
| Senin, 28 Oktober 2002 | Berita Utama |
Hambali dan Tuduhan Teroris (1)Keluarga Memanggilnya Encep
MESKI telah terpublikasikan secara luas, mencari tempat tinggal orang tua Hambali yang dituduh sebagai peledak bom di Antapati Bandung tidaklah mudah. Selain karena nama Hambali tidak hanya satu, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu juga ada paling tidak empat desa bernama Sukamanah, yaitu di daerah Ciranjang, Karangtengah, Sindanglaka, dan Cipanas. Karena itu, jangan heran bila di kota Cianjur kita bertanya nama Hambali dari Sukamanah, tidak ada yang tahu. Bahkan, aparat di Polsek Ciranjang dan Koramil Karang Tengah pun tidak tahu nama itu. Mereka balik bertanya, Desa Sukamanah mana yang dicari. ''Maaf kami tidak tahu, Hambali tinggal di Desa Sukamanah yang mana,'' kata aparat Koramil di Karang Tengah. Mencari desanya pun sulit, apalagi mencari orang bernama Hambali yang aslinya bernama Encep Nurjaman. Buktinya, Ketua RT di Kampung Pamokolan, Sukamanah, ketika disodorkan nama Hambali, dia menunjuk tempat Ustaz Hambali yang anggota DPRD. Baru setelah disebut nama Hambali yang dituduh sebagai teroris, Ketua RT itu mengantarkan ke rumah orang tua Encep Nurjaman. Adanya tuduhan bahwa Hambali adalah otak peledakan bom di beberapa tempat di Indonesia, nama Kampung Pamokolan, Desa Sukamanah, Kecamatan Karang Tengah, Cianjur, tempat lahir Encep Nurjaman, menjadi ramai dibicarakan orang. Keluarga Encep pun disibukkan oleh kedatangan wartawan dari berbagai media. ''Terus terang, kami merasa terganggu oleh kedatangan tamu yang menanyakan perihal Hambali. Padahal, keluarga kami tidak ada yang bernama Hambali. Yang ada hanyalah Encep Nurjaman. Itu pun kami jarang ketemu. Bahkan, selama 12 tahun kami pernah putus hubungan dengan Encep,'' kata Dani, sepupu Encep. Penegasan itu disebutkan berulang-ulang oleh Hindun, adik kandung orang tua Encep, setiap menerima kehadiran wartawan di rumahnya di kompleks pendidikan agama Manarul Huda. ''Namanya bukan Hambali atau Ridwan seperti yang disebut-sebut di surat kabar selama ini, tapi nama lengkapnya adalah Encep Nurjaman. Tegasnya, Encep, bukan Hambali,'' katanya. Pendiam Menurut Dani, Encep adalah anak kedua dari 13 bersaudara dari pasangan Ending Isomudin dengan Eni Mariani. Dia lahir pada tanggal 4 April 1964. Semasa kecil dia sangat pendiam dan tidak ada kelebihan yang menonjol pada dirinya. Demikian pula setelah menginjak dewasa, anak desa ini tetap dikenal sebagai pemuda pendiam yang patuh kepada orang tua. Sikap Encep seperti itu dibenarkan oleh bibinya. ''Saat duduk di bangku madrasah ibtidaiyah (MI-setingkat SD) dan madrasah tsanawiyah (MTS- setingkat SLTP) sikap pendiamnya masih melekat,'' ujar Dani. Setamat MTS, Encep melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah (MA) di Cianjur dan lulus tahun 1983. Setelah lulus dari MA, dia tidak melanjutkan sekolah baik ke perguruan tinggi maupun ke pondok pesantren. Encep pun, menurut Dani, juga tidak pernah aktif di organisasi kemasyarakatan (ormas), apalagi di organisasi politik (orpol). Dia hanya membantu orang tua bekerja di rumah. Tahun 1985 dia pamit pada kedua orang tuanya pergi ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setahun kemudian, dia memberi kabar bahwa dirinya berdagang batik di 'negeri jiran' tersebut. Setelah itu, selama 12 tahun tidak ada kabar beritanya dan sudah dianggap hilang oleh keluarganya. ''Encep baru pulang ke sini tahun 1998. Setelah itu tidak ada kabar beritanya lagi. Bahkan, ketika ayah kandungnya yang mantan Kepala Sekolah SD Sindang Kasih itu meninggal dunia pada Februari 2001, dia juga tidak datang.'' Tahun 1998 itulah terakhir kalinya kami saudara-saudaranya melihat Encep. Wajahnya pun tidak brewok seperti dalam foto di surat kabar. Makanya, kami heran ketika Encep yang disebut sebagai Hambali itu fotonya berewokan. ''Wong ketika pulang dia tidak berewokan kok. Jangan-jangan Hambali dan Encep itu orangnya memang beda,'' kata Dani. Bukan hanya Dani, semua kerabat Encep membantah foto yang disebarkan aparat merupakan foto Encep. ''Encep tidak memiliki jenggot dan tidak pula berkacamata, itu bukan foto Encep,'' tandas Hindun (53), salah seorang keluarga dekat Hambali. Terlalu Keras Apa yang dikemukakan Dani itu sedikit berbeda dari apa yang dikemukakan Apip, Ketua Rukun Warga (RW) 04, Desa Sukamanah, dan mantan guru Encep. Menurut Apip, dia terakhir bertemu Encep ketika salat Id pada Idul Fitri 1998. ''Encep mengaku berdagang batik di Malaysia dan aktif di salah satu partai di sana,'' kata Apip mengutip pengakuan Encep saat itu. Rumah keluarga Encep yang berada dalam lingkungan kompleks sekolah agama Manarul Huda itu, mungkin yang membuat dia tampak cerdas. ''Sejak sekolah di madrasah ibtidaiyah, Encep telah menunjukkan kecerdasannya, dia sangat kritis dibandingkan dengan teman-teman sebayanya,'' kata salah seorang gurunya yang tidak mau disebut identitasnya. Selesai menamatkan sekolahnya di madrasah aliyah di daerah Sindanglaka, Cianjur, Encep disebut-sebut berangkat ke negeri jiran dan aktif di Jamaah Islamiyah. Pada saat berada di sana, Encep bergaul akrab dengan warga Cianjur yang juga merantau di negeri itu. Bahkan, ketika pada 1995 Hambali berjihad ke Afghanistan untuk membantu kaum Mujahidin, pemuda-pemuda Cianjur yang dikenalnya itu ada yang ikut bersamanya ke Afghanistan. Sekitar 1997-1998, Encep terlihat ada di daerah kelahirannya dan sempat memberikan ceramah-ceramah keagamaan di sejumlah tempat. Namun, karena dinilai saat itu terlalu keras, warga kemudian menolak dia memberikan ceramah lagi. Pada 2000 nama Hambali mencuat kembali menyusul peristiwa peledakan bom di beberapa tempat, seperti pada malam Natal. Akibatnya, warga desa tempat Hambali berdomisili, menjadi geger karena sering didatangi petugas berseragam dan berpakaian preman. Bahkan, ayah kandungnya, Ending, sempat berkali-kali diperiksa petugas, baik dari pusat maupun Polda Jabar. Ayah kandungnya ini sempat stres berat akibat berkali-kali diperiksa dan kemudian meninggal dunia. Mungkin karena masih trauma, istri Ending setelah diwawancara televisi swasta beberapa waktu lalu tidak mau lagi menerima kehadiran wartawan. (Eko Suksmantri/Bambang Usdeky -29t) |