
| Senin, 28 Oktober 2002 | Berita Utama |
Bush Tekankan Pentingnya Peran Indonesia dalam Perangi Teroris
LOS CABOS, MEKSIKO - Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush menyambut baik dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Perberantasan Tindak Pidana Terorisme oleh Pemerintah Indonesia. Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden RI Megawati Soekarnoputri di sela-sela kegiatan KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Los Cabos, Meksiko, Sabtu petang (Minggu pagi WIB), Presiden Bush menekankan pentingnya peranan Indonesia dalam upaya memerangi terorisme. Menlu RI Hassan Wirajuda yang mengikuti pertemuan selama 30 menit di Hotel Fiesta Americana tersebut kepada wartawan mengatakan, Bush berharap dengan adanya dua perpu dan dua inpres tentang terorisme tersebut, pelaku serangan bom di Bali dapat segera ditangkap. Presiden Bush, kata Wirajuda, secara sekilas juga menyebut tentang organisasi Jamaah Islamiyah yang kini masuk dalam daftar Komisi Antiteroris PBB karena dicurigai punya kaitan dengan jaringan Al Qaedah. Namun, menurut Wirajuda, dalam pertemuan tersebut tidak ada kesan Bush menggurui ataupun menekan Presiden Megawati dalam upaya memberantas terorisme tersebut. "Bahkan, Presiden Bush mengerti situasi yang sedang dihadapi Indonesia, jadi tidak ada tekanan sama sekali," katanya. Pertemuan berlangsung dengan penuh persahabatan, katanya menambahkan. Presiden Megawati dalam kesempatan tersebut menyampaikan penjelasan tentang langkah-langkah yang telah dan sedang dilakukan Indonesia, baik dalam menanggulangi akibat dari pengeboman di Bali maupun upaya-upaya umum dalam menghadapi terorisme. Megawati juga mengemukakan pentingnya pembangunan kapasitas dan kemampuan aparat keamanan Indonesia. Karena itu, kata Wirajuda, pihak Indonesia mengharapkan diperbaruinya hubungan militer dengan AS, sebab embargo di masa lalu telah menghambat upaya pembangunan militer dan kepolisian Indonesia, serta mengurangi kemampuan Indonesia dalam memerangi terorisme. AS menjanjikan hal-hal apa yang mereka lakukan dalam membantu Indonesia. Khususnya dalam kerja sama intelijen, pelatihan, dan sebagainya. Saat menanggapi keinginan Indonesia tersebut, Bush mengatakan, cukup memahami, namun sering berbeda pendapat dengan Kongres. Bush mengakui, mengalami hubungan yang tidak mudah dengan Kongres. Menurut Bush, kata Wirajuda, Indonesia perlu terus menampilkan prestasi dan tindakan yang berhasil baik, sehingga Kongres AS akan melihat Indonesia lebih positif. Dipercepat Rombongan Presiden Megawati Soekarnoputri dari KTT APEC di Meksiko akan kembali ke Tanah Air pada 27 Oktober sekitar pukul 21.00 waktu setempat atau diajukan sehari dari jadwal semula. Hingga semalam belum ada keterangan resmi mengenai pengajuan kepulangan Megawati dan rombongan dari Meksiko. Namun sebelumnya Sekretaris Negara Bambang Kesowo telah mengatakan ada kemungkinan kepulangan Megawati dipercepat jika memang pertemuan KTT APEC sudah selesai dan tidak ada kegiatan penting lagi di Meksiko yang harus dihadiri Presiden Megawati. Semula Presiden Megawati dan rombongan akan pulang dari Meksiko pada Senin (28/10) sekitar pukul 18.00 setempat. Dengan dipercepatnya jadwal kepulangannya ke Indonesia, Presiden