata diikuti empat negara. Macao dan Srilanka yang kemampuannya di bawah kita saja dapat medali,'' tutur Oesman Sapta. Dia menandaskan, makin banyak kompetisi akan makin mengasah mentalitas bertanding karateka Indonesia. Sukses Vietnam dan Malaysia di Busan harus ditiru. Kedua negara tersebut sering sekali mengirimkan karatekanya ke berbagai kejuaraan internasional bergengsi. (D3-22t) |