logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 22 Oktober 2002 Sala  
Line

Pembangunan Kembali Pendapa Magangan

"Penuwun"-nya Pakai Kayu Jati Danalaya

KERATON - Meski doa wilujengan dengan sesaji pepak ageng baru dilaksanakan 26 Oktober ini, sejak Sabtu lalu pekerjaan awal pembangunan kembali Pendapa Magangan sudah dimulai.

Bangunan yang empat saka gurunya dibawa dari puing-puing Keraton Kartasura itu akan bermanfaat sebagai ajang pembelajaran bagi calon abdi dalem yang baru suwita dan yang sudah mendapat kekancingan.

''Sesuai dengan namanya, Magangan berarti tempat untuk magang. Dulu, pendapa ini memang berfungsi sebagai ruang pembelajaran bagi calon abdi dalem dan yang baru saja lulus setelah mendapat kekancingan. Misalnya saja, belajar mengenal seluruh bangunan, likungannya, cara berpakaian, dan adat istiadat,'' tutur Pengageng Parentah Keraton Surakarta Drs GPH Dipokusumo kepada Suara Merdeka, kemarin.

Ada tempat pembelajaran bagi abdi dalem itu, kata dia, karena keraton memiliki Sanggar Pambiwara yang selama ini memanfaatkan Bangsal Smarakata untuk kursus dan pendapa Sasana Mulya untuk wisuda.

Kalau Pendapa Magangan yang luasnya sekitar 400 m2 sudah jadi, akan sangat tepat untuk aktivitas seperti itu.

Selain itu, pendapa yang akan dibangun dengan bantuan dana Departemen Kimpraswil sekitar Rp 1 miliar itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain.

Misalnya mendukung kegiatan kepariwisataan dan perkantoran lembaga Pengageng Parentah Keraton. Namun tidak tertutup kemungkinan, ruang itu bisa dipertimbangkan untuk kegiatan lain yang menunjang keraton seperti sarasehan dan forum sejenisnya.

''Banyak yang bisa dilakukan di pendapa baru nanti. Kini sedang dipertimbangkan, tapi terutama untuk menyediakan ruang bagi para siswa yang belajar tata cara adat Jawa dan budaya keraton,'' jelas salah seorang putra dalem Sri Susuhunan Paku Buwono XII yang akrab disapa Gusti Dipo itu.

Tidak Cukup

Untuk berbagai kepentingan itu, katanya, diperlukan pembenahan lingkungan Pendapa Magangan. Namun, kelihatannya dana bantuan itu tidak cukup untuk mencakup keperluan tersebut.

Karena itu, dimungkinkan dicari sumber dana lain untuk melengkapinya. Selain rancang bangun yang harus sama dengan bentuk aslinya, pembangunan kembali yang akan dimulai seusai wilujengan tanggal 26 Oktober akan tetap mempertahankan batas luas ruang pendapa yang kini ditandai oleh ompak atau landasan tiang.

Namun, konstruksi atap tidak akan menggunakan genting sirap kayu jati tetapi semacam asbes dari bahan yang ringan dan murah serta awet.

''Karena dananya mepet, biasanya kami mengandalkan kayu dari Danalaya (Wonogiri). Tetapi tidak mungkin cukup sebatang kalau termasuk untuk membuat sirap. Nanti hanya untuk penuwun,'' lanjut suami Dra Febri Haryu Apsari itu.

Hingga kini sebenarnya tidak ada batasan jumlah tebang bila keraton membutuhkan kayu jati dari Hutan Danalaya di bagian timur Kabupaten Wonogiri itu.

Namun keraton punya pertimbangan lain untuk hanya menebang sebatang, karena kayu yang berusia lebih dari 100 tahun atau yang bergaris tengah lebih semeter sudah habis konon ikut dijarah beberapa waktu lalu.

''Karena persoalan dana itu pula, kemungkinan lantainya akan ditutup dengan keramik atau batu pualam berwarna abu-abu. Karena hanya sekitar Rp 1 miliar, tidak sampai Rp 5 miliar atau Rp 6 miliar. Tidak termasuk pula untuk dalem palereman Nganjras. Sebab, untuk di sana swadaya murni,'' tutur Gusti Dipo.(won-51c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA