logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 22 Oktober 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Peserta KB Lestari 25 Tahun Minta Penghargaan

  • Menyesal Telanjur ''Dikebiri'', Anak Tinggal Semata Wayang

PADA tahun 1970-an sosialisasi program keluarga berencana (KB) memang luar biasa besar. Tidak hanya di kota-kota, pelosok desa pun tidak lepas dari rambahan program KB. Jenis alat kontrasepsi pun bermacam-macam. Ada suntik, pil, IUD atau spiral, dan steril. Bahkan dalam perkembangan terakhir digalakkan pula program KB vasektomi.

Tahun 1977 sosialisasi program itu berlangsung di sejumlah desa di Demak. Antara lain di Desa Cangkring B, Karanganyar. Tentu saja setelah mendapat informasi tentang KB jenis itu, sejumlah warga dengan sadar menjadi peserta program.

Salah satunya Zamachsari (52), penduduk RT 12 RW 3 Desa Cangkring, Karanganyar, Demak. Bersama ketujuh rekan dia mengikuti vasektomi ikat. ''Saat itu ada dua jenis vasektomi, yakni diikat dan dipotong. Yang diikat katanya bisa di lepas lagi. Saya memilih diikat,'' kata dia.

Seusai operasi KB vasektomi, dia tak merasakan dampak yang aneh. Saat itu dia hanya diberi ongkos pengganti Rp 1.500. Sebelum KB dia dikaruniai tiga orang anak. Yakni, Sukoco, Mustofa, dan Siti Zaenab.

Namun takdir menentukan lain. Sukoco dan Mustofa meninggal dunia saat masih anak-anak karena sakit. Kini tinggal seorang putrinya, Siti Zaenab (20), yang bekerja di sebuah perusahaan di Kudus.

Karena tinggal satu anak, dia bersama sang istri, Sarminah (40), ingin menambah seorang anak lagi.

Dengan tujuan, tidak kesepian di rumah. Namun karena sudah ''terkebiri', dia tak bisa memenuhi keinginan itu. Hingga kini hal itu masih mengganjal di hatinya.

''Katanya vasektomi saya ini bisa dilepas. Saya ingin KB ini dilepas saja. Anak tinggal satu. Karena itu saya ingin punya anak lagi. Tapi setelah saya tanyakan kok katanya tidak bisa. Mungkin sudah menyatu dengan daging ya,'' kata dia, polos.

Penghargaan

Kesedihan itu dia pendam dalam hati hingga berusia 52 tahun sekarang ini. Jadi dia sudah mengikuti KB lestari 25 tahun. Suatu hari dia mendengar informasi ada peserta KB di daerah lain mendapat penghargaan berupa uang Rp 2 juta. Dia pun mencari tahu soal penghargaan itu. Toh sampai kini buntu.

''Apakah benar ada penghargaan Rp 2 juta? Saya sudah 25 tahun kok tidak mendapat penghargaan dari KB? Kosong,'' keluh dia.

Hal itu diamini warga lain, Suyoto (50). Kalau benar ada penghargaan, mereka sangat mengharapkan bisa menerima sekadar untuk menambal kebutuhan hidup. ''Yang penting kami dihargai dengan bantuan Rp 2 juta. Katanya ada penghargaan kok ternyata kosong.''

Sekretaris Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) Demak Puguh Ariyadi didampingi Kepala Bidang Pengendalian Keluarga Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Drs Haryanto membatah ada isu pemberian penghargaan berupa uang Rp 2 juta bagi peserta KB lestari jenis vasektomi. Penghargaan itu hanya diberikan ke peserta lima tahun, 10 tahun, dan 16 tahun.

''Peserta KB lima tahun mendapat dari Gubernur, 10 tahun dari menteri, dan 16 tahun dari Presiden. Barangkali yang dia maksudkan itu,'' kata Puguh.

Setiap tahun, kata ia, BKKBN selalu mengirimkan peserta KB untuk diajukan sebagai penerima penghargaan. Tentu saja melalui seleksi intensif, misalnya jumlah keluarga, jenis KB yang digunakan, keharmonisan keluarga, dan usia perkawinan.

Para peserta mendapat beberapa keuntungan, antara lain memperoleh kemudahan-kemudahan menambah penghasilan. Di samping itu, ada penghargaan beasiswa bagi pendidikan anak-anak peserta KB dari BKKBN.

Rekanalisasi

Rekanalisasi (pencabutan alat kontrasepsi-Red), termasuk vasektomi yang dialami Zamachsari, kata dia, bisa dilakukan. Namun karena kasus itu cukup lama, pelepasan alat kontrasepsi menemui kesulitan.

''Itu pun harus dilakukan dokter khusus dan menelan biaya mahal. Keberhasilan pemasangan kontrasepsi diperkirakan 99% berhasil. Tapi kalau rekanalisasi, saya belum bisa memastikan, tergantung pada kondisi.''

Dia mengatakan, rekanalisasi pernah dilakukan beberapa tahun lalu. Itu dilakukan seorang peserta KB vasektomi warga Desa Karangasem, Sayung, Demak. ''Saat itu kami berhasil dan dia bisa punya anak lagi.'' (Karyadi-71g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA