
| Senin, 28 Oktober 2002 | Berita Utama |
Kebakaran Pasar RandublatungTak Ada Lagi Barang yang Tersisa
WAKTU masih menunjukkan pukul 09.00, saat Suara Merdeka mendekati Pasar Induk Randublatung, yang Sabtu (26/10) dini hari lalu sekitar pukul 01.00 ludes terbakar. Dari luar sepintas terkesan tidak ada kejadian apa-apa di pasar yang menurut Kepala Dipenda Blora Heru Sutopo SH dibangun tahun 1997 itu. Puluhan pedagang buah yang menggelar dagangan di depan pasar tampak beraktivitas seperti biasa. Hanya begitu melongok ke dalam... Astagfirullah. Tidak ada lagi barang yang tersisa akibat amukan jago merah Sabtu dini hari itu. Semua rata dengan tanah, yang terlihat hanya barang-barang rongsok. Tampak seorang laki-laki tua mengais sisa-sisa barang di antara reruntuhan. Di dekatnya tampak sebuah bara api, meski berukuran kecil. Puluhan pedagang yang sehari-harinya menempati los di dalam pasar, kemarin secara sukarela membersihkan sisa-sisa kebakaran. Sementara itu, sebagian pedagang lainnya mendirikan kios-kios dari bambu. Sekali-sekali terdengar ledakan cukup keras dari sebuah kios, yang ternyata diketahui ledakan itu berasal dari kaleng susu yang karena kepanasan mengakibatkan ledakan. ''Sudah tidak ada barang milik pedagang di dalam pasar yang masih tersisa. Semuanya ludes,'' ujar seorang warga dekat lokasi Pasar Randublatung yang kemarin menyempatkan diri melongok ke dalam. Barangkali ini peristiwa kebakaran terbesar di Blora untuk tahun ini. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil (belum termasuk kerugian pedagang-Red) diperkirakan mencapai Rp 1,3 miliar. Menurut penjelasan Kepala Dipenda Blora Heru Sutopo SH, bangunan pasar yang terbakar terdiri atas 23 kios, 5 los, sebuah warung, dan sebuah bangunan tempat penitipan sepeda. Mengenai kerugian, sementara ditaksir mencapai Rp 1,3 miliar lebih. Sedangkan kerugian pedagang masih diinventarisasi. Pedagang Kain Sejumlah pedagang ketika ditemui di lokasi mengemukakan, untuk para pedagang yang menempati kios, sebagian besar barang-barang dagangannya bisa diselamatkan. Lain halnya para pedagang yang menempati los di dalam. Barang-barang dagangan yang sebagian besar berupa pakaian jadi dan kain, ludes terbakar. Kalaupun ada yang bisa diselamatkan jumlahnya hanya sebagian kecil. ''Ini nanti bagaimana Pak, kira-kira tindak lanjutnya?'' tanya Nurdin (25), salah seorang dari puluhan pedagang kain yang menempati los di dalam Pasar Randublatung, saat didekati Suara Merdeka. Ketika diinformasikan bahwa Senin (hari ini-Red) akan diadakan pertemuan antara Kepala Dipenda Blora dan para pedagang Pasar Randublatung di Kecamatan setempat, laki-laki yang mengaku sudah tiga tahun berjualan kain dan pakaian jadi itu hanya menunduk. ''Tidak tahu harus dengan apa lagi nanti saya memulai berjualan lagi,'' ucapnya lirih. Dia mengemukakan, mendekati Lebaran tahun ini dia justru sudah ngloloni kulakan banyak barang sehingga seluruh uang yang ada memang sengaja diinvestasikan untuk persiapan Lebaran. Tidak tahunya, rencananya belum kesampaian sudah keburu Pasar Randublatung terbakar. ''Kalau ditaksir, kerugian saya mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Ya itu tadi, saya memang sengaja stok barang banyak dalam rangka antisipasi keperluan Lebaran,'' tambahnya. Lain halnya dengan pengakuan Usman (40), seorang pedagang kain yang sejak tahun 1987 sudah berjualan di los Pasar Randublatung. ''Barang-barang saya yang bisa terselamatkan kira-kira hanya sepertiga, sehingga kerugian saya antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta,'' jelasnya. Usman yang didampingi istrinya berharap bisa segera berjualan lagi. ''Kami menyadari mungkin akibat kabakaran itu kami akan menanggung kerugian sendiri-sendiri. Tetapi ya kami berharaplah supaya bisa segera berjualan lagi. Tidak tahu nanti modalnya dari mana,'' harapnya. Menurut keterangan Nurdin, juga dibenarkan oleh Usman, jumlah pedagang yang menempati los di dalam Pasar Randublatung mencapai 100 orang dan 60 persen di antaranya adalah para pedagang kain dan saat terjadi kebakaran rata-rata barang dagangannya ludes dilalap api.(Urip Daryanto-60t)
| |||||