
| Selasa, 22 Oktober 2002 | Tajuk Rencana |
Musibah Hargittay Pelajaran bagi Kita- Rasa simpati yang mendalam kita sampaikan kepada Hargittay Emese (29). Turis dari Jerman itu kehilangan tas lantaran dijambret saat dalam perjalanan pulang ke penginapannya di Solo setelah melihat beberapa objek wisata. Tas itu berisi uang dan dua dokumen sangat berharga: paspor dan tiket pesawat untuk perjalanannya. Mereka yang biasa bepergian ke luar negeri tentu tahu betapa penting dua dokumen itu. Paspor bahkan dapat diibaratkan sebagai ''nyawa''. Banyak hal seperti kelancaran, keamanan, dan kenyamanan perjalanan sangat tergantung pada dokumen itu. Hal-hal yang sangat merepotkan terpaksa dihadapi Hargittay akibat kehilangan dokumen tersebut. Dia harus berurusan antara lain dengan polisi, Kantor Imigrasi, Kedubes Jerman, dan kantor penerbangan.
- Musibah yang dialami turis Jerman itu harus menjadi perhatian kita lantaran berbagai hal. Peristiwa itu terjadi di tengah keprihatinan nasional terutama di bidang turisme setelah ledakan bom di Legian, Bali. Pengalaman Hargittay dan temannya Gyongyeve Lacsa (28) di Solo itu bisa dipastikan semakin menambah buruk citra negara kita. Setidak-tidaknya citra Solo sebagai salah satu kota tujuan wisata terpenting setelah Bali. Simak pernyataan turis itu. Dia datang ke sana setelah diberitahu temannya, kota itu lebih baik dibandingkan dengan Yogya. Apa pun alasannya, tentu hanya temannya dan Hargittay yang mengetahui. Dia bahkan menyatakan setelah empat hari tinggal di kota itu mulai merasa senang dan betah. Dia telah melihat sejumlah objek wisata seperti keraton, Candi Prambahan, dan Candi Sukuh.
- Dia betah di Solo, rasanya juga bukan cuma lamis, bukan sekadar menjawab. Sebelumnya dia telah dua minggu di Bali. Dia pergi ke Solo sebelum bencana Legian terjadi. Setelah bom meledak dia tetap di kota itu adalah bukti dia benar-benar betah, aman, dan mulai menyukai Kota Budaya tersebut. Dia tidak bersama ratusan bahkan ribuan turis asing lain yang setelah bom meledak buru-buru terbang kembali ke negaranya. Paling kurang, tidak cepat-cepat ke luar negara ini. Mungkin ke Singapura, Bangkok, Hong Kong, Kualalumpur, atau daerah-daerah tujuan wisata lain di luar negara kita. Akibat kasus penjambretan, kesan baik Solo di hati Hargittay musnah. Kita memahami betapa trauma akan tertanam dalam di hatinya akibat tindak kejahatan tersebut. - Pengalaman sangat pahit yang dihadapi turis Jerman itu barangkali terlalu kecil dibandingkan dengan berbagai musibah yang menimpa turis asing lain di Solo, Yogya, Jakarta, Bali, dan kota-kota lain. Ada turis yang sampai dibunuh penjahat setelah dirampok. Akan tetapi turis lain toh tetap datang. Tidak ketakutan lantaran peristiwa itu. Namun kasus yang menimpa turis Jerman itu memiliki arti lain setelah peledakan bom di Legian. Kenyataannya memang tetap ada turis yang tidak ketakutan setelah malapetaka sangat dahsyat itu. Tetap melanjutkan niat untuk mengerti dan melihat sebanyak-banyaknya tentang negeri ini. Itulah yang sangat kita harapkan. Tetap banyak turis yang berkunjung. Tanpa itu entah berapa lama turisme di negeri kita akan sekarat.
- Problemnya, kita tak mungkin minta pejambret, pencopet, dan penjahat-penjahat lain untuk pilih-pilih bulu mengincar sasaran. Jika turis asing misalnya, jangan diincar. Justru turis asing lebih menarik lantaran dalam tasnya banyak duit, rupiah dan dolar. Kecuali itu, sebagai orang asing biasanya ada kesan kurang hati-hati dalam melindungi diri. Mungkin mereka terbiasa santai lantaran menduga keamanan di sini sama dengan di negaranya. Untuk mencegah musibah itu terulang, yang bisa kita lakukan adalah mengimbau aparat keamanan agar lebih waspada. Terutama di objek atau tempat-tempat yang biasanya banyak dikunjungi turis. Apalagi di Indonesia telah dibentuk polisi wisata. Mereka sangat bertanggung jawab dalam kasus itu.
- Kita turut bersyukur bila para polisi bisa membantu memecahkan masalah yang dihadapi Hargittay. Misalnya dengan menemukan paspor dan tiket pesawatnya. Jika hal itu terpecahkan, kesan baik akan pulih di hatinya. Turis Jerman itu pasti akan bercerita yang baik tentang Solo. Bisa jadi benar dia pada suatu saat akan mengajak rekan-rekan yang lain berkunjung ke sana. Kesan Solo lebih baik dari Yogya sangat menguntungkan. Tak hanya bagi kota itu saja, tetapi juga bagi seluruh Jateng. Atau setidak-tidaknya Solo tidak lebih jelek dari Yogya. Apalagi setelah ditambah jalur wisata baru Solo-Selo-Borobudur. Syaratnya satu, sebagaimana dikemukakan turis Jerman tersebut, keamanan harus betul-betul terjamin. Aman dari penjahat, terlebih lagi dari ledakan bom. |