logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 Oktober 2002 Surat Pembaca  
Line

Mohon Perhatian Kapolda dan Kapolres Kudus

Keponakan saya, Muhammad Sucipto (guru SD dan pembina pramuka), ketika berkemah di Lapangan Kedungdowo, Kaliwungu Kudus 13 Agustus lalu, dianiaya dua pemuda asal Dukuh Blimbing, Desa Sidorekso, Kudus.

Akibatnya dia dibawa ke rumah sakit karena luka di kepala dan bagian muka. Dua pemuda itu memaksa masuk ke garis pembatas yang dipasang di perkemahan, tetapi dicegah. Mereka marah dan menganiaya korban. Antara korban dan tersangka tidak saling kenal dan tidak pernah ada masalah.

Penganiayaan itu dilaporkan ke Polsek keesokan harinya. Anehnya, yang diperiksa hanya keponakan saya saja, sedangkan tersangka masih bebas. Keluarga tersangka pernah datang dua kali untuk meminta maaf. Bahkan mereka minta pengaduan ke polisi dicabut.

Tetapi oleh keluarga korban dijawab, kalau minta damai sebaiknya di kepolisian. Namun Polsek Kaliwungu nampaknya sangat pasif. Bahkan ketika berulangkali masalah itu ditanyakan, selalu dijawab petugas, masih diusut. Kami mohon perhatian Bapak Kapolda Jateng dan Kapolres Kudus. Kami masih yakin Bapak masih bisa menyelesaikan.

Drs HA Kusnadi MSi
Jl Kapas Tengah F 745 Semarang

***

Soal Paket Terlambat

Menindaklanjuti surat kami 20 Oktober mengenai paket terlambat kami beritahukan paket tersebut telah diterima tanggal 12 Oktober 2002 (walaupun terlambat). Pihak kantor pos telah menyelesaikan masalah tersebut.

Kami sarankan kepada kantor pos agar meningkatkan profesi. Misalnya bila ada keterlambatan, alangkah baiknya ada pemberitahuan kepada konsumen. Karena dengan informasi yang cepat dan jelas tidak menimbulkan praduga negatif yang tidak beralasan.

Ny Irawati NS
Jl Setiabudi 117 Semarang

***

Pengadaan Buku Fisika dan Biologi

Membaca berita proses lelang buku di Diknas Jateng, saya tergelitik untuk menanggapi. Ini semua terdorong oleh keprihatinan saya.Proses pelelangan pekerjaan pengadaan buku pelajaran Fisika dan Biologi anggaran 2002 terasa aneh. Dana Rp 14 miliar bukan jumlah yang sedikit dan itu uang rakyat. Pengadaan buku tersebut mereka jadikan kedok.

Penghamburan uang tersebut tentu merunut pola lama, menghabiskan dana proyek yang nyaris habis masa berlaku nya. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan di antaranya efektivitas penggunaan buku proyek.

Buku tersebut mungkin baru dapat digunakan mulai tahun ajaran 2003 - 2004. Padahal Depdiknas telah menelorkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai pengganti kurikulum '94 dan suplemen kurikulum '99.

Saya yakin buku tersebut masih mengacu pada kurikulum 1994. Dalam berita juga menyebutkan proses pelelangan dilakukan panitia dengan melibatkan oknum-oknum yang disebut sebagai konsorsium gelap.

Tampaknya Bapak-bapak kita yang menjadi atau ditunjuk sebagai panitia lelang, belum memahami arti Manajemen Berbasis Sekolah. Di satu sisi Diknas ingin memandirikan sekolah, di sisi lain menggunakan borgol untuk menelikung sekolah.

Usulan saya, uang Rp 14 miliar diserahkan langsung ke sekolah, mengacu pada sistem block grant. Komite Sekolah membuat usulan apa saja kebutuhannya. Atau dana ditabung sekolah untuk keperluan sewaktu-waktu.

