
| Senin, 28 Oktober 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Pipa Rokok Weleri Tembus Pasar EksporGagasan untuk memulai sebuah usaha, terkadang dapat muncul secara tidak sengaja. Demikian pula yang dialami Istikanah (35) warga Desa Weleri RT 05/01, Kecamatan Weleri, Kendal, pengusaha eksportir selang shisha. Saat ini, produk selang shisha dari industri rumah tangga yang dikelolanya mampu menembus pasar ekspor, terutama di Timur Tengah, seperti Lebanon, Syria, dan Arab Saudi. Shisa adalah nama sebuah pipa untuk merokok yang lazim digunakan bagi masyarakat Timur Tengah. Sebelum menjadi pengusaha, ibu dua orang anak itu memang sering berkunjung ke Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Seringnya, berkunjung ke negara para sheikh tersebut, karena tuntutan profesi pekerjaan sebagai agen Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Di negara itu, dia sering menjumpai para kaum lelaki tengah asyik merasakan nikmatnya menghisap tembakau dengan alat bernama shisha. ''Bentuk shisha sangat unik. Meski fungsi utamanya sebagai pipa rokok, tetapi pada shisha dilengkapi botol gelas di bagian bawahnya. Biasanya, botol ini sebagai tempat air. Pada bagian samping dan atas botol berlubang, masing-masing berguna sebagai tempat selang dan untuk menghisap rokok. Sedangkan lubang di bagian atas botol digunakan sebagai tempat dudukan pipa sepanjang 30 centimeter. Adapun, di ujung pipa terdapat sebuah lempengan dari pelat besi tipis berbentuk lingkaran setengah bola. Lempengan ini sebagai tempat tembakau yang akan dibakar,'' jelasnya. Ditambahkannya, dari rasa tertarik terhadap bentuk pipa rokok itulah, gagasannya kemudian timbul. Sebab, meski bentuknya unik, tetapi terlihat dalam pembuatannya terkesan apa adanya, serta semata-mata hanya didasarkan atas fungsi alat tersebut. ''Temuan itu membawa inspirasi tersendiri bagi saya dan suami, sehingga muncul rencana untuk memproduksi shisha di Indonesia. Tentunya dengan desain yang lebih bagus. Selain itu, kami juga memberikan pernik-pernik untuk lebih mempercantik tampilannya.'' Tekad pasangan suami istri itu semakin bulat, karena di Indonesia, bahan baku shisa lebih mudah dicari serta biaya tenaga kerja lebih murah daripada di Arab Saudi. ''Apalagi, saudara suami saya yang berada di Riyad, berjanji untuk menampung serta akan menyalurkan hasil produksi dari kami,'' tutur istri Ahmed Sheikhoon yang keturunan Arab itu. Tahun 1997, pasangan suami istri itu segera mewujudkan rencananya. Mereka selanjutnya memesan dua buah mesin bubut kayu serta membeli bahan baku, berupa beberapa kayu sonokeling berbentuk gelondongan dari PT Perhutani Kendal. Bahkan, mereka juga mendesain pernik-pernik berbahan dari kuningan, setelah itu pengerjaannya diserahkan kepada sebuah perusahaan di Juwana. ''Saya memulai usaha sekitar tahun 1997-1998. Waktu itu mesin bubut yang sesuai dengan kebutuhan belum ada di pasaran, sehingga kami harus mendesain sendiri. Adapun, pertimbangan kami menggunakan kayu sonokeling, karena serat pada kayu ini sangat bagus. Modal awal yang dikeluarkan mencapai Rp 10 juta,'' katanya. Dalam merintis usaha, beberapa hambatan muncul, diantaranya mesin bubut hasil modifikasi belum menghasilkan produk sesuai keinginan. Selain itu, biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan shisha tidak diperoleh keuntungan. ''Setelah dilakukan penghitungan, biaya untuk membuatnya sangat tinggi. Sebab, komponen yang terbuat dari besi kuningan harganya sangat mahal. Apalagi, kami belum dapat membuat sediri, karena pengerjaannya diserahkan kepada pabrikan di Juwana. Akhirnya, dengan melalui suatu pertimbangan, kami hanya memproduksi selangnya saja,'' tuturnya. Produksi Selang Meski produksi yang dihasilkan hanya sebuah selang, namun dibuat secantik dan sehalus mungkin. Sebab, selang tersebut dibungkus dengan kain karet berwarna-warni ditambah pernik-pernik dari bahan kuningan, hasil bubut kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa, serta kawat aluminium, mampu membuat selang tersebut tampil sangat menarik. ''Sebenarnya, kami hanya mendesain dan memproduksi kayu hasil bubutan di sini. Adapun, kain, kawat dan pernik dari kuningan harus memesan ke toko dan pabrikan. Bahan-bahannya sangat mudah dicari disini. Selanjutnya, barang-barang itu kami rangkai serta kami pasang di selang plastik, sehingga dari luar yang terlihat adalah selang yang terbungkus pernik,'' katanya. Dari hasil produksi kerajinan selang shisa, Istikanah mengaku usahanya semakin berkembang. Tercatat, 25 karyawan ikut membantu usaha kerajinan yang dikelolanya. ''13 karyawan laki-laki bertugas sebagai tukang bubut dan memasang kawat pada selang, sedangkan yang perempuan, selain ditugasi mengamplas dan memarnai hasil bubut kayu, juga merangkai pernik pada selang. Mereka kami gaji antara Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan, tergantung keahlian dan lama bekerja karyawan,'' jelasnya. Produk kerajinan yang dihasilkan antara 800 sampai 1.000 buah per bulan, dengan harga di tempat berkisar Rp 45 ribu hingga Rp 55 ribu per buahnya. Meski, Istikanah mengaku keuntungan yang diperoleh sangat mepet, tetapi masih dapat untuk menutup biaya operasi usaha. ''Saya berencana untuk membuat hak patent dari usaha ini. Mengenai omzet saya belum dapat menghitung,'' lanjutnya. (Setyo Sri Mardiko-76) |