
| Senin, 28 Oktober 2002 | Berita Utama |
Tokoh Lintas Agama Doakan Ba'asyir
SOLO - ''Kalau saya ditahan, itu namanya pemaksaan. Kecuali polisi benar-benar memiliki bukti yang kuat, dan sesuai dengan prosedur hukum, saya akan menaati. Jadi, pertemukan saya dengan Al Faruq dulu untuk klarifikasi. Apabila setiap pernyataan seseorang dianggap benar, maka itu akan berdampak negatif bagi penegakan hukum,'' kata Ustaz Abu Bakar Ba'asyir kepada wartawan, di kamar perawatan RS PKU Muhammadiyah, Minggu kemarin. Perbincangan dengan pers itu untuk kali pertama setelah dia dirawat selama sembilan hari di rumah sakit. Hanya sekitar 15 menit dia berbicara dengan puluhan wartawan, yang terpaksa dibagi dua kelompok, karena kamarnya terlalu sempit. Sangat disayangkan, tidak ada tanya-jawab dalam pertemuan itu. Namun hal itu bisa dimaklumi, karena kondisi Ustaz memang masih belum sepenuhnya pulih. Ba'asyir mengaku kondisi kesehatannya sudah mulai membaik. Namun dia merasa masih agak lelah, sehingga perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kesehatannya agar bisa kembali seperti sediakala. Semua alat medis yang sejak kali pertama masuk menempel di tubuhnya, kemarin sudah tidak ada lagi. Alat pacu jantung, selang oksigen, infus, dan alat medis lainnya sudah dilepas. Bicaranya juga sudah jelas, meski dengan intonasi yang lambat. Dia juga masih menerima tamu, antara lain para tokoh lintas agama di Solo, yakni Romo Mardi Widayat SJ (wakil Umat Katolik), Bambang Mulyanto (Wakil Gereja di Solo), Paulus Hartono (Kristen), dan Ir Al Munawar (MUI). ''Kami datang untuk mendoakan secara khusus Ustaz Ba'asyir agar cepat sembuh. Kami ikut bersimpati dan memberikan dukungan moral, apalagi Ustaz juga mengatakan perjuangannya semata-mata karena ingin menciptakan perdamaian,'' kata Romo Mardi. Sebagai umat beragama yang taat, kata dia, Ustaz mengatakan Islam yang benar adalah Islam yang bisa menciptakan kedamaian. Itu pula yang selama ini ingin dia perjuangkan. ''Kami dukung itu, karena seluruh agama mengajarkan berbuat baik dan menciptakan kedamaian. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk merusak, saling membunuh, dan sebagainya,'' kata Romo Mardi, mewakili rekan-rekannya. Seraya menyitir satu ayat Alquran, Ba'asyir juga mengatakan, orang Islam dianjurkan berbuat baik dan adil kepada kaum nonmuslim, asalkan mereka tidak berbuat jahat kepada umat Islam dan tidak mengusir umat Islam. ''Allah tidak melarang kamu sekalian untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang yang berbuat baik kepadamu, dan tidak mengusir kamu.'' Secara eksplisit Ba'asyir juga menyinggung kasus peledakan bom di Bali, 12 Oktober lalu. Dia menegaskan, peledakan bom tersebut jelas bertentangan dari ajaran Islam. ''Meskipun secara terang-terangan mereka telah melakukan maksiat dan bukan Islam, harus diingatkan terlebih dahulu. Tidak langsung dibunuh. Jadi, Islam tidak membenarkan pengeboman itu.'' Tentang kasus yang dituduhkan kepada Ustaz Ba'asyir, para tokoh lintas agama sepakat tidak ikut campur. ''Biarlah itu menjadi urusan beliau pribadi, karena kami tidak begitu memahami persoalan yang sebenarnya,'' jelas dia. Dukungan moral juga datang dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Surakarta. Habib Mas'ud, Komandan Kokam Surakarta, mengatakan siap memberikan dukungan kepada Ustaz, serta bekerja sama dengan laskar Islam lainnya, jika Ustaz diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat dalam proses penyidikan. ''Kami tidak rela Ustaz diperlakukan semena-mena, ditahan tanpa ada klarifikasi. Jadi, kami siap memberikan dukungan, dan kami juga sudah berkoordinasi dengan para laskar dari elemen lain,'' kata Ma'sud. Dia membantah bahwa tindakan yang diambil Kokam, sebagai organisasi di bawah Muhammadiyah, sebagai bagian dari perintah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng atau Solo. ''Tidak. Ini inisiatif kami, dan kami kira para pimpinan tidak akan melarang inisiatif kami ini,'' ujar dia. Belum Jelas Meski sudah mulai pulih kesehatannya, ternyata sampai kemarin belum ada kejelasan kapan Ustaz Ba'asyir akan keluar dari rumah sakit. Adik iparnya, Umar Baraja, mengatakan, kemungkinan Ustaz akan meninggalkan rumah sakit Selasa pagi besok. Sebab, hari ini (Senin 28/10) tim dokter baru akan merapatkan hasil evaluasi akhir kondisi Ustaz. ''Hasilnya baru akan diberitahukan ke Mabes Polri sebagai bahan pertimbangan. Jadi, paling cepat jika diizinkan pulang juga Selasa, menunggu rekomendasi dokter dan Mabes Polri,'' kata dia. Tidak hanya itu, Tim Pembela Abu Bakar Ba'asyir (TPA) di Jakarta juga sedang menegosiasi agar Ustaz diperbolehkan pulang ke pondok terlebih dahulu, sesuai dengan surat yang dikirimkan. ''TPA juga baru akan berbicara dengan Kapolri Senin besok (hari ini -Red). Jadi, kalau sudah ada hasil, paling cepat Senin, sehingga Selasa baru pulang,'' kata Umar. Namun sumber Suara Merdeka di kepolisian mengungkapkan, negosiasi antara keluarga, tim dokter RS PKU, dengan Polri diusahakan akan dilakukan Minggu malam, sehingga sudah bisa diambil keputusan apakah Ustaz boleh meninggalkan rumah sakit Senin pagi ini. Polri pun memang sedang mempertimbangkan apakah akan melakukan penyidikan Ustaz di Solo atau di Jakarta. Pertimbangannya, jika situasi di Solo memungkinkan, maka bisa jadi penyidikan cukup dilakukan di Solo. Tetapi jika tidak memungkinkan, penyidikan akan tetap dilakukan di Jakarta. Tingkatkan Pengawalan Menjelang kepulangan Ustaz, para santri meningkatkan pengawalan. Kalau selama ini yang sering terlihat hanya Laskar Mujahidin yang berpakaian doreng hijau ala tentara, Sapala Kamufisa (berpakaian doreng biru) dan Kasa Kamufisa (berpakaian hitam-hitam ala pesilat), mulai kemarin terlihat laskar berpakaian jubah putih panjang, bersurban di kepala, seperti yang biasa digunakan anggota Laskar Jihad. Juga ada laskar yang berpakaian cokelat seperti seragam polisi. Ketika hal itu ditanyakan ke beberapa anggota Laskar Mujahidin, tidak banyak yang mau memberikan keterangan. ''Itu anggota Laskar Mujahidin, hanya seragamnya yang berbeda,'' kata Salman Alfarisi, Komandan Laskar Mujahidin. Namun yang lain mengatakan, santri yang menggunakan jubah putih panjang dan bersurban kepala itu para ustaz dari Pondok Al-Mukmin. Hanya yang terlihat aneh, jika pengajar pondok, kenapa mereka bergabung dalam barisan laskar santri? ''Ah, semuanya kan ingin menjaga Ustaz, jadi tidak ada masalah,'' kata salah seorang anggota laskar. Datangi Panggilan Dalam keterangannya kepada wartawan, Ba'asyir mengatakan, persoalan yang dituduhkan kepadanya memang sudah berubah menjadi sangat