diperkirakan tiba di Tanah Air pada Selasa (29/10) pukul 09.30 WIB. Setelah beristirahat selama dua hari, Presiden Megawati dijadwalkan akan bertolak ke Kamboja pada Minggu (3/11) untuk menghadiri KTT ASEAN yang berlangsung 4 sampai 5 November 2002. Cina-Indonesia Sementara itu, dalam pertemuan ketiga dengan Presiden Megawati, Presiden Cina Jiang Zemin menyatakan, pengembangan hubungan jangka panjang yang stabil antara Cina dan Indonesia - dua negara berkembang utama di Asia - dan kerja sama yang saling menguntungkan penting bagi kepentingan rakyat mereka. Kedua pemimpin itu telah bertemu pada Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Shanghai, Cina, Oktober 2001, dan selama lawatan Megawati ke Cina bulan Maret tahun ini. "Kami memperhatikan pentingnya hubungan yang bersahabat dengan Indonesia," kata Jiang setelah pertemuan di luar pertemuan APEC di kota pelancongan Meksiko Utara, Los Cabos. Kendati pertumbuhan ekonomi dunia dan ekonomi regional telah terhambat dalam beberapa tahun belakangan ini, Jiang mengatakan, hubungan dagang dan ekonomi antara Cina dan Indonesia telah mengalami pertumbuhan. Dalam kesempatan itu, Presiden Megawati mengatakan, hubungan bersahabat antara Indonesia dan Cina telah berjalan mulus, dan terutama banyak proyek nyata antara kedua negara tersebut telah dilaksanakan dalam beberapa tahun belakangan ini. Dia mengatakan, pada masa depan kedua negara dapat lebih memperluas kerja sama mereka dalam bidang angkutan, perikanan, pertanian, serta bidang lain. 26 Juta Dolar Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi, Minggu, menyatakan kepada Presiden Megawati Sukarnoputri, Jepang akan memberikan bantuan senilai 26 juta dolar AS (Rp 234 miliar lebih) kepada Indonesia untuk mendukung upaya reformasi ekonomi, kata para pejabat Jepang. Pada pertemuan mereka saat keduanya menghadiri KTT tahunan forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Koizumi juga mengundang Megawati untuk berkunjung ke Jepang tahun depan, kata para pejabat tadi. Kedua negara akan menentukan jadwal kunjungannya ke Jepang di masa depan. Ketika menawarkan bantuan ekonomi, termasuk hibah 20 juta dolar, Koizumi menyatakan, Jepang akan melanjutkan dukungan atas upaya reformasi Indonesia. Koizumi menyatakan, Jepang juga sedang meningkatkan reformasi ekonomi, kata para pejabat itu. Seorang pejabat Jepang menyatakan, negaranya berharap bantuan akan membantu Indonesia memulihkan kondisi setelah serangan bom 12 Oktober di Bali. Serangan yang menewaskan hampir 200 orang dari berbagai negara, berdampak negatif bagi industri pariwisata Indonesia. Koizumi dalam kesempatan itu menyampaikan belasungkawa kepada seluruh korban serangan bom dan menekankan perlunya kerja sama internasional dalam memerangi terorisme, katanya. Megawati kepada Koizumi menyatakan, Indonesia ingin bekerja sama dengan Jepang dalam berbagai bidang, termasuk pencegahan penyelundupan. Cabut Larangan Perjalanan Pada bagian lain Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri menyerukan negara-negara APEC untuk bersikap tegas terhadap serangan terorisme dan mencabut larangan perjalanan yang diberlakukan terhadap negaranya setelah serangan pengeboman yang menewaskan 183 orang di Pulau Dewata Bali pada 12 Oktober.