Mungkin dana tersebut dapat digunakan sekolah untuk implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bila ada aturan dana harus digunakan untuk pengadaan buku, sebaiknya melibatkan tim independen dan pakar pendidikan sehingga penilaian atas buku, fair.

Ahmad
Kaseran Danawarih Balapulang Tegal

***

Tanggapan soal Jaket Standar

Saya menanggapi tulisan Sdr Jazuli Arif Zani, Mijen Semarang soal jaket standar yang dimuat 12 Oktober. Saya pikir usulan itu terlalu mengada-ada. Lha wong untuk beli helm standar saja masih banyak yang keberatan, apalagi ditambah jaket standar.

Kalau alasannya menjelang musim hujan, kenapa nggak sekalian saja usul jas hujan standar, kacamata/masker standar (untuk menghindari debu), alas kaki dan kaus tangan standar. Jadi saya kira usul jaket standar itu tidak masuk akal . God bless us, peace and love for our world.

Ristriyaningsih
Senjoyo I/26 Semarang

***

Plamongan Indah Mengecewakan

Saya membeli rumah di Plamongan Indah Blok C 38 No 6 sekitar September 1997 dengan kredit 6 tahun. Banyak hal yang mengecewakan, di antaranya banyak tempat bocor. Tetapi PT Kini Jaya Indah sebagai pengembang menjawab batas pengaduan 3 bulan setelah pembelian.

Setelah lewat 3 bulan maka semua urusan pembeli. Setelah hampir 2 tahun kusen-kusen jendela dan pintu keropos oleh rayap (saat promosi disebutkan bahan kusen anti-rayap). Ketika tembok retak-retak makin mengkhawatirkan, saya kembali mengeluh. Saya mendapat tanggapan cukup baik (setelah eyel-eyelan dulu) akhirnya ada karyawan yaitu Mbak Puji dan Mas Ponco datang.

Mereka menjanjikan akan mengirim tukang. Semua biaya menjadi tanggungan saya dan saya setuju. Tetapi ternyata tukang yang dijanjikan tak datang.

Mengecewakan, seolah-olah kita membeli rumah hanya untuk 3 bulan saja. Seharusnya pengembang lebih profesional menanggapi setiap keluhan, jangan melepas tanggung jawab. Mungkin ini kesalahan saya yang tidak bisa memilih tempat tinggal yang baik dan nyaman. Saya tidak mengada-ada, kalau tidak percaya silakan melihatnya.

Teguh Prakoso
Blok C 38 No 6 Semarang

***

PLN, Bagaimana Ini

Saya yakin akhir-akhir ini setiap orang membicarakan bayar listrik kok tambah mahal. Tapi saya yakin hanya sedikit yang tahu kalau ternyata PLN memang menaikkan tarif baik biaya beban maupun tarif per meter watt.

Kenaikan tersebut berlangsung secara berkala dari bulan Januari, April, Juli, Oktober 2002 dan akan berlanjut sampai pertengahan 2003. Saya yakin tidak banyak orang tahu perhitungan PLN yang memang dibuat njelimet.

Karena ngeri dengan tarif PLN ke depan, saya bermaksud menurunkan daya. Petugas loket memerintahkan pakai rekening lama saja atau difotokopi. Saya memang tidak membuat fotokopi, apa salahnya dengan rekening yang asli.

Seminggu kemudian saya minta karyawan saya ke PLN dengan membawa rekening bulan sebelumnya, tetapi kata petugas diminta membawa rekening terbaru untuk melihat pelunasannya. Saya langsung telepon ke pimpinan PLN Kebumen, apa betul turun daya harus dengan rekening terakhir.

Beliau malah tanya kepada bawahannya. Ini kan aneh, atasan dengan bawahan tidak ada komunikasi kerja yang baik. Bawahan membuat kebijakan yang tidak bersahabat dengan pelanggan, atasan tidak tahu. Saya harap PLN bisa membuat jawaban yang simpatik.

H Badrun Azhar
Jl MH Sarbini 147 Bumirejo Kebumen


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA