
| Selasa, 22 Oktober 2002 | Berita Utama |
Gus Solah Jenguk Ba'asyir
SOLO- Ustaz Abu Bakar Ba'asyir kemarin mendapat tamu istimewa, yakni Salahudin Wahid (Gus Solah), adik Gus Dur yang juga salah seorang ketua PBNU. Dia memang menyempatkan diri menjenguk untuk memberikan dukungan moral kepada ustaz yang sudah dikenalnya cukup lama itu. Selain Gus Solah, sempat dikabarkan Ustaz Ja'far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad juga akan menjenguk. Namun, ternyata sampai sore hari tidak ada kabarnya lagi. Ja'far batal menjenguk, karena dia masih ada keperluan di Jakarta. "Sebagai sesama muslim saya tentu wajib memberikan dukungan moral kepada Ustaz Ba'asyir, agar tabah menghadapi semua ini. Bagaimanapun semuanya atas kehendak Allah, sehingga harus dihadapi. Kita berdoa semoga kebenaran secepatnya muncul," papar Gus Solah kepada wartawan, usai bertemu sekitar 10 menit dengan Ba'asyir. Kepada dia, Ustaz Ba'asyir menyatakan akan segera mempraperadilankan polisi berkenaan dengan penangkapan dan penahanannya itu. Saat ini segala sesuatunya sudah diurus oleh pengacaranya dari Tim Pembela Muslim (TPM) di Jakarta, yang dikoordinasi oleh H Achmad Michdan SH dan Mahendratta SH. Keterangan Ba'asyir lewat Gus Solah itu dibenarkan Joko Trisno Widodo SH, salah seorang anggota TPM. "Ya. Saat ini kami sedang mempersiapkan di Jakarta. Sebab, yang akan dipraperadilankan adalah Mabes Polri, yang menerbitkan surat penangkapan dan penahanan tersebut," ujarnya. Gus Solah mengatakan, dia sempat menanyakan masalah bom di Bali dan berbagai peristiwa pengeboman lainnya di Tanah Air, yang dituduhkan kepada Ustaz Ba'asyir. Jawabannya, dia juga tidak pernah setuju dengan tindakan seperti itu, bahkan dia juga mengutuk tindakan biadab itu. "Jadi, beliau tidak mengakui itu, sebagaimana yang sudah dikemukakan sebelumnya. Saya hanya berharap sekarang ini pemerintah bisa menuntaskan berbagai kasus itu, tentu saja sesuai dengan langkah hukum yang benar. Pemerintah jangan mengambil tindakan yang justru menyalahi hukum," paparnya. Menjawab pertanyaan apakah penahanan Ustaz Ba'asyir itu langkah yang keliru, Gus Solah tidak berani melakukan penilaian. Dia mempersilakan pemerintah mengambil tindakan yang sesuai dengan hukum yang ada dan benar-benar berusaha mencari kebenaran. "Saya kira, biarkan aparat menjalankan tugasnya sesuai dengan hukum yang ada. Yang penting, jangan sampai ada preseden hukum hanya diarahkan kepada satu kelompok tertentu saja. Itu tidak benar," tandasnya. Apakah penangkapan Ba'asyir itu bisa jadi ditindaklanjuti dengan penangkapan tokoh Islam lainnya? Menjawab pertanyaan tu Gus Solah mengatakan, jika itu dilaksanakan, pemerintah melakukan tindakan yang salah. Tidak ada peraturan yang hanya dikhususkan pada satu kelompok tertentu. Tentang Perpu Antiterorisme yang sekarang ini sudah diundangkan, menurut Gus Solah, jangan sampai malah diterapkan seperti UU Subversif yang akhirnya merampas kebebasan individu seperti pada zaman Orba dulu. "Mestinya yang segera harus dibuat itu Perpu tentang Antikorupsi, karena situasinya sudah sangat mendesak untuk diterapkan di negara kita," katanya.
Tentang pernyataan Gus Dur yang juga menuduh Ustaz Ba'asyir sebagai teroris, Gus Solah tidak bersedia memberikan komentar. Begitu pula saat ditanya tentang sikap PB NU terhadap penahanan Ba'asyir, dia memilih diam. "Biar saja mereka berkomentar seperti itu. Itu hak mereka. Saya juga berkomentar atas nama pribadi, bukan atas nama PB NU." Minta Sate Kondisi Ustaz Ba'asyir kemarin malah sempat menurun dibandingkan dengan sehari sebelumnya. Saat Suara Merdeka memperoleh izin khusus untuk masuk ke kamar nomor 9 Ruang VIP Firdaus RS PKU Muhammadiyah Solo itu, terlihat kondisinya sudah mulai bagus. Dia sudah bisa salat dengan duduk, air mukanya juga sudah sumringah. Selang oksigen juga sudah dilepas. Menurut adik iparnya, Umar Baraja, kakaknya itu bahkan sempat memesan agar dibawakan sate kambing kesukaannya, supaya tensinya (tekanan darah) yang sempat drop kembali normal. Sebab, selama ini Ba'asyir memang menderita darah rendah, dan jika sedang kambuh, dia minta sate kambing. "Pagi ini saya bawakan sate kambing, tetapi dia tidak sempat makan. Malam harinya (Minggu malam), Ustaz mengeluh perutnya sakit, maag-nya kambuh. Mungkin saja karena tidak kuat dengan obat-obatan yang selama ini diberikan kepadanya," tuturnya. Tim dokter RS PKU kepada wartawan mengatakan, secara umum kondisi Ba'asyir memang terus meningkat. Namun, saat dilepas selang oksigennya, ternyata paru-paru dan jantungnya kembali terganggu. Karena itu, akhirnya diputuskan untuk kembali memasang selang oksigen. "Sejak masuk