''Jelas kita harus memerangi terorisme yang mungkin berlangsung di mana pun, kapan pun, dan dilakukan oleh siapa pun,'' katanya dan mendesakkan setiap upaya untuk menghindari kebijakan-kebijakan yang membahayakan kehidupan 210 juta orang di negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Menlu AS Collin Powell mengatakan, penyanderaan di Moskwa adalah sebuah alasan mengapa terorisme menjadi topik kunci lagi pada KTT APEC tahun ini. ''Tidak ada negara yang kebal, tidak ada negara yang tidak mungkin menjadi korban terorisme. Dan itulah sebabnya, ini harus menjadi upaya pemberantasan internasional sebagaimana dinyatakan Presiden Bush setelah 11 September dan kini memimpin perang tersebut,'' katanya. Minggu kemarin, Australia secara resmi memasukkan kelompok Islam Asia Timur, Jemaah Islamiyah (JI), ke dalam daftar ''organisasi teroris'' di bawah undang-undang kontraterorisme yang baru. Kelompok tersebut, yang diyakini punya kaitan dengan jaringan Al Qaedah pimpinan Usamah bin Ladin, secara luas diduga oleh banyak pemerintah luar negeri terlibat dalam pengeboman di Bali. Jaksa Agung Federal Daryl Williams mengatakan, orang-orang yang mempunyai kelompok militan, atau mengikuti pelatihan, mendanai, atau merekrut anggota, dapat diancam hukuman penjara sampai 25 tahun. Dana Teroris Para pemimpin negara maju dan berkembang di kawasan Asia Pasifik mendukung kesepakatan terobosan untuk melumpuhkan aliran dana teroris, memperketat keamanan di bandara, dan melindungi masyarakat dan perdagangan dari serangan-serangan baru. Lebih dari 13 bulan setelah aksi kamikaze 11 September di New York dan Washington, perang melawan kekerasan ekstremis menjadi puncak agenda KTT APEC yang beranggotakan 21 negara. Pada bagian untuk membahas bagaimana menumbuhkan bisnis tanpa harus mengalah pada terorisme, para pemimpin APEC mencapai sebuah kesepakatan penting untuk meningkatkan upaya-upaya mengekang pembiayaan diam-diam dari kelompok-kelompok seperti Al Qaedah yang dipimpin Usamah bin Ladin. Pembahasan didominasi dengan topik perang melawan terorisme dan Al Qaedah, tersangka utama aksi kamikaze 11 September dan pengeboman bulan ini di Bali. ''Presiden George Bush mengindikasikan bahwa pengeboman-pengeboman tersebut menunjukkan jangkauan aksi Al Qaedah bahwa jaringan tersebut benar-benar aktif di Asia Tenggara,'' kata seorang pejabat AS setelah pertemuan sore itu. ''Terorisme adalah tantangan langsung terhadap cita-cita APEC mengenai perekonomian yang bebas, terbuka, dan sejahtera,'' bunyi pernyataan kelompok kerja sama ekonomi tersebut. ''Kami bersatu dalam tekad kami untuk mengakhiri ancaman terorisme terhadap cita-cita bersama kami.'' Keputusan untuk memantau sistem pengiriman uang alternatif seperti sistem ''hawala'' yang didasarkan atas sistem transaksi kuno di Timur Tengah, diyakini digunakan oleh Usamah bin Ladin dan para pelaku aksi kamikaze 11 September. Selain itu, negara-negara APEC juga memprioritaskan pada upaya menghentikan penyalahgunaan dana. ''Ada pengakuan dari 21 negara yang hadir di sini bahwa terorisme merupakan ancaman serius,'' kata Presiden Vicent Fox dari Meksiko yang menjadi tuan rumah KTT tersebut. ''Tidak seorang pun aman dari cengkeraman cakar teroris.''
Tema dominan lainnya adalah pernyataan menarik yang tak terduga dari pemimpin komunis Korea Utara bulan ini bahwa mereka telah melanggar kesepakatan tahun 1994 dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan dengan mengembangkan program senjata nuklir. Bush mengeluarkan pernyataan bersama dengan PM Jepang Junichiro Koizumi dan pemimpin Korea Kim Dae-jung, yang menuntut Pyongyang melucuti program senjata nuklirnya dan mengingatkan bahwa hubungannya dengan masyarakat internasional bergantung pada respons cepat Korut. Pernyataan itu menguraikan tidak ada konsekuensi apa pun bagi mereka yang tidak melaksanakan. Bush mengatakan, AS ''tidak punya keinginan untuk menginvasi Korut''. Isu perdagangan, kekuatan penggerak yang melatarbelakangi kemunculan APEC pada 1989, mengemuka kembali ketika anggota-anggota seperti Peru dan Papua Nugini menyetujui bahwa keamanan merupakan hal pokok dari kesejahteraan.(ant,rtr-ben-16t,52t) | |||||