
| Jumat, 25 Oktober 2002 | Tajuk Rencana |
Merunut Kembali Menipisnya Perekat Persatuan- ''Rembuk Gayeng Kesatuan Bangsa'' di Semarang Rabu lalu memunculkan berbagai masalah yang menyebabkan bangsa ini kian carut-marut. Ancaman disintegrasi yang tak kunjung teratasi, konflik antarelite politik, bentrok antarkelompok masyarakat dan antarpenganut agama yang sudah membawa korban sangat besar, dan belakangan ledakan bom di Legian semakin menambah kemuraman wajah bangsa yang sudah sangat menderita ini. Bom itu seolah-olah telah menyebabkan bangsa kita semakin terpencil dari pergaulan dunia. Negara-negara sumber wisatawan melarang warganya berkunjung ke sini. Padahal turisme salah satu sumber devisa yang paling potensial. Jangan bicara lagi soal investor asing. Sebelum ada bom pun sudah banyak yang lari lantaran merasa tidak aman. - Salah satu alasan bangsa kita dipencilkan karena dinilai sebagai titik paling lemah di Asia Tenggara dalam menghadapi teroris. Kawasan Indonesia, berdasarkan versi Barat, adalah sarang teroris yang mengancam objek dan berbagai kepentingan dunia Barat. Dari hari ke hari teror dalam berbagai bentuk mengancam akan menghancurkan gedung kedutaan besar, pusat-pusat usaha, dan berbagai kepentingan AS lain. Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia merupakan untaian rantai sasaran teror tersebut. Hal itu jelas sekali kita baca dari berbagai informasi yang dilansir oleh sumber-sumber intelijen Barat, khususnya FBI. Hambali, pemuda dari Cianjur Jawa Barat, mendadak muncul menjadi tertuduh pelaku nomor satu dalam rangkaian teror tersebut setelah Umar Al-Faruk. - Keadaan itu semua telah menyebabkan bangsa kita dalam posisi kian sulit. Makin tercabik-cabik oleh isu teror dan teroris. Berbeda sekali dari keadaan di AS. Setelah teror pesawat terbang meluluhlantakkan gedung WTC di New York dan Pentagon di Washington, bangsa itu bersatu menghadapi siapa pun yang dipandang lawan. Terutama bangsa-bangsa atau negara yang dituduh mendukung atau melindungi teroris. Di sini, hingga beberapa hari setelah bencana meledak para elite politik justru ramai-ramai ngomong ngalor-ngidul. Omongan yang jelas sekali dilatarbelakangi kepentingan politik dan golongan. Para aparat intel di Legian konon terheran-heran saat mendengar pernyataan para pejabat dan politikus yang bertentangan dengan temuan di lapangan. - Terasa sekali bila bencana di Legian itu semakin mempertipis perekat yang ada dalam tubuh bangsa belakangan ini. Sejak reformasi bergulir, bangsa ini, khususnya masyarakat bawah, merasa kehilangan ketenangan, keamanan, dan kenyamanan hidup. Dari hari ke hari konflik antarelite politik sampai keroyokan di tingkat grassroot level terus berkecamuk. Ada saja yang menjadi pemicu. KH MA Sahal Mahfudh, Pimpinan Pondok Pesantren Maslakul Huda Pati yang juga Ketua Umum MUI, saat menjadi panelis dalam forum tersebut memberi gambaran dengan ungkapan sangat sederhana tetapi tajam. Yang paling dirasakan dewasa ini adalah ketidakamanan. Dalam bus ada bius, di hotel dan di jalan ada perampok. ''Bahkan di rumah pun orang merasa tidak aman.'' - Pada masa lalu bangsa kita bangga dengan Pancasila. Filsafat dan dasar negara kita telah dapat mempersatukan bangsa, menjadi sebuah kekuatan besar untuk mengusir penjajah. Pada masa kemerdekaan, menjadi pemersatu bangsa dalam menghadapi gangguan dari dalam dan luar negeri. Selanjutnya menjadi kekuatan pemersatu mengisi kemerdekaan dan pembangunan. Pada era reformasi, tak ada lagi yang menyebut-nyebut Pancasila. Bahkan ada kesan semacam fobia. Penyebabnya antara lain menyebutkan Pancasila mengingatkan kita kepada doktrin-doktrin pembungkam bangsa dari penguasa Orde Baru atas nama Pancasila. Pada era reformasi telah lahir doktrin baru. Yaitu demokrasi, kebebasan, dan keterbukaan dengan segala konsekuensi baik atau buruk. - Mengapa reformasi ditengarai dengan semakin menghilangnya perekat bangsa? Bahkan otonomi yang diharapkan menjadi modal pembaruan, malah direcoki konflik vertikal dan horizontal? Pemilihan bupati dan wali kota pun nyaris tak ada yang tidak dikotori oleh konflik kepentingan politik, golongan, dan duit. Tiga panelis lain, yaitu Dr Andi Mallarangeng, Drs Darmanto Jatman SU, dan Pangdam IV/Dipongoro Mayjen TNI Cornel Simbolon dengan sudut pandang masing-masing menyebutkan, diskriminasi dalam berbagai bidang adalah salah satu sumber konflik. Untuk keluar dari kemelut itu, Mbah Sahal Mahfudh mengingatkan adagium yang dahulu terus didengungkan: kebinekaan dalam ketunggalikaan. Untuk mewujudkan kembali adagium itu, para elite politik sebagai motor reformasi yang paling bertanggung jawab. |