dulu, yang paling dikeluhkan memang gangguan sistem respirasi (pernapasan), yakni ada penurunan tekanan O2 (oksigen). Sebenarnya sudah ditangani dengan baik, namun saat dicoba dilepas, ternyata gangguan itu muncul lagi," papar tim dokter. Tim dokter terdiri atas dr Moh Fathony SpJP, dr Suradi SpPKM, dr Zainal Arifin Adnan SpPD, dan diketuai langsung Direktur RS PKU dr Rosnedy Ariswati mengatakan, sampai kemarin pihaknya terus berupaya agar Ustaz secepatnya bisa sembuh. Diperketat Aparat Kepolisian Surakarta melakukan aturan baru bagi pembesuk Ustaz Abu Bakar Ba'asyir yang kini dirawat di RS PKU Muhammadiyah, Solo. Mereka yang bukan termasuk golongan kerabat atau sanak saudara Ustaz, jika ingin membesuk harus mendapat izin aparat keamanan yang bersiaga di lokasi itu. Tindakan ini dilakukan semata-mata demi keselamatan serta kesehatan pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo itu. "Kami tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Kondisi keamanan Pak Ustaz wajib mendapat prioritas utama. Karena itu, bagi orang asing di luar keluarga yang ingin menjenguk dia, harus berkoordinasi dulu dengan kami," kata Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Hasyim Irianto SH, kemarin. Dia mengatakan tetap akan menunggu kesembuhan Ustaz Ba'ayir, sehingga sebelum mendapat izin dokter, aparat tidak akan membawanya ke luar. "Kami tetap akan menunggu kesembuhan Pak Ustaz. Keamanan beliau menjadi tanggung jawab kami," katanya. Dirikan Posko Koordinator Keamanan Laskar Santri Salman Alfarizi mengungkapkan, Ustaz Abu Bakar Ba'asyir tidak lagi milik warga Pondok Al-Mukmin, tetapi telah menjadi milik semua umat Islam. Karena itu, wajar jika mereka tidak menerima jika ustaznya dizalimi orang lain. "Sebagai ungkapan solidaritas itu, mereka melakukan penjagaan terhadap Pak Ustaz, yang saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah," tandasnya. Menurutnya, sangat tidak manusiawi jika aparat kepolisian memaksakan diri nekat membawa Ustaz Ba'asyir ke luar dari RS, sebelum sembuh total. "Kami yakin, Pak Ustaz akan bersedia diperiksa jika sudah sembuh. Tapi kalau masih sakit, justru kami yang tak rela. Karena itulah, wajar jika kemarin-kemarin kami sempat bersitegang dengan aparat keamanan," ujar Salman. Namun demikian, lanjutnya, para simpatisan yang datang secara sukarela ke RS PKU akhirnya bisa mengerti setelah mendapat jaminan Kapolwil Surakarta. Dia berjanji tidak akan menangkap Ustaz Abu Bakar Ba'asyir selagi sakit. "Kami yakin janji Kapolwil dapat dipegang." Setelah tidak diperbolehkan menjaga secara langsung di kamar Ustaz Ba'asyir, para santri membuka posko di salah satu ruangan di RS PKU Muhammadiyah. Di posko itulah mereka memantau kondisi Ustaz melalui beberapa santri yang memang masih diperbolehkan ikut menjaga di lingkungan kamar Ba'asyir dirawat. "Kami juga terus memantau perkembangan di lingkungan rumah sakit, termasuk kemungkinan jika polisi akan membawa paksa Ustaz. Kita selalu kontak dengan teman-teman di berbagai posko Laskar Islam lainnya, termasuk di Pondok Pesantren Ngruki," kata salah seorang santri yang sedang piket menjaga posko. Anggota laskar santri memang tidak lagi banyak terlihat di sekitar rumah sakit. Hanya beberapa saja yang membantu keluarga, membawakan berbagai kebutuhan Ustaz ataupun keluarga yang menunggui. Namun, mereka tetap menggunakan seragam khasnya, hitam-hitam bertulisan "Mapasa Kamufisa" atau seragam doreng biru muda juga bertulisan "Kasa Kamufisa". Penjagaan Ustaz Ba'asyir sendiri semakin diperketat usai dinyatakan ditahan. Wartawan tidak lagi diperbolehkan masuk sampai ke lorong menuju ruangan tempat merawat. Pers hanya boleh menunggu di halaman rumah sakit. Hanya pengunjung yang benar-benar akan membesuk kerabatnya yang sakit di rumah sakit itu yang masih diperbolehkan masuk. Itu pun setelah dipelototi petugas di depan pintu masuk ke lorong rumah sakit. Pengacara Muslim Berkaitan dengan kasus itu, Komunitas Pengacara Muslim Surakarta dalam pernyataan sikapnya kemarin menyatakan mendukung upaya legislasi untuk memberantas dan mencegah terorisme. Kesembilam pengacara tersebut adalah H Muhammad Taufiq SH MH, Farid Hasbie SH, Zainal Abidin SH, Muhammad Saifudin SH, Tety Indriastuti SH, Budi Siswanto SH, Abdul Basyir SH, Gede Sukadewa Putra SH, dan Amir Arkhanudin SH. Mereka mengingatkan pemerintah agar tidak bertindak gegabah. Artinya, pelaku yang ditangkap dan diadili adalah benar- benar pelaku teror. "Bukan sebaliknya, mencari-cari dalih pembenar sebagaimana digunakan menangkap Ustaz Abu Bakar Ba'asyir," ujar salah seorang anggota komunitas, M Taufiq SH MH. (an,san,G10,ae,G11-16k) | |||||