
| Selasa, 22 Oktober 2002 | Sala |
''Untuk Peningkatan Layanan''SOROTAN soal kurang optimalnya pelayanan PDAM masih sering dilontarkan masyarakat. Namun perusahaan daerah itu justru berencana menaikkan tarif air bersihnya. Apa alasannya, berikut petikan penjelasan Direktur Teknik PDAM Surakarta, Ir Sumedi Wasisto SH. Kenapa tarif air akan dinaikkan, padahal layanan PDAM masih dikeluhkan? Daerah rawan keluhan air terutama di Solo bagian utara, seperti Mojosongo dan Kadipiro. Pasokan ke daerah itu dari sumur dalam, yang menggunakan tenaga listrik. Padahal listrik PLN di daerah itu sering mati mendadak, sehingga distribusi air macet. Sedangkan dari 10 sumur dalam di kawasan itu, baru 4 tempat yang dilengkapi genset. Soal keluhan pasokan air dari PDAM tidak jernih, bagaimana? Sumber air dari sumur dalam di Solo bagian utara itu juga mengandung
zat besi yang membuat air kekuning-kunginan dan mangaan sehingga
kehitam-hitaman. Untuk menetralisasi perlu instalasi tambahan yang namanya Instalasi Pengolahan Air (IPA). Padahal dari 18 sumur dalam yang kami kelola, baru lima lokasi yang dilengkapi IPA. Kenaikan tarif nanti sebagian diproyeksikan untuk menambah IPA yang pada tahun 2000, harga per unitnya sekitar Rp 600 juta. Juga diprogram untuk menambah genset berkapasitas 150 KVA guna menstabilkan aliran listrik dan tekanan distribusi air yang harganya pada tahun 2000 sekitar Rp 100 juta per unit. Soal kebocoran air seberapa besar? Dari produksi PDAM 1.773.954 m3 yang digunakan untuk melayani pelanggan 1.364.50 m3. Sisanya merupakan air yang tak masuk perhitungan, karena digunakan seperti untuk pemadam kebakaran, pencucian instalasi, kebocoran pipa dan pencurian air. Guna menekan pencurian air, kami membentuk tim yang akan aktif meneliti dengan pola door to door. Sekaligus mengecek tingkat pelayanan dan pelanggan yang memasang pompa langsung ke pipa PDAM untuk menyedot air. Penggunaan pompa langsung itu merugikan pelanggan sendiri, pelanggan sekitar dan PDAM. Makanya, untuk daerah beraliran normal akan dikenai sanksi denda sampai pemutusan sambungan. Bagaimana untuk pelayanan PDAM di luar pelanggan? Saat ini kami punya 515 hidran umum. Beberapa tempat, diambil masyarakat untuk dijual per jerigen. Karena menimbulkan kesan tak baik yakni ada kesan PDAM bekerja sama dengan penjual air, untuk menjual air lebih mahal, maka beberapa hidran seperti itu kami tutup. Ke depan kami akan kerja sama dengan kelurahan-kelurahan di Solo, karena ada masukan melalui forum Musyawarah Kelurahan Membangun (Muskelbang) agar PDAM menambah hidran yang dekat dengan kawasan miskin perkotaan. Rata-rata per kelurahan mengajukan dua hidran, jadi mungkin kami akan memasang sekitar 100 hidran lagi yang dekat jangkauannya dengan permukiman padat. (Setyo Wiyono-51) |