
| Selasa, 22 Oktober 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
Baritan
Bocah Ngarit Aja Nganti BubarBARITAN adalah upacara tradisional meminta hujan kepada Tuhan. Arti kata itu adalah bocah ngarit aja nganti bubar (anak merumput jangan sampai bubar). Harapan itu tinggal harapan, karena bocah ngarit memang telah bubar. Kemarau panjang telah membuat rumput menjadi kering. Untuk memohon hujan, sebagian warga Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, melaksanakan upacara itu, Jumat lalu. Kegiatan dilaksanakan di tengah sawah yang kering kerontang, mulai pukul 10.00 sampai 16.00. Selain secara tradisi, warga desa itu juga memohon hujan dengan cara Islam yakni salat Istiqa di sawah itu pada pukul 08.00-10.00. Imam salat adalah Madkhaerun, khotib A Jamingun dan diikuti sekitar 200 orang. Acara ini dihadiri Sekda Banyumas Drs H Bambang Priyono, Kabag Sosial Budi Pramono SSos serta Muspika . ''Kegiatan mohon hujan ini kami laksanakan dengan dua cara, agama dan tradisi,'' kata Siswojo, panitia penyelenggara didampingi Kepala Desa Tipar Kidul Handoyo SE. Dia adalah anggota Komisi B DPsRD Banyumas, yang tinggal di desa yang kekeringan itu. Siswojo menuturkan, sudah lama sekali upacara adat baritan tak dilakukan masyarakat. Seingat dia, terakhir kali diadakan 20 tahun lalu, saat kemarau panjang. ''Acara ini sekalian untuk memohon hujan, juga sesuai UU No 22/1999 tentang otonomi daerah agar tiap daerah melestarikan kebudayaannya.'' Musim kemarau panjang ini, jelas Siswojo, warga desa merasakan akibatnya. Para peternak menjerit karena kesulitan mencari rumput, perajin gula kelapa menderita karena produksi air nira turun. ''Ada yang ngarit (mencari rumput) sampai ke Cilacap.'' Dikalungi Dadung Upacara baritan adalah sebuah pementasan kesenian lengger Banyumasan di tengah sawah. Grup lengger yang ditampilkan adalah Eko Budoyo dari Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, Banyumas pimpinan Tarmiadji. Acara itu diwiwiti (dibuka) pamong budaya Kecamatan Ajibarang Jono. Dia mengatakan tiap daerah memiliki budaya sendiri dalam meminta sesuatu atau doa kepada Tuhan. Demikian pula adat dan tradisi punya cara sendiri.s Acara dimulai dengan pengalungan dadung (tali pengikat hewan ternak) kepada tiga bocah pangon, yaitu Wartam, Toyo dan Kitam. Setelah itu bocah pangon dan Jono menari dengan lengger Lilis , Turminah dan Warsiah. Pengalungan dadung dimaksud agar para pencari rumput bisa bekerja lagi. Hal itu bisa terlaksana bila hujan sudah turun yang membuat rumput tumbuh subur. Nyanyian yang dibawakan dalam acara pembukaan itu adalah gambir sawit, pangkur, eling-eling Banyumasan, lelayon dan sinom. (Budi Hartono-68) |