
| Senin, 28 Oktober 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Pedagang-Pengguna Jalan Terganggu
SEMARANG TENGAH- Para pedagang di lokasi dugderan mengeluh, banyak sepeda motor berseliweran di sekitar tempat mereka berjualan.Mereka harus menunggu lalu lintas agak sepi, baru kemudian mendirikan tempat dasaran.
Rahmat, pedagang asal Jepara yang menjual mainan anak-anak dari plastik menuturkan kejengkelannya tentang kondisi itu. Namun, dia menyadari dirinya adalah pendatang. ''Saya harus pandai-pandai meredam emosi. Sebab kalau tidak, bisa makin runyam,'' katanya. Berdasarkan pantauan, di dekat Hotel Dibya Puri terdapat sejumlah PKL aneka barang, antara lain pakaian dan makanan. Ada pula stan permainan anak-anak, seperti komedi putar dan kereta mini. Di antara para PKL tersebut juga masih tersisa lahan seluas lebih kurang 1,5 meter. ''Pengendara sepeda motor lebih suka menggunakan sisa lahan tersebut sebagai jalan pintas,'' ujar Hartini, pedagang gerabah. Di sisi lain, keberadaan pedagang dugderan di tempat itu juga dikeluhkan para pengguna sepeda motor. Wiwid, mahasiswa sebuah perguruan tinggi menuturkan, setiap kali berangkat kuliah dia selalu melalui Jl Pemuda. Dengan adanya pedagang-pedagang itu, perjalanannya terganggu. ''Saya minta Pemkot menata lagi para pedagang di tempat itu. Pengguna sepeda motor juga harus diberi tempat agar bisa lewat, jangan semuanya untuk pedagang dugderan,'' katanya. Pendapat serupa juga dilontarkan Handayani, karyawati sebuah mal di Jalan Pemuda. Belum Bersikap Dia menuturkan, Pemkot harus tegas dalam menentukan tempat bagi pedagang. Karena itu, menurutnya, pedagang yang tidak memiliki izin harus ditertibkan. YMT Kepala UPT PKL Agus Wahyudi ketika dihubungi menyatakan belum bisa mengambil sikap. Dia mengakui, lokasi resmi untuk PKL Dugderan di Jl Pemuda, sedangkan tempat dasaran di dekat Dibya Puri merupakan wilayah perluasan. Camat Semarang Tengah Drs Siti Chotijah mengungkapkan, pada awalnya dia sudah melarang sebagian permainan anak-anak seperti kereta mini. Hal itu, menurutnya akan menambah kesemrawutan di tempat itu. Masalah itu, jelas dia, sudah diurusi Dinas Pasar. Dia mengaku hanya mengelola soal keamanan dan sampah. Untuk keamanan, pihaknya sudah membuat sejumlah pos pemantau dengan mengerahkan 42 personel. Jumlah itu masih ditambah dari Poltabes. ''Untuk tenaga kebersihan, saya mengerahkan sejumlah personel dari tiap kelurahan. Tiap kelurahan menugaskan dua orang,'' katanya. (bgs,G6-71k) |