
| Senin, 28 Oktober 2002 | Karangan Khas |
Kembalikan IndonesiakuOleh: Jabir Al Faruqi TANTANGAN perjalanan bangsa Indonesia dari tahun ke tahun, justru semakin berat. Bahkan lebih berat dari pemuda Indonesia tahun 1928. Kalau dulu Indonesia menghadapi imperialisme Belanda, kini pemuda Indonesia dihadapkan pada imperialisme internasional. Imperialisme ini berwujud kekuatan ekonomi, politik, kebudayaan, dan eksploitasi SDM dan terorisme. Bila dulu menghadapi masalah bagaimana membangun solidaritas nasional untuk menyiapkan Indonesia merdeka, kini juga dihadapkan pada ancaman disintegrasi bangsa yang sangat gawat. Ancaman itu bukan sekadar gertak sambal tetapi sudah benar-benar riil. Imperialisme ekonomi internasional diawali dengan berbagai kebijakan ekonomi internasional seperti GATT, AFTA, pasar bebas, dan lain-lain. Semua produk ekonomi negara berkembang tidak bisa memenuhi kualifikasi kualitas. Kebangkitan produk ekonomi negara berkembang bisa dibendung dengan regulasi internasional. Pada intinya adalah bagaimana melumpuhkan kekuatan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia agar tidak bisa bersaing di pasaran global. Dengan demikian, potensi kekayaan alamnya tidak bisa diolah dengan baik dan semakin mudah dilumpuhkan. Negara adidaya bisa mencaplok SDA yang dimiliki negara ketiga dan memanfaatkan SDM murah. Dampak yang paling kentara saat ini adalah ambruknya industri gula petani, terpuruknya petani padi, tembakau, karet dan juga kelapa sawit. Akibatnya, bukan hanya peningkatan derajat kemiskinan di Indonesia yang terjadi, tetapi juga mengancam eksistensi Indonesia sebagai penghasil produk pertanian. Pengangguran semakin membludak dan kejahatan meningkat. Sisi lain dari dampak imperialisme ekonomi internasional adalah tingginya ketergantungan Indonesia pada utang luar negeri. Kasarnya untuk bisa hidup, bangsa ini harus berutang dulu dengan kekuatan negara pemilik modal seperti AS, Uni Eropa dan negara-negara lain yang lebih kuat ekonominya. Penumpukan jumlah tunggakan utang yang jatuh tempo saat ini seperti ditamsilkan Wakil Presiden Hamzah Haz bahwa seumpama sebuah perusahaan, maka Indonesia saat ini sudah bangkrut. Utang yang dimiliki lebih besar daripada asetnya. Untuk mengurangi jumlah utang, pemerintah melakukan penjualan aset negara dengan murah lewat menteri BUMN. Penjualan aset dengan murah kepada pihak asing ini bila tidak terkontrol, akan menyebabkan Indonesia menjadi negara miskin, rakyatnya menjadi buruh orang asing di negeri sendiri. Bahkan Ketua MPR Amien Rais berpendapat mungkin ke depan, untuk menjadi buruh saja pemuda Indonesia akan kesulitan karena semua aset ekonomi sudah dikuasai pihak asing. Ke depan, pemuda Indonesia tidak hanya dihadapkan pada beratnya kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak tetapi juga harus menanggung utang yang sebegitu menggunung. Imperialisme ekonomi ini tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa didukung campur tangan bidang politik. Imperialisme ekonomi dan politik harus bergandeng tangan. Di sinilah kemudian muncul deal-deal politik berbentuk adanya konsesi politik bagi negara asing dengan imbalan ada kemudahan bagi Indonesia untuk menarik investasi asing, mempermudah kucuran bantuan asing, dan penyediaan pasar ekspor. Campur tangan asing di bidang politik ini bisa diwujudkan dalam bentuk undang-undang, kerja sama keamanan dan pelatihan polisi/militer. Campur tangan sektor politik ini kemudian menjadikan Indonesia sering didikte oleh negara adikuasa (AS) dalam menentukan sikap dan langkahnya baik mengenai masalah politik dalam negeri seperti separatisme, tuduhan Indonesia sebagai negara teroris, dan pemberantasan narkoba. Sedangkan masalah luar negeri seperti kurang beraninya Indonesia menolak penyerangan AS atas Irak, tidak jelasnya sikap pemerintah Indonesia dalam menanggapi tuduhan negara teroris, pelanggaran HAM di Palestina dan sebagainya. Pemerintah selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan dilematis. Di sektor kebudayaan, pemuda Indonesia juga menghadapi imperialisme kebudayaan yang luar biasa dahsyatnya. Di mana modernisme yang diusung dari negara Barat dan juga Asia menjadikan semua budaya yang dimiliki bangsa ini menjadi rendah dan tak bermutu. Di sektor SDM bangsa Indonesia saat ini masih menempati urutan buntut dibandingkan negara Asia lainnya. Posisi buntut ini menjadikan bangsa Indonesia sebagai objek eksploitasi yang paling mudah di dunia. Fakta ini dapat kita lihat dari kasus TKI di Malaysia maupun TKW di negara-negara Timur Tengah. Di Malaysia, para TKI kita menunjukkan kalau kualitas SDM kita sangat rendah. Mereka berbondong-bondong ke negeri itu untuk mengerjakan pekerjaan yang oleh penduduk Malaysia sudah ditinggalkan karena tidak sesuai dengan tingkat kualitasnya. Tetapi bagi bangsa kita, pekerjaan itu dianggap sangat membanggakan.Karena itu meskipun sudah dideportasi dan diperlakukan tidak manusiawi, mereka masih ingin kembali lagi kerja di negeri jiran itu. Para TKI kita bekerja di sektor perkebunan seperti kelapa sawit dan karet, kuli bangunan, dan kerja kasar lainnya. Bahkan saking bodohnya, mereka pergi ke sana secara ilegal. Karena ilegal, para bos di sana lebih senang. Para TKI tidak bisa menuntut gaji yang lebih tinggi, tidak berani protes, mau tidur di hutan-hutan dan kebun-kebun sehingga pihak perusahaan tidak dipusingkan untuk membikinkan tempat penginapan. Para TKW yang bekerja di negara-negara Timur Tengah terutama Arab Saudi juga mengalami nasib yang tidak kalah menyedihkan. Para pekerja wanita dihargai sangat rendah dan kadang dianggap sebagai objek pemuas nafsu seks sang majikan. Akhirnya kredibilitas bangsa Indonesia menjadi turun. Terlepas dari persoalan di atas, di dalam negeri sendiri, pemuda Indonesia juga sedang menghadapi berbagai problematika yang cukup serius. Krisis kepemimpinan terjadi di semua lini dan semua tingkatan. Korupsi merajalela sehingga termasuk negara terkorup di dunia. Para pemimpinnya saling perang berebut kekuasaan, menumpuk harta dan perselingkuhan terjadi di mana-mana. Penyakit masyarakat mulai dari yang ringan sampai yang mematikan kini menjadi teman akrab anak-anak muda Indonesia baik di kota-kota metropolitan sampai pada daerah-daerah pedesaan. Perkelahian, tawuran dan konflik antardesa, antara suku, antara agama masih terus membara tak tahu kapan harus berakhir. Banyak daerah di Indonesia yang tidak aman baik oleh ancaman kejahatan perampokan, tindakan anarkhis maupun pengeboman-pengeboman yang membawa banyak korban. Mengapa Indonesia yang dulu digambarkan sebagai surga itu kini berubah menjadi neraka? Negara yang dulu disebut sebagai bangsa besar kini menjadi kerdil, keropos dan tak berdaya menghadapi banyak persoalan. Mengapa bangsa yang santun dan ramah kini berubah menjadi beringas, mudah tersinggung, gampang melakukan tindakan anarkhis, saling membunuh satu sama lain hanya karena persoalan-persoalan yang sepele saja? Dari semua paparan yang ada itu, pemuda Indonesia dengan energi yang dimiliki dan kekuatan idealismenya harus berprinsip: Kembalikan Indonesiaku. Indonesia yang pernah dicita-citakan bersama, Indonesia yang jaya dan bukan Indonesia yang compang-camping, banyak utang, korupsi terjadi di mana-mana, para pemimpinnya sudah tidak bisa dipercaya, konflik antarsaudara terjadi di mana-mana, masa depan generasi muda suram dan tidak berani menghadapi kompetisi global. Generasi muda harus berani dan bisa memotong semua warisan generasi sebelumnya yang menjadikan negara ini sengsara. Generasi muda harus berani berkata ya atau tidak untuk kebaikan masa depan bangsanya. Pemborosan, korupsi, budaya tidak disiplin dan rendahnya komitmen kebangsaan dan kenegaraan para pemimpin saat ini harus diberantas tuntas. Kalau semua ini tidak bisa dilakukan generasi muda saat ini, maka generasi muda tidak hanya akan berat menghadapi masa depannya, tetapi juga menjadi bagian dari masalah bangsa itu sendiri. Tegarlah pemuda Indonesia. (18) - Jabir Al Faruqi, Direktur Lembaga Studi Agama dan Pembangunan (LSAP) dan Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah. |