
| Senin, 28 Oktober 2002 | Berita Utama |
Ustaz WahyudinTak Sesangar PenampilannyaSEPINTAS orang mungkin akan takut untuk mendekat, apalagi berbicara dengannya. Terlebih secara fisik, dia kelihatan sangar dengan cambang dan jenggot dua warna yang memenuhi dagunya. Ditambah lagi dengan perawakannya yang tinggi besar, orang akan keder bertegur sapa dengannya. Namun kondisi fisiknya ternyata berlawanan dengan tingkah lakunya. Coba saja berbincang dengannya, terutama berkait dengan masalah Amir Majelis Mujahidin Indonesia Ustaz Abu Bakar Ba'asyir. Tentu keramahan dan nada bicaranya yang seringkali meledak-ledak akan mengubah persepsi semula. Dialah Ustaz Wahyudin, Mudir (Direktur) Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo. Menantu tokoh karismatik Abdullah Sungkar ini kerap terlihat di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Sejak Ba'asyir menjalani perawatan di Bangsal Firdaus nomor 9 RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dia memiliki kegiatan tambahan. Entah itu sekadar melihat perkembangan kondisi Ba'asyir di rumah sakit setiap harinya, atau ikut terlibat dalam urusan yang menyangkut Ba'asyir dan pondok pesantrennya. Namun tugas utamanya sebagai pemimpin pondok yang kini menjadi sorotan dunia internasional itu, tetap tidak terganggu. Dibandingkan dengan ustaz-ustaz lainnya, atau tokoh Islam Solo yang kerap terlihat di RS PKU Muhammadiyah, ustaz satu ini memiliki kelebihan. Seperti kebanyakan lulusan pondok pesantren, keluaran Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo ini ternyata memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang bagus. Tak pelak, dia pun menjadi sasaran tujuan wartawan asing yang nyanggong di rumah sakit. Ibarat pepatah ada gula ada semut, puluhan wartawan dari luar negeri langsung tiba di Solo begitu mendengar Ba'asyir dirawat mulai 18 Oktober lalu. Di antaranya dari CNN, kantor berita Reuters, Xin Hua, AP, AFP, Fox News Chanel dan ABC. Maka, dia secara tidak langsung dinobatkan menjadi narasumber utama wartawan asing yang memang tidak menguasai bahasa Indonesia itu. Meski demikian, dia mengaku bahasa Inggrisnya masih belepotan. Saat melayani wawancara dengan dua wartawan asing di Pondok Pesantren Ngruki beberapa waktu lalu, dia terlihat sedikit keberatan. Suara Merdeka yang kebetulan melakukan wawancara bersamaan dengan dua wartawan itu mendengar langsung keberatan yang disampaikan Wahyudin. ''Don't you bring a translator? I understand English Language, but just a little,'' kata Wahyudin kala itu. Namun lantaran tidak ada penerjemah yang mendampingi keduanya, Wahyudin pun menyatakan bersedia. Tanpa diduga, dia mampu menjelaskan setiap pertanyaan yang diajukan dengan lancar. Setiap kata yang dia sampaikan begitu lengkap, sehingga kedua wartawan itu pun mampu menggali informasi sebanyak yang mereka butuhkan. Tidak Ditahan Berkaitan dengan peristiwa yang menyangkut Ustaz Ba'asyir, Wahyudin tentu saja mendapat tugas cukup berat. Dia bertanggung jawab atas kelangsungan pelajaran di pondok, sekaligus juga harus ikut menjaga agar Ba'asyir tetap bisa terpantau. Karena itulah, dia terlihat cukup sibuk. Barangkali tidak kalah sibuknya dengan Ustaz Mudzakir yang selama ini memang menjadi pendamping utama Ba'asyir. Bahkan, karena dia yang diserahi amanat menjadi direktur pondok, maka dia lebih banyak berkonsentrasi mengurus pondok. Salah satu yang kini sedang diusahakan bersama penghuni pondok lainnya adalah mencoba mempertahankan Ba'asyir agar tidak ditahan di Jakarta. Mengingat keberadaan Ba'asyir di pondok cukup dibutuhkan, dia kemudian berinisiatif agar tokoh yang pernah dekat dengan mertuanya itu tidak ditahan di Jakarta. Atas nama pesantren, dia mengirimkan surat permohonan kepada Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar agar diperbolehkan beristirahat di pesantren selama 1 - 2 hari setelah keluar dari RS. ''Kami meminta kepada aparat agar barang satu - dua hari diizinkan beristirahat di pesantren. Mungkin kesempatan itu bisa digunakan Ustaz untuk berpamitan kepada anak-anak dan keluarga. Maksudnya, supaya tidak kelihatan dipaksa-paksakan. Ustaz pun selama ini kan kooperatif. Kami menjamin Ustaz tidak akan lari.'' Selain itu, dia juga meminta Ba'asyir tidak ditahan di rutan. Bila kemudian polisi memerlukan sewaktu-waktu kesaksian Ba'asyir, pihaknya akan membawa Ba'asyir. Keinginan ini agaknya memang tidak berlebihan. Sebab selama ini Ba'asyir mengajar materi Tafsir Alquran, meski sebenarnya telah ada asisten yang membantunya. Namun diakuinya, apa yang dibutuhkan santri bukan sekadar transfer ilmu yang dimiliki Ba'asyir, melainkan jiwa kepengasuhan. ''Beliau adalah sosok tua yang memahami Islam secara mendalam dan penuh keteladanan lewat keseharian beliau.'' Dia tahu betul apa yang terjadi di pondok, termasuk tentang Ba'asyir, karena dia juga ikut mengasuh pondok itu sejak awal berdiri di tahun 1972. Karena itulah, dia yang kini diberi amanat menjadi direktur pondok, sangat menginginkan semuanya berjalan normal.(Anie R Rosyidah-29t) |