rumit. Banyak kepentingan yang masuk di dalamnya. ''Saya tegaskan lagi, persoalan saya ini sudah bukan persoalan hukum lagi. Tetapi sudah menjadi persoalan politik yang rumit. Sebab, ada tekanan dan permintaan dari AS dan Israel. Orang kafir Amerika itu memusuhi Islam, mengobarkan perang salib di seluruh dunia. Pemerintah ditekan untuk itu, sehingga semuanya dikait-kaitkan ke sana,'' kata dia. Karena itulah, dia menolak penahanan, jika itu dilakukan karena tekanan AS. Sebab, tindakan itu sama dengan penghinaan terhadap umat Islam. Penahanan itu karena sekadar memenuhi permintaan AS dan Israel, yang memiliki agenda tersembunyi, menghancurkan Islam. ''Haram hukumnya memenuhi permintaan orang kafir. Karena itulah, saya akan menolak dengan segenap kemampuan saya.'' Walau demikian, dia akan memenuhi panggilan kepolisian, karena dia memandang panggilan itu sesuai dengan prosedur hukum. ''Saya hormati panggilan itu, karena dilakukan sesuai dengan prosedur hukum, yaitu saat ada seorang warga negara dicurigai karena sesuatu, sehingga harus diklarifikasi. Sudah sewajarnya kalau saya patuhi.'' Hal senada juga dikemukakannya saat menerima Ustaz Sukino, Ketua Umum Majelis Tafsir Alquran (MTA). Ustaz tetap akan memenuhi panggilan Polri. Bahkan, nanti pihaknya siap mengantarkan dan memberikan kesaksian, terkait dengan sumpah yang dilakukan Abu Bakar Ba'asyir dulu. Dia juga siap menjadi penjamin jika diperlukan, agar Ustaz Ba'asyir diperbolehkan pulang ke pondok, barang dua atau tiga hari ini, agar kesehatannya benar-benar sudah pulih. Pertemuan di Mapolwil Menjelang kesembuhan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, polisi tampaknya harus menyiagakan segala sesuatu, termasuk mempersiapkan diri menghadapi reaksi elemen Islam di Solo. Karena itu, semalam, aparat melakukan pertemuan dengan wakil elemen Islam. Pertemuan di Mapolwil Surakarta dipimpin langsung Direktur Tindak Pidana Umum Mabes Polri Brigjen Aryanto Sutadi bersama Kapolwil Kombes Polisi Drs Hasyim Irianto. Sedangkan elemen Islam di antaranya diwakili Ustaz Mudzakir dan Ustaz Wahyudin. Elemen Islam dalam kesempatan itu tetap menginginkan agar Ba'asyir bisa pulang ke pondok setelah dinyatakan sembuh, barang dua atau tiga hari. Namun polisi ternyata belum bisa memberikan kepastian jawaban. ''Kata Pak Aryanto, keputusan ada di tangan Kapolda Jateng yang diserahi wewenang. Jadi besok (hari ini -Red) baru akan dikonsultasikan,'' kata Mudzakir usai pertemuan. Sedangkan tentang kemungkinan penyidikan bagi Ustaz Ba'asyir, hampir pasti akan tetap dilakukan di Jakarta. Keputusannya tinggal menunggu rekomendasi dokter, yang akan melakukan pertemuan terakhir pagi ini. Untuk meredam elemen Islam di Solo, polisi mempersilakan wakil elemen Islam untuk berangkat ke Jakarta, menyertai Ustaz Abu Bakar Ba'asyir. ''Tentu saja tidak semuanya bisa ikut, namun beberapa orang wakil bisa sebagai saksi, karena polisi tetap berjanji memperlakukan Ustaz Ba'asyir dengan hati-hati dan penuh rasa kemanusiaan.'' Semalam, setelah pertemuan dengan elemen Islam berakhir sekitar jam 22.30, aparat langsung melakukan pertemuan sendiri untuk membahas proses evakuasi Ba'asyir ke Jakarta. Hingga berita ini diturunkan, rapat intern aparat kepolisian yang dipimpin Brigjen Aryanto Sutadi masih berlangsung. (an,ae,G11,G10,-